Opini

Hijrah, Kecemasan atau Harapan Baru?

SEMANGAT dan “persatuan Islam” terus menyala di hati kaum muslimin, tetapi lumpuh dalam fakta

Hijrah, Kecemasan atau Harapan Baru?
SERAMBI/YUSMANDIN IDRIS
Zikir dan doa bersama sambut 1 Muharram di masjid agung, Bireuen, Rabu (20/9/2017) 

Oleh Nurma Dewi

SEMANGAT dan “persatuan Islam” terus menyala di hati kaum muslimin, tetapi lumpuh dalam fakta. Di balik meluapnya harapan itu, ada sebuah proses telah menuntut pergorbanan yang teramat mahal dan tidak mungkin manusia dapat menggantikannya yaitu hilangnya nyawa. Satu nyawa sesungguhnya sudah terlalu mahal untuk terjadinya proses perubahan. Nyawa adalah karya Tuhan, manusia dengan alasan apa pun tidak berhak mengambil dari orang lain.

Gejala apakah sesungguhnya terjadi di masyarakat Islam? Sulit memberi jawaban secara konprehensif dan kuat. Barangkali akibat yang ditimbulkan dari gejala itu yang memang luar biasa seperti perang saudara, pengungsi di segenap tragedi kemanusiaan, kehancuran infastruktur fisik dan sosial, hilangnya nyawa yang tak lagi terhitung. Lihatlah duka cita yang masih berlangsung di Palestina, Irak, Afghanistan, Suriah, Libya, Mesir, Yaman, Myanmar.

Penderitaan Rohingya, Palestina, bukanlah semata persoalan dua etnis atau bangsa yang berbeda, namun itu merupakan persoalan kemanusiaan yang menuntut tanggung jawab semua orang. Pesan utama kepada semua orang bahwa masalah Palestina, Rohingya, adalah masalah kemanusiaan mendesak saat ini. Kita lupa akan pesan dari langit, bahwasanya Islam adalah agama yang rahmatan lil’alamin. Cita-cita inilah yang harus kita realisasikan untuk dapat tercipta kehidupan manusia yang bahagia, aman, sejahtera di seluruh permukaan bumi. Dalam Negara-negara yang sedang berkonflik, Islam “rahmat bagi semesta alam” terasa sangat jauh, tetapi umat Islam tidak boleh melepaskan misi ini, karena ini pesan dari langit dan betapapun kerusakan dibumi pesan ini harus direalisasikan.

Makna hijrah
Secara harfiah hijrah artinya berpindah. Secara istilah mengandung dua makna yaitu, hijrah makani dan hijrah maknawi. Hijrah makani adalah hijrah secara fisik berpindah dari satu negeri ke negeri yang lain atau dari suatu tempat yang kurang baik menuju tempat yang lebih baik. Misal hijrah Rasulullah saw dari Mekkah ke Madinah. Keterancaman kehidupan Rasulullah dan para sahabat, membawa Rasulullah meninggalkan tanah kelahirannya.

Awalnya Rasulullah mengizinkan sekitar 200 orang muslim pergi ke Madinah secara diam-diam guna menghindari kekejaman Quraisy. Kemudian Nabi Muhammad menyusul dan tiba di Madinah pada 24 September 622. Bisa juga hijrah karena gangguan terhadap harta benda, hijrah menghindari tekanan fisik, seperti hijrahnya Nabi Ibrahim as dan Nabi Musa as, ketika dua Nabiyullah ini khawatir akan gangguan kaumnya.

Adapun hijrah maknawi adalah berpindah dari nilai yang kurang baik menuju ke nilai yang lebih baik. Dari perangai yang tidak elok menuju keperangai yang elok. Juga hijrah dengan menundukkan hawa nafsu untuk mencapai derajat kemanusiaan. Hijrah yang mengakhiri periode Mekkah dan mengawali periode Madinah merupakan titik balik kehidupan Rasulullah. Akibat “hijrah” menjadikan Islam dikenal keseluruh bumi.

Hijrah dalam arti berpindah, yaitu berpindah dari tidak taat kepada Allah menjadi taat, dari korupsi menjadi tidak korupsi, dari pemakai narkoba menjadi tidak narkoba, dari perilaku pedagang yang curang dalam timbangan ataupun takaran menjadi pedangang yang adil, dari perilaku buang sampah sembarangan menjadi membuang sampah pada tempatnya, dari tidak menjaga lingkungan menjadi menjaga lingkungan, dari perokok menjadi tidak merokok, dari tidak membaca menjadi gemar membaca, dari lemah kebermutu dan unggul, dari bodoh menjadi berilmu pengetahuan, dari sering menyebarkan berita dusta menjadikan orang yang berkata baik dan benar lagi bijaksana.

Hijrah dari perilaku menerobos lampu merah menjadikan kita orang yang mematuhi peraturan berlalu lintas. Ini hal-hal kecil yang dilakukan, namun Allah memberi apresiasi terhadap setiap kebaikan yang dilakukan meskipun sekecil zarrah. Setiap perbuatan baik tak ada yang sia-sia karena kebaikan akan kembali kepada yang melakukannya. Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa saja yang dilarang oleh Allah, apakah itu ucapan, perbuatan, keberpihakan dan intimidasi. Lalu, apa yang harus ada dalam hijrah? Yaitu niat karena Allah karena kesucian niat mempengaruhi kebaikan amal perbuatan.

Harapan baru
Sejak masa awal dakwah Islam, ketika kaum muslim di Mekkah menjadi pribadi yang tertindas dan selalu dalam kejaran musuh. Al-Qur’an telah menumbuhkan dari mereka suatu masyarakat yang memiliki rasa kesetiakawanan yang sempurna. Pribadi-pribadi mereka disatukan dengan ikatan persaudaraan dan solidaritas, yaitu iman kepada Allah dan menyembah-Nya dengan mendirikan shalat, bergotong royong, tukar menukar pendapat, bekerja sama dalam infak, dalam urusan ekonomi.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved