SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Sejarah Kepurbakalaan Mirip Limbah

SAAT sedang berolahraga pada Senin pagi (11/9/2017) di Banda Aceh, saya terpaku melihat baliho besar

Sejarah Kepurbakalaan Mirip Limbah
MAPESA
Tim Mapesa ketika melakukan survei terhadap nisan dan makam masa Kerajaan Aceh, di lokasi penggalian salah satu kolam IPAL, 11 Februari 2017. 

Oleh Teuku Kemal Fasya

SAAT sedang berolahraga pada Senin pagi (11/9/2017) di Banda Aceh, saya terpaku melihat baliho besar di Simpang Lima, yang mengumumkan kegiatan Hari Purbakala Aceh yang dilaksanakan pada 13-16 September 2017.

Batin saya, wah paten kali kegiatan ini. Jarang-jarang Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh memiliki ide menerobos hal-hal pakem. Lembaga pemerintah cenderung copy paste dengan kegiatan seremonial yang sudah pernah dibuat dari tahun ke tahun. Acara kebudayaan mirip patung polisi. Dilihat dengan ujung mata, lalu dilupakan.

Kita kerap duduk mengikuti pembukaan acara kebudayaan, sehingga membuat kaki kesemutan dan telinga berdengung mendengar pidato pejabat yang lebih panjang dibandingkan pertunjukan kesenian atau eksposisi kebudayaannya. Isinya kerap kali hanya memuja-muji pejabat satu dengan pajabat lain. Giliran pejabat lain akan memuji lagi pejabat yang memujinya. Jadilah kegiatan kosong melompong, tanpa nilai kultural. Betul-betul acara seremonial yang bisa bikin pusing dan perut mual.

Ini tidak. Acara ini bagi saya agak genuine. Kalau punya waktu senggang di Banda Aceh, saya akan senang mengapresiasi acara kebudayaan seperti ini yang jarang terekspos, yaitu melihat dimensi kepurbakalaan Aceh; sisi arkeologis yang akan menunjukkan kualitas antropologis masyarakat sebuah tempat.

Di mana-mana di negara maju, dimensi arkeologis menjadi hal yang dipelihara dan dipromosikan hingga setinggi-tingginya, kalau bisa hingga Sidratul Muntaha. Mata kegiatannya pun menarik. Ada Pameran Kepurbakalaan, FGD di Gampong Pande, Seminar Sejarah, Lomba Bercerita tingkat SMA, dan lain-lain. Pokoknya fun and quite smart.

Namun selaksa ingatan saya bertemu dengan pemberitaan yang baru-baru saja dirilis. Gampong Pande dan Gampong Jawa, Banda Aceh, dua kampung tua bekas kerajaan dan peradaban Aceh, akan dijadikan tempat untuk Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) (aceh.tribunnews.com, 28/8/2017).

Cagar budaya
Sebenarnya, beberapa gampong yang berada di ujung muara Krueng Aceh itu seperti Gampong Keudah, Gampong Peulanggahan, Gampong Jawa, dan Gampong Pande adalah daerah yang sudah seharusnya dimasukkan dalam wilayah cagar budaya dan moratorium pembangunan. Bukan hanya karena keberadaan situs-situs purbakala ada di situ, termasuk sejarah animis-hinduisme sebelum Islam, tetapi juga makam-makam kerajaan dan ulama-ulama besar Aceh.

Bisa dikatakan daerah itu arsip hidup dan jejak-jejak arkeologis peradaban Aceh. Seperti dikatakan oleh antropolog Amerika Serikat, Clyde Kluckhohn, kebudayaan bukan saja bicara tentang cara berpikir, merasa, dan mempercayai (a way of thinking, feeling, and believing) atau sejumlah pola yang berhubungan dengan problem kekinian (a set of standardized orientations to recurrent problems), tapi kebudayaan juga memerhatikan endapan sejarah yang dimiliki sebuah masyarakat (a precipitate of history).

Yang dimaksudkan dengan endapan adalah kerak atau lekatan yang memang betul-betul mengendap: protein yang lama tersimpan di dalam tubuh kebudayaan yang harusnya diolah dengan benar agar menjadi energi kegemilangan di era sekarang. Kebudayaan yang sehat biasanya diikuti banyak instrumen. Di antaranya, suburnya pusat pengkajian dan apresiasi atas lorong sejarah dan archaea kebudayaan yang mereka miliki. Salah satu yang simpel, masyarakat baru dikatakan sehat secara kebudayaan jika menghargai museum, pusat kepurbakalaan, dan narasi sejarah.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help