SerambiIndonesia/

Mobil Konsultan Diseret Arus, 1 Hilang 6 Selamat

Mobil rombongan konsultan PT Brantas, Ford Everest BL 717 IM terbalik dan diseret arus saat

Mobil Konsultan Diseret Arus, 1 Hilang 6 Selamat
MOBIL Ford Everest yang ditumpangi konsultan PT Brantas berhasil diangkat dengan alat berat setelah terbalik saat menyeberangi Krueng Keureutoe di kawasan waduk raksasa Desa Blang Pante, Kecamatan Paya Bakong, Aceh Utara, Rabu (13/9). 

LHOKSUKON - Mobil rombongan konsultan PT Brantas, Ford Everest BL 717 IM terbalik dan diseret arus saat menyeberangi Krueng Keureuto yang berada dalam areal waduk raksasa, kawasan Blang Pante, Kecamatan Paya Bakong, Aceh Utara, Rabu (13/9) sekitar pukul 11.30 WIB. Musibah itu menyebabkan seorang hilang dan enam lainnya selamat meski dua di antaranya pingsan.

Korban yang hilang bernama Abdullah Kamal (60) konsultan asal Bogor. Sedangkan yang selamat, Zulfikar (48) warga Desa Gue Gajah, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar, Panji Adila Warman (45) konsultan asal Binjai, Sumatera Utara, Muhajir (32) warga Desa Reukih Dayah, Kecamatan Indrapuri, Aceh Besar, Asmizardi (44) warga Lampoh Daya, Kecamatan Jaya Baru, Banda Aceh, Reza Azamuddin (29) warga Desa Ceurih, Kecamatan Ulee Kareng, Banda Aceh dan T Faisal Razi (29) warga Desa Ara Tonton, Kecamatan Pirak Timu, Aceh Utara. Zulfikar dan Panji Adila sempat pingsan akibat kejadian itu.

Informasi yang diperoleh Serambi, kejadian berawal ketika mobil yang disopiri Zulfikar sedang dalam perjalanan pulang ke basecamp setelah mengawasi pelaksanaan proyek pembangunan waduk. Mereka masih mengenakan pakaian dan atribut kerja.

Mobil menyeberangi sungai pada jalur yang disediakan dengan timbunan batu. Tiba-tiba saat sampai di tengah sungai, sopir mengambil jalan agak ke kiri atau keluar jalur. “Karena dalam, mobil terbalik dan terseret arus,” ujar Kapolres Aceh Utara, AKBP Ahmad Untung Surianata melalui Kapolsek Paya Bakong Iptu Ibrahim kepada Serambi, kemarin.

Disebutkan, tujuh konsultan yang berada dalam mobil tersebut langsung keluar kemudian berupaya untuk menyelamatkan diri dengan melawan derasnya arus. Setelah dibantu para pekerja yang berada di lokasi kejadian, enam di antaranya berhasil diselamatkan. Namun, Abdullah Kamal gagal diselamatkan. Seorang rekannya sudah berupaya membantu dengan menarik helm kerja, tiba-tiba tali pengaman helm terlepas sehingga konsultan tersebut tenggelam dan hilang.

Dua konsultan, Zulfikar dan Panji pingsan sehingga harus dibawa ke Puskesmas Paya Bakong untuk mendapat pertolongan medis dan selanjutnya harus dirujuk ke RS Bunga Melati Lhokseumawe. Sedangkan Reza Azamuddin yang mengeluh sakit di dada, tadi malam juga dirujuk ke RS Bunga Melati.

Proses pencarian korban hilang terus dilakukan dengan melibatkan aparat kepolisian, TNI, SAR, dan para pekerja. Namun hingga sore kemarin korban belum ditemukan. Sedangkan mobil Ford Everest yang terseret arus sekitar 10 meter berhasil dievakuasi dengan menggunakan alat berat.

Sekretaris Satgas SAR Aceh Utara Hasbullah Ali kepada Serambi menyebutkan, pihaknya mendapat informasi sekira pukul 13.00 WIB dan tiba di lokasi pukul 15.00 WIB. “Pencarian melibatkan 32 petugas termasuk dari Basarnas, Satgas SAR Aceh Utara, relawan RAPI, dan tim BPBD,” ujar Hasbullah.

Saat magrib, pencarian dihentikan karena selain arus deras juga kesulitan penyelaman pada malam hari. Pencarian akan dilanjutkan hari ini, Kamis (14/9) dengan menambah jumlah anggota tim.

Di kalangan relawan yang melakukan pencarian sempat merebak informasi bahwa korban terseret arus adalah anggota RAPI asal Kota Banda Aceh. Informasi ini berkembang karena di kaca belakang mobil Ford Everest tersebut tertempel logo RAPI lengkap dengan callsign (nama panggilan) JZ01BPC.

Ketua RAPI Aceh, Nasir Nurdin/JZ01BNN memastikan kepada relawannya di lapangan bahwa korban yang bernama Abdullah Kamal bukan anggota RAPI meski menggunakan mobil berlogo dan callsign RAPI.

Menurut penelusuran Ketua RAPI Aceh, mobil Ford Everest BL 717 IM tersebut sebelumnya memang milik anggota RAPI bernama Munshulul Amanah dengan callsign JZ01BCP sebagaimana tertempel di kaca belakang. Namun, Munshulul Amanah telah menjual mobil tersebut kepada staf PT Global yang selanjutnya disewakan kepada tim konsultan dari PT Brantas hingga terjadi musibah. “Mohon maaf karena sampai mobil itu beralih tangan, logo dan callsign RAPI belum dibuka,” kata Nasir mengutip penjelasan Munshulul Amanah.(jaf)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help