SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

Pilihan Bahasa dalam Himne Aceh

ADA tiga elemen simbolik titisan MoU Helsinki yang telah tertuang dalam UU No.11 Tahun 2006

Pilihan Bahasa dalam Himne Aceh

Oleh Kismullah Abdul Muthalib

ADA tiga elemen simbolik titisan MoU Helsinki yang telah tertuang dalam UU No.11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA), yaitu bendera, lambang, dan himne. Ketiga elemen simbolik ini tidak diperuntukkan sebagai instrumen untuk unjuk kedaulatan daerah Aceh, melainkan sebagai sarana untuk merepresentasikan keistimewaan dan kekhususan Aceh sebagaimana dijelaskan secara ekplisit dalam UU ini.

Sedangkan untuk wujud dari ketiga elemen simbolik Aceh tersebut UUPA mengamanahkan untuk dituangkan dalam masing-masing qanun. Khusus untuk himne, misalnya, pihak DPRA sudah beberapa kali menyelenggarakan diskusi dan FGD (Focus Group Discussion), guna menjaring aspirasi dari berbagai pihak yang berkompeten dan mewakili masyarakat, baik seniman, akademisi, politisi, pemangku adat dan lain-lain. Malah terdengar kabar akan ada juga sayembara mencipta himne daerah Aceh sebagai bagian dari proses menyiapkan rancangan qanun tersebut.

Proses dan dialektika seperti ini tentunya merupakan jalan yang sangat maslahah guna menjaring dan mendorong partisipasi publik untuk merancang sesuatu sebesar himne ini, yang akan menyentuh emosi dan rasa kepemilikan semua elemen masyarakat yang ada di Aceh terhadap daerah dan provinsinya, sebagaimana disinyalir oleh Ketua Banleg DPRA Abdullah Saleh SH yang memimpin FGD terakhir terkait himne ini.

Makna himne itu sendiri secara awam bisa kita pahami sebagai lagu puja-puji terhadap Negara dan Tanah Air, dan bila dikontekstualisasikan dalam himne amanah UUPA dapat diartikan sebagai lagu puja-puji terhadap Aceh sebagai sebuah daerah dalam wilayah NKRI yang bisa mengikat emosional semua elemen masyarakat yang ada di Aceh. Persoalan pertama yang muncul bisa dibayangkan adalah memilih bahasa pengisi lirik yang akan dipadu musik yang akan diciptakan nanti.

Hal ini mengingat Aceh sebagai sebuah provinsi dihuni oleh masyarakat yang berlatar belakang etnis serta bahasa ibu yang berbeda. Walaupun dari segi jumlah etnis Aceh merupakan mayoritas, ini tentu tidak serta-merta menjadikan bahasa Aceh sebagai bahasa pilihan lirik himne, kecuali ada alasan kuat dan dapat diterima menyeluruh untuk menjustifikasi alasan pemilihan tersebut.

Ada tiga opsi
Tanpa harus berpikir panjang, paling tidak ada tiga opsi yang langsung menjelma dan berpotensi untuk dijadikan sebagai pilihan bahasa pengisi lirik himne. Pertama, menggunakan bahasa Indonesia yang merupakan bahasa resmi negara. Dengan menggunakan bahasa Indonesia bisa dianggap potensi konflik dengan Jakarta bisa tereduksi dan teredam, karena jelas simbol nasionalisme keindonesiaannya langsung tampak di situ. Potensi dakwa-dakwi antaretnis di Aceh yang memiliki bahasa sendiri pun tidak perlu menjadi kekhawatiran lagi.

Kedua, menggunakan bahasa Aceh sebagai bahasa etnis mayoritas yang ada di Provinsi Aceh. Menggunakan basa Aceh sebagai bahasa pengisi lirik dengan sendirinya kekhususan dan keistimewaan (menggunakan bahasa yang ada di UUPA) Aceh langsung tampil di level paling simbolik, yaitu bahasa. Ketiga, bahasa Indonesia, bahasa Aceh, dan bahasa-bahasa dari semua etnis yang ada di Provinsi Aceh mendapatkan tempat yang proporsional dalam mengisi lirik himne ini.

Dan, ketiga, bagi penulis pilihan ketiga ini merupakan pilihan yang paling bijak untuk konteks Aceh saat ini karena mengakomodir semua keragaman bahasa yang ada di provinsi ini. Berikut ini adalah beberapa tantangan dan alasan yang bisa dikaitkan dengan pilihan ketiga. Beberapa alasan mengapa pilihan pertama dan kedua tidak menjadi pilihan akan sekaligus diutarakan.

Memilih bahasa Indonesia saja bermakna mengabaikan kesempatan bahasa-bahasa daerah untuk peningkatan statusnya saat digunakan dalam ranah resmi, seperti dalam gita puja yang sedang dalam penggodokan ini. Kesempatan untuk integrasi antarelemen yang ada ini pun menjadi sia-sia.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help