SerambiIndonesia/

Salam

Terima Kasih Polantas, PU Jangan Sering Lalai

Personel Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Aceh Besar memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia

Terima Kasih Polantas, PU Jangan Sering Lalai
Kapolres Aceh Besar, AKBP Heru Suprihasto bersama personel satlantas meluapkan kegembiraan usai memecahkan rekor MURI, tambal lubang jalan sejauh 100 kilometer, dalam waktu 1x24 jam. 

Personel Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Aceh Besar memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI), setelah menambal 403 lubang yang bertaburan di sepanjang 100 km jalan dalam wilayah Aceh Besar.

Penambalan lubang itu dimulai di Pasar Seulimuem pada pukul 11.00 Wib Sabtu (23/9) dan berakhir di kaki Gunung Geurutee, Minggu (24/9) pukul 10.55 WIB. Artinya “perjuangan” yang memecahkan rekor MURI itu ditempuh dalam waktu 23 jam 55 menit.

Ya, kita memberi apresiasi setinggi-tingginya kepada para personil polisi lalu lintas atas usahanya itu. Buat masyarakat, yang penting bukan catatan prestisius di buku MURI, namun yang lebih bermakna adalah lubang-lubang di jalan sudah tidak ada lagi.

Artinya, setelah usaha keras para personil polisi itu, kini jalanan mulus dan masyarakat lebih nyaman. Paling tidak, di sepanjang jalan itu tidak ada lagi-lagi lubang-lubang yang sering mengancam masyarakat pengguna jalan.

Persoalan lubang-lubang di sepanjang jalan memang menjadi keluhan banyak masyarakat, terutama di daerah yang jalannya jarang dilalui pejabat. Dan, jalan-jalan yang jarang dilalui orang-orang penting itu biasanya adalah jalan provinsi atau jalan kabupaten yang menghubungkan antarkecamatan.

Ini terindikasi dari banyaknya keluhan masyarakat yang datang dari daerah-daerah terpencil atau pinggiran. Di sana, masyarakat sering mengeluh karena sulit menjangkau pasar untuk menjual hasil taninya karena faktor jalan dan jembatan buruk.

Makanya, selain mengepresiasi para polantas yang telah menambal jalan, kita juga mempertanyakan “apa saja kerja instansi yang bertugas memelihara jalan? Kok di 100 km sampai ada 403 lubang?”

Dalam hal jalan rusak ada dua hal yang menjadi penyebab utamanya. Pertama karena kurangnya pemeliharaan, dan kedua karena kualitas jalan memang buruk. Seorang pengamat mengatakan, di Indonesia pembangunan dan perawatan jalan sarat korupsi. Jadi kualitas aspalnya buruk dan kadang tidak ada saluran airnya. Sehingga sudah dapat dipastikan jalan-jalan di Indonesia akan cepat hancur.

Persoalan lain, di negeri ini, kewenangan memperbaiki jalan terkotak-kotak. Dalam satu wilayah atau kota, tanggung jawab perawatan dan perbaikan jalan berbeda-beda. Ada yang harus dilakukan Pemko/Pemkab dan Pemprov setempat namun ada juga yang harus Pemerintah Pusat.

Sangat membingungkan publik. Makanya, jika merasa terganggu atau bahkan menjadi korban kerusakan jalan, kita harus paham siapa yang berwenang mengurus ruas jalan dimaksud. Apalagi jika ingin melakukan tuntutan hukum.

Untuk catatan masyarakat dan diingat kembali oleh PU Bina Marga dan pihak terkait lainnya, sesuai dengan Pasal 24 Ayat 1 dan 2 UU No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, menegaskan, penyelenggara jalan wajib segera memperbaiki jalan rusak yang dapat mengakibatkan kecelakaan lalu lintas. Bila belum dapat memperbaiki, maka wajib memberi tanda atau rambu untuk mencegah terjadinya kecelakaan lalu lintas.” Nah?!

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help