Opini

Muhasabah Pergantian Tahun

MEMASUKI tahun baru Hijriyah, ditandai dengan masuknya bulan Muharram. Yang berarti kita telah meninggalkan

Muhasabah Pergantian Tahun
SERAMBINEWS.COM/M ANSHAR
Peserta pawai 1 Muharram 1439 Hijriah di Kota Banda Aceh, Kamis (21/9/2017). 

Oleh Abdul Gani Isa

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus...” (QS. at-Taubah: 36)

MEMASUKI tahun baru Hijriyah, ditandai dengan masuknya bulan Muharram. Yang berarti kita telah meninggalkan 1438 Hijriyah, dan memasuki tahun baru 1439 Hijriyah. Di tahun baru Hijriyah ini, kita sebagai muslim yang taat, perlu introspeksi diri (muhasabah), terhadap semua apa yang telah kita lakukan atau kita perbuat. Dan memilih semua bentuk amalan yang baik untuk tetap kita pertahankan dan meningkatkan amalan yang baik untuk kita kerjakan, serta meninggalkan semua perbuatan yang tidak bermanfaat, baik untuk diri kita ataupun orang sekitar kita.

Di dalam tahun baru ini, kita senantiasa berusaha untuk menjadi hamba Allah Swt yang taat akan perintahnya, dengan menjalankan semua kewajiban, menegakkan hukum syariat-Nya, dan menjauhi segala larangan-Nya. Allah Swt berfirman bahwa manusia memiliki tugas utama untuk beribadah kepada-Nya (QS. adz-Dzariyat: 56). Kalaulah di tahun-tahun lalu kita masih sering melakukan berbagai kesalahan atau masih banyak kekurangan, maka marilah kita tutup kekurangan-kekurangan itu dengan semangat “hijrah”, memperbaiki diri menuju kesempurnaan, baik itu dalam beribadah, bekerja, bermasyarakat, dan berkreasi.

Sesuai dengan makna aslinya, hijrah memiliki pengertian meninggalkan (at-tarku) atau berpindah (al-intiqâl). Jika di masa-masa lalu masih banyak berbagai kemaksiatan yang kita lakukan, maka marilah kita ganti kemaksiatan itu dengan semangat memperbanyak amalan saleh. Mengajak orang berbuat yang makruf dan mencegahnya dari berbuat munkar. Kapan lagi kita memperbaiki diri, kalau bukan sekarang (ibda‘ binafsik). Dan tidaklah pantas kita menundanya, karena kita tidak tahu, kapan kehidupan di dunia ini berakhir.

Tidak abadi
Perlu juga diingat bahwa Allah Swt tidak menjadikan kehidupan di dunia ini abadi, sebagaimana firman-Nya, “Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu Muhammad. Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan kematian, Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kepada Kamilah kamu sekalian dikembalikan.” (QS. al-Anbiya: 34-35).

Ayat di atas sungguh sangat jelas menerangkan, bahwa kehidupan di dunia ini tidak kekal, dan semua yang bernyawa pasti akan merasakan kematian.

Pandangan senada dikuatkan oleh Ibnul ‘Araby dalam tafsirnya Ahkâmul Qur’an, yaitu: Pertama, hijrah dari satu negeri yang sedang berperang atau dalam status darurat perang ke negeri yang aman damai. Contohnya, hijrah Rasulullah saw dan para shahabat dari Mekkah ke Madinah. Hukumnya adalah wajib. Kedua, menyingkirkan diri dari negeri yang didominasi oleh perbuatan-perbuatan keagamaan yang diada-adakan (bid’ah), yang tidak bersumber kepada Alquran dan Sunnah. Ketiga, keluar dari negeri yang dikuasai oleh perbuatan-perbuatan maksiat (haram). Menentang perbuatan haram itu wajib bagi setiap Muslim.

Keempat, menyingkirkan diri dari tindakan penindasan dan teror yang bersifat fisik, seperti Nabi Ibrahim as menyingkir dari kezaliman Namruzisme, Nabi Musa dari Fir’unisme dan lain-lain. Dan, kelima, menyingkirkan diri karena khawatir atau merasa tidak ada jaminan keselamatan harta-benda, karena perlindungan terhadap keselamatan harta-benda itu, menurut pandangan Islam setara dengan perlindungan terhadap jiwa kaum keluarga dan lain-lain.

Jika demikian, mengapa manusia lalai dan terus berada dalam kubangan kemaksiatan, dan menunda-nunda waktu untuk taubat dan berbuat amalan shaleh. Bukankah kita sudah tahu bahwa ajal manusia adalah rahasia Allah Swt semata, sebagaimana firman-Nya, “Tiap-tiap umat memiliki batasan waktu, maka apabila telah datang waktunya mereka tidak akan mengundurkannya barang sesaatpun, dan tidak dapat pula memajukannya.” (QS. al-A’raf: 33).

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help