SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

Ahlan wa Sahlan Dhuyufurrahman

SETELAH 40 hari menjadi Tamu Allah (Dhuyufurrahman), para jamaah haji Aceh pun mulai pulang

Ahlan wa Sahlan Dhuyufurrahman
SERAMBINEWS.COM/SUBUR DANI
Seorang jamaah haji Aceh korban jatuhnya crane di Masjidil Haram ditandu petugas saat tiba di Bandara SIM, Minggu (18/10/2015). 

Berbeda dengan di Aceh, yang kuburan kita sepi dan terkesan angker, makam di Arab Saudi bisa saja. Komplek dan kuburan tidak diberi nisan. Hanya ditandai dengan bongkahan batu. Makam raja juga sama. Setiap liang lahat yang sudah berusia tiga tahun akan ditambah lagi dengan jenazah baru. Sebab di sana keterbatasan lahan untuk pemakaman. Komplek pemakaman Syaraya misalnya, berada di pinggiran Kota Mekkah. Sekitar 4 km ke arah Masjid Ja’ronah atau sekitar 20 km utara Mekkah.

Tamu Allah ada yang berpulang ke Rahmatullah. Seluruh Indonesia saja, angkanya sudah lebih 500 jamaah. Hampir mencapai dua pesawat. Salah satu penyebab kian ramainya jamaah, Tamu Allah, yang meninggal, selain cuaca dan kondisi badan, adalah usia jamaah yang risiko tinggi (risti). Penyakit orang Aceh macam ragam, di antaranya jantung. Saat pembimbingan, selalu dibilang dokter, di Tanah Nabi itu, kesempatan kita berhenti menjadi ahli hisap. Mestinya memang selama di sana, bisa belajar untuk stop merokok. Sekembali dari Tanah Suci, mengikuti sunnah Rasul yang tidak merokok, diwariskan oleh ulama besar yang bukan perokok, mestinya haji dan hajjah, bisa membuang rokok. Rupanya merokok dan perokok tidak kenal haji. Di sini, ia juga penyebab kemiskinan dan inflasi.

Akhir dua bulan lalu, diinformasikan, satu sasaran kemarahan pada pemerintah kita, yang mayoritas Islam, dan kaum muslimin terbanyak di dunia ialah mengapa tidak melarang warga dan jemaah agar tidak doyan merokok. Menkes ungkapkan data, jamaah kita yang perokoknya tinggi. Menkes mendampingi jamaah yang senam jantung sehat, dan 8 di antara 10 orang laki-laki adalah merokok. Jamaah yang naik haji sebanyak 60% risti. Apa arti senam jantung sehat, baik di sini maupun di sana, baik bagi haji atau bukan, jika makanan tidak sehat, telat bangun, dan masih merokok. Perokok seringkali, sebagiannya, bangun pagi bukan wudhuk, dan nikmati udara pagi, tapi mengepulkan asap. Apalagi bangun kesiangan, baik telah kawin maupun belum kawin. Bangun tengah malam pun, bukan tahajud terus, tapi ambil korek. Sungguh sangat jahat efek rokok, dari bibir hitam perokok, udara Allah beri bersih, apalagi pagi, dia cemarkan.

Dosanya pada orang sekitar, anak cucu, karena asap rokok, kapan sempat perokok itu mohon maaf pada yang dizaliminya. Apalagi merokok di area no smoking. Meskipun dihisap perbatang (sibak-bak), penghambat bagi kemakmuran kita. Rumah tangga tak siap-siap, jika asap di mulut terus dihembuskan. Ada perokok, yang harapan umat, yang mungkin sedang hilang jati diri, jadi teladan, tapi sesekali dilihat warga dan muridnya, di media dan langsung, beliau makan minum, sambil berdiri, sambil bicara tertawa terbahak sama rekan rapatnya, dan ia perokok.

Sebagian pengemudi mobil halus dan mewah pun, kadang menjatuhkannya sepanjang jalan, bukannya diplastikkan dan dibuang ke bak sampah dekat rumah, atau di perisimpangan jalan. Pengemudi dan pengguna mobil itu pun, perokok yang merusak interior mobil. Sesampaikan di kantor dan rumah juga sama, pembawa bau busuk, hingga ke lemari pakaian anak istri. Sebagian yang begituan, kita yang sudah haji. Jantung, rokok, usia yang sangat sepuh, tanpa pola makan yang baik, dan kurang olah raga, hanya penyebab kita di Aceh hari ini meninggal dunia pelan-pelan. Atau wafat di sana, musim haji.

Terlepas dari itu, satu pesan usai haji dan sebelum maut yang mirip. Ialah soal baju haji yang putih (ihram) dan kafan kita. Bagi kita haji/hajjah, yang baru mendarat, yang tahun lalu tiba, yang belum bisa berangkat, dan yang menjemput, bahwa kita kian dekat ke liang kubur, di antara dua batu nisan. Haji dan ihram untuk mengingatkan kita pada kubur. Sebagaimana wukuf di atas tanah berpasir (di Arafah) yang ingatkan kita mahsyar dan akhirat.

Setiap kita renungi Tahun Baru Islam, apalagi saat orang Aceh sedang ke Madinah, mengingatkan kita untuk terus berbuat, berpindah, dan berubah. Ingat pula kita pada ajal, kematian, di balik sakratul maut, kubur, shirathal mustaqim, dan para mahsyar. Hal yang lebih penting dari haji dan hidup, di samping syiar dan simbol adalah hakikat dan esensi, atau hikmahnya. Selamat datang kembali, semoga mabruur/mabruurah! Amin ya Allah.

* Muhammad Yakub Yahya, Pembantu Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (P3IH) Embarkasi/Debarkasi Aceh, Dewan Pengurus TPQ Plus Baiturrahman Bada Aceh. Email: m.yakubyahya@kemenag.go.id

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help