SerambiIndonesia/

Salam

Pak Kapolsek Membayar Warga Merambah Hutan

Inspektur Satu (Iptu) WA yang menjabat Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Beutong, Nagan Raya

Pak Kapolsek Membayar Warga Merambah Hutan
SERAMBINEWS.COM/DEDI ISKANDAR
Barang bukti kayu ilegal yang diamankan beserta seorang Kapolsek di Nagan Raya, Selasa (12/9/2017). 

Inspektur Satu (Iptu) WA yang menjabat Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Beutong, Nagan Raya, dua hari lalu ditangkap dan diperiksa sebagai terduga perambah hutan lindung. Kapolres Nagan Raya, AKBP Mirwazi mengatakan, penangkapan bawahannya itu bermula dari laporan masyarakat yang menginformasikan ada oknum polisi merambah hutan lindung di kawasan Beutong.

Mendapat masukan itu, AKBP Mirwazi langsung meminpin operasi dan berhasil menyita sejumlah barang bukti dan disusul penangkapan Iptu WA yang baru dua pekan menjabat sebagai Kapolsek Beutong.

Tim yang dipimpin Kapolres ini menemukan sebuah tempat penyimpanan kayu di kawasan Kabu Tunong, Kecamatan Seunagan Timur. Ada 295 batang kayu seumantok, meranti, serta sejumlah kayu berkualitas tinggi lainnya dengan nilai total Rp 100 juta lebih. Hasil pengecekan terungkap kayu itu milik Iptu WA yang sebelumnya Kapolsek Seunagan Timur. “Saya tidak menyangka anak buah saya terlibat illegal logging, dia pasti saya tindak tegas dan diproses hukum,” tegas Mirwazi.

Kapolres Nagan Raya menyatakan bahwa Iptu WA sudah mengakui bahwa kayu itu dirambahnya dari hutan lindung kawasan Beutong.

Dalam menjalankan aksinya, Iptu WA mengupah sejumlah warga untuk menebang kayu dengan biaya per kubik Rp 3 juta. Untuk mengangkut kayu ilegal tersebut ke tempat penumpukan di sebuah rumah di Seunagan Timur, ia juga mengupah warga.

Hal pertama yang ingin kita sampaikan adalah salut buat Pak Kapolres. Semoga sikap tegas ini juga dipunyai oleh pejabat-pejabat penegak hukum lainnya untuk mau dan berani menindak oknum bawahannya yang diam-diam melakukan kejahatan secara sengaja serta sangat terencana.

Sesungguhnya, masyarakat sudah tahu bahwa Iptu WA itu nahas saja kali ini. Sedangkan oknum-oknum aparat lainnya yang juga sering aktif mencari nafkah sampingan secara terlarang bernasib baik belum “kena batunya.”

Kebiasaan “pagar makan tanaman” ini sebetulnya sudah sejak lama terjadi. Di masa perusahaan-perusahaan HPH masih berjaya di Aceh, tak terhitung jumlah oknum aparat yang ikut bermain kayu. Ada yang main di hutan, di jalan, di panglong-panglong, dan di laut.

Demikian pula ketika judi buntut masih merajalela di Bumi Serambi Mekkah, banyak oknum aparat yang menjadi pengedarnya. Persis seperti banyaknya oknum aparat yang kini terseret dalam jaringan bisnis narkoba.

Yang menyakitkan, keterlibatan oknum-oknum aparat bermoral buruk itulah yang menyebabkan pemberantasan kejahatan perjudian, illegal loging, bisnis narkoba, dan lainnya sering terhambat bahkan tidak berhasil. Razia-razia atau operasi pemberantasan kejahatan sering “bocor” karena adanya oknum aparat yang menjadi bagian dari kejahatan itu.

Oleh sebab itulah, di era yang terus berubah ini, pemberantasan kejahatan yang melibatkan oknum-oknum aparat penegak hukum, memang butuh keberanian dan dengan cara-cara yang tak biasa.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help