SerambiIndonesia/

Abusyik Bicara di Forum Dunia

Bupati Pidie, Roni Ahmad yang akrab disapa Abusyik dilaporkan mendapat apresiasi luar biasa saat menjadi

Abusyik Bicara di Forum Dunia
BUPATI Pidie, Roni Ahmad (dua kiri) menjadi pembicara pada Annual Meeting Governor Climate Force di Novotel, Balikpapan, Kalimantan Timur, Rabu (27/9). 

SIGLI - Bupati Pidie, Roni Ahmad yang akrab disapa Abusyik dilaporkan mendapat apresiasi luar biasa saat menjadi pembicara pada forum berskala dunia; The Governor Climate and Forest Task Force Annual Meeting (GCF-TF) di Novotel Hotel, Balikpapan, Kalimantan Timur, Rabu (27/9). Pertemuan tahunan ‘Satuan Tugas Gubernur/Bupati/Wali Kota Peduli Hutan dan Iklim’ tersebut diikuti kepala daerah dari 38 negara dan Abusyik mewakili Indonesia.

Di forum tersebut, Abusyik berbicara dalam Bahasa Indonesia yang diterjemahkan oleh moderator yang menguasai lima bahasa dunia. Sebelum dipersilakan menjadi narasumber utama bersama perwakilan Peru dan Brazil, Abusyik diberi kesempatan bicara di panggung sekitar 20 menit. Namun, sebelum mulai bicara, Abusyik mencuri perhatian forum dengan membagikan tiga kupiah merah kepada dua kepala daerah yaitu dari Peru dan Brazil serta moderator bernama Victor.

“Kegiatan GCF-TF ini merupakan pertemuan tahunan pimpinan pemerintah dari seluruh dunia yang peduli terhadap lingkungan, hutan, dan iklim. Untuk tahun ini Indonesia menjadi tuan rumah. Sebanyak 38 negara mengirim utusan pada pertemuan di Balikpapan. Abusyik mewakili bupati/wali kota dari Indonesia yang sekaligus didaulat sebagai pembicara,” lapor Kabag Humas Setdakab Pidie, Safrizal SSTP MecDEv, yang mendampingi Abusyik ke forum tersebut.

Ikut juga bersama Abusyik, Asisten II Setdakab Pidie, Maddan SE MM, Kepala Bappeda Pidie, Muhammad Adam ST MM, Kepala BPM Pidie, Jufrizal MSi, dan Tim Deutsche Gesselschaft for Internationale Zussamenerbeit (GIZ) untuk Aceh.

Mendapat kepercayaan sebagai pembicara di forum berkala dunia itu, Abusyik langsung memaparkan bahwa Kabupaten Pidie memiliki potensi alam yang sangat besar untuk dikembangkan. “Gle, blang, laot (gunung, sawah, laut-red) di wilayah Pidie jika dikelola dengan sungguh-sungguh akan memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat, terutama potensi ekonomi tanpa mengenyampingkan kelestarian ekologi,” paparnya di hadapan tokoh-tokoh dan kepala daerah dari 38 negara.

Dikatakan, sekitar 67 persen atau 487 dari 730 gampong (desa) di Pidie berada di sekitar kawasan hutan. “Hutan ada di sekeliling kami,” kata Abusyik. Disebutkan, lingkungan dan hutan adalah sumber kehidupan yang memberikan kontribusi sangat besar bagi keberlangsungan hidup.

Karena itu, lanjutnya, lingkungan dan hutan harus dijaga dengan kasih dan sayang agar terus memberi manfaat. “Bagi saya pribadi, hutan bagaikan ibu, bapak, dan sekaligus guree (guru) dalam wujud lain. Hutan memberikan udara, air, bahkan di masa lalu dan mungkin di masa depan hutan adalah pelindung dan penyelamat saya di dunia ini,” ujarnya dengan gaya bahasa yang sangat terstruktur.

Abusyik juga menginformasikan, terkait komitmen Pemkab Pidie menjaga hutan dan lingkungan, pihaknya sudah melakukan beberapa langkah awal di antaranya merancang Peraturan Bupati (Perbup) Pidie terkait mekanisme penyaluran dana desa dengan menambahkan indikator lingkungan.

Sebagaimana diketahui, indikator yang digunakan untuk penyaluran dana desa adalah tingkat kemiskinan, jumlah penduduk, jumlah desa, dan indeks kesulitan geografis. “Kami sudah berkoordinasi dengan Dirjen Kemendes, Kemendagri, dan Kemenkeu mudah-mudahan saran kami untuk menambahkan indikator lingkungan pada mekanismen penyaluran dana desa disetujui dan dapat dilaksanakan,” kata Abusyik di forum tersebut.

Pada bagian akhir paparannya, Abusyik menyerukan semua pihak untuk menjaga hutan dan lingkungan. “Kita menjaga hutan, maka kita dijaga oleh hutan,” pungkas Abusyik dari atas panggung disambut aplusan luar biasa dari hadirin.(aya/nas)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help