HUT TNI

Drama Kolosal Warnai HUT TNI

Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-72 Tentera Nasional Indonesia (TNI) yang dipusatkan di Lapangan

Drama Kolosal Warnai HUT TNI
Personil satuan-satuan tempur di jajaran Kodam IM melakukan defile pada upacara peringatan HUT Ke-72 TNI di Lapangan Blangpadang, Banda Aceh, Kamis (5/10). SERAMBI/BUDI FATRIA 

* Cut Meutia Melawan Belanda

BANDA ACEH - Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-72 Tentera Nasional Indonesia (TNI) yang dipusatkan di Lapangan Blangpadang, Banda Aceh, Kamis (5/10) pagi, berlangsung meriah. Berbagai atraksi ditampilkan dengan sangat apik oleh para prajurit Komando Daerah Militer Iskandar Muda (Kodam IM) untuk menghibur warga kota.

Upacara puncak tersebut dipimpin Kepala Staf Daerah Militer (Kasdam) IM, Brigjen TNI Achmad Daniel Chardin dengan inspektur upacara, Letkol Nanak Yuliana SE MM, Komandan Batalion Kavaleri 11/MSC. Kegiatan itu diikuti semua prajurit TNI dari berbagai kesatuan, PNS Kodam IM, serta mahasiswa.

Salah satu atraksi yang ditampilkan adalah drama kolosal pejuang nasional asal Aceh, Cut Meutia saat melawan kolonial Belanda. Warga yang sejak pagi sudah berada di lapangan langsung berkumpul ke tengah lapangan untuk menyaksikan kisah heroik pertempuran Cut Meutia melawan kolonial Belanda yang menyerang Aceh.

Drama bertema ‚Mutiara Rimba‘ itu diperagakan oleh 420 orang siswa dan ibu-ibu Persatuan Istri TNI Kartika Chandra Kirana (Persit KCK) Cabang 9 Rindam IM dari Teater Merah Putih Rindam IM.

Dalam drama itu, sosok Cut Meutia digambarkan sebagai seorang perempuan yang mengenakan penutup kepala meskipun saat perang.

Sejak Kerajaan Belanda mengeluarkan maklumat untuk memerangi Kerajaan Aceh pada 26 Maret 1873, generasi Aceh saat itu menyahutinya dengan suka cita. Terbesit dari mujahid bahwa ladang syahid terbuka di Aceh. Perang yang berkecemuk puluhan tahun adalah perang terpanjang dan terlama dalam sejarah perang kolonial Belanda.

Drama itu diawali dengan ditangkapnya Teuku Muhammad atau Teuku Tjik Tunong, suami Cut Meutia dan gugur ditembak mati serdadu Belanda di tepi pantai Lhokseumawe pada 1905. Dalam satu kesempatan, pejuang Aceh meminta Cut Meutia memimpin perang. „Tanggung jawab ini saya terima demi agama dan tanah Aceh,“ katanya lantang.

Saat itu, Cut Meutia bersama para pejuang Aceh lainnya, termasuk anaknya Teuku Raja Sabi, meneruskan perjuangan. Dalam satu pertempuran yang terjadi di Alue Kurieng, Aceh Utara, pada 24 Oktober 1910, Cut Meutia tampak gagah berani melawan tentera kolonial. Dengan sebilah rencong, dia menghadapi musuh yang bersenjata.

Sayangnya, dalam pertempuran sengit itu, peluru serdadu Belanda berhasil mengenai tubuh Cut Meutia. Dia syahid dalam mempertahankan agama dan tanah indatu.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved