Home »

Opini

Selamatkan Beasiswa LPSDM Aceh

BEBERAPA hari ini, saya membaca kritikan dari beberapa tokoh Aceh melalui media sosial yang mempertanyakan

Selamatkan Beasiswa LPSDM Aceh
TRIBUNNEWS.COM
Ilustrasi 

Sering dikeluhkan
Permasalahan lainnya yang sering dikeluhkan oleh para pemohon beasiswa adalah “ketidakadilan” pemerintah (LPSDM) dalam menentukan syarat beasiswa, terutama terkait kemampuan berbahasa asing. LPSDM dalam menetapkan syarat kemampuan berbahasa asing tidak mempertimbangkan aspek geografis-historis. Misalkan, LPSDM menetapkan skor TOEFL 500 untuk pelamar beasiswa yang ingin kuliah ke luar negeri.

Mendapatkan skor TOEFL ITP 500 bagi pelamar dari pusat ibu kota seperti Banda Aceh bukanlah syarat yang susah. Tapi bagi pelamar dari daerah terpencil, untuk memenuhi syarat TOEFL 500 adalah sesuatu yang sangat berat. Faktor utama adalah akses yang didapatkan oleh pelamar di kota sangat signifikan perbedaannya dengan pelamar dari daerah-daerah terpencil. Kualitas pendidikan bahasa Inggris yang didapatkan oleh pelamar ketika usia sekolah jauh perbedaannya dengan apa yang didapatkan oleh siswa di kota.

Di samping itu, institusi nonformal seperti kursus-kursus bahasa Inggris sangat mudah didapatkan di kota, berbeda halnya dengan di daerah. Jadi tidak heran jika penerima beasiswa jauh lebih banyak pelamar yang berasal (berdomoisili) dari ibu kota provinsi atau kabupaten/kota. Padahal, sangat banyak putra-putri Aceh yang punya ilmu pengatahuan yang mampuni (kognitif), tetapi tidak bisa melamar beasiswa LPSDM untuk studi ke luar negeri karena tidak mampu memenuhi syarat bahasa Inggris (psikomotorik).

Ini adalah permasalahan serius yang harus ditangani secara komprehensif oleh pemerintah Aceh dalam pembangunan SDM. Jika tidak, maka ketimpangan pembangunan antara di daerah dan kota akan semakin besar. Karenanya jika pemerintah serius untuk melakukan pembangunan SDM di seluruh Aceh, maka harus memperbaiki kondisi ini. Pemerintah harus memfasilitasi meningkatkan kemampuan bahasa Inggris (asing) calon penerima beasiswa potensial dari daerah terpencil dan pedalaman.

Jika LPSDM serius ingin membangun SDM secara menyeluruh di Aceh, maka sudah saatnya membenah diri, membenah tatakelolanya, memperbaiki pengelolaan data, berlaku adil dalam perekrutan, dan memiliki arah yang jelas kebutuhan antara permintaan dan kesempatan yang ditawarkan. Jika tidak, maka jangan salahkan mereka yang mempertanyakan manfaat program beasiswa yang dananya diambil dari keringat rakyat Aceh. Nah!

* Muhammad Adam, putra Seunuddon Aceh Utara, penerima beasiswa AAI dari pemerintah Australia (Bidang studi Kepemimpinan dan Manejemen Pendidikan). Email: adamyca@gmail.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help