SerambiIndonesia/

Citizen Reporter

Nyamannya Menjadi Muslim di Songkhla

SONGKHLA merupakan salah satu provinsi di Thailand Selatan. Di provinsi ini terdapat salah satu universitas

Nyamannya Menjadi Muslim di Songkhla

OLEH NADIA ISNAINI S Farm, Mahasiswi Internasional Program Master Bidang Cosmetic Science di Prince of Songkla University, melaporkan dari Songkhla, Thailand

SONGKHLA merupakan salah satu provinsi di Thailand Selatan. Di provinsi ini terdapat salah satu universitas terbaik Thailand yang menjadi tujuan banyak mahasiswa Indonesia, terutama Aceh, yakni Prince of Songkla University.

Jadi, jangan heran jika sangat mudah menemukan warga Indonesia di provinsi ini. Hal ini juga sangat memudahkan kami, para perantau Indonesia, untuk mendapatkan suasana ‘rumah’ pada hari-hari besar Islam, misalnya, pada Hari Raya Idul Fitri maupun Idul Adha yang baru saja berlalu.

Meski Islam merupakan agama minoritas di sini, namun karena tingginya toleransi antarumat beragama ada di Thailand, sehingga Hari Raya Idul Adha pun ikut menjadi hari libur nasional di Negeri Gajah Putih ini.

Toleransi yang tinggi ini membuat warga muslim, termasuk muslim pendatang, nyaman berada di Songkhla, Thailand. Aktivitas mereka menjalankan ibadahnya tak dihambat dan diusik. Hal ini tentunya sangat berbeda dengan apa yang akhir-akhir ini dialami oleh komunitas muslim Rohingya di wilayah Arkhine, Myanmar. Kisah setragis yang dialami muslim Rohingya, alhamdulillah, tak sampai terjadi di Negeri Thai ini.

Sambutan dan kehangatan terhadap warga muslim dapat pula kami rasakan dengan mudah di Konsulat Republik Indonesia di Songkhla. Lagi-lagi tanpa gangguan, tanpa usikan. Toleransi antarumat beragama di sini berlangsung adem dalam keharmonisan.

Alhamdulillah, tahun pertama di sini, saya masih merasakan hangatnya shalat Ied berjamaah dengan takbiran merdu dari jamaah. Hal inilah maksud dari perkataan orang tua terdahulu “Merantaulah kamu, supaya kamu tahu apa artinya rumah”. Nah, hal-hal seperti inilah yang membuat home sick (rindu terhadap kampung halaman) semakin merajalela.

Apalagi dengan adat makmeugang yang sama sekali tak ditemukan di mana pun selain di bumi Aceh tercinta. Bagi kami yang sedang berada di Thailand, meugang hanya dirayakan dengan makan siang bersama di kantin kampus dan lauknya kami pilih yang serbadaging.

Setelah melakukan shalat Ied berjamaah dan halalbihalal, Konsulat Republik Indonesia di Songkhla menjamu kami dengan hidangan lontong lengkap dengan opor ayamnya. Sungguh membuat kami merasakan indahnya rumah baru kami di Songkhla.

Tak hanya itu, kami juga diajak berkunjung ke Tang Kuan Hill, salah satu kuil yang dijadikan tempat rekreasi. Kuil ini memiliki 1.000 anak tangga yang bisa dilalui menggunakan lift ± 3 menit. Kita bisa melihat sisi Kota Songkhla dan Laut Samila dari puncak Tang Kuan Hill.

Mengunjungi Tang Kuan Hill bukanlah akhir perjalanan Idul Adha kami. Setelah itu kami kembali ke Konsulat RI dan melakukan ibadah shalat Jumat berjamaah. Lagi-lagi setelahnya kami dijamu dengan makanan khas Indonesia yang sangat dirindukan di sini, yaitu bakso. Sungguh, akhir yang sangat menyenangkan dan penuh dengan kehangatan. Semoga kehangatan ini juga dirasakan oleh seluruh masyarakat muslim Indonesia yang sedang merantau di seluruh penjuru dunia.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help