SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

Ketika Bang Wandi (Mulai) Jualan Kopi

VIDEO Bang Wandi --sapaan akrab untuk Gubernur Aceh Irwandi Yusuf-- jualan kopi di Turki beberapa waktu lalu

Ketika Bang Wandi (Mulai) Jualan Kopi
Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf memaparkan peluang investasi di Aceh saat menghadiri acara Festival Kopi Istanbul 2017 di Istanbul, Turki, Jumat (22/9/17). 

Oleh Muslim Amiren

VIDEO Bang Wandi --sapaan akrab untuk Gubernur Aceh Irwandi Yusuf-- jualan kopi di Turki beberapa waktu lalu, menjadi viral di media sosial (medsos). Event dan video promosi ini bermakna sekali bagi pariwisata Aceh. Khususnya kopi Gayo, ikon baru pariwisata Aceh. Konon lagi, promosi itu dilakukan di pintu Asia dan Eropa, Turki. Semoga Bang Wandi terus fokus dan komit dengan apa yang telah dimulainya. Sebagai insan pelaku wisata, kami sangat senang melihatnya. Jarang seorang Gubernur Aceh memiliki kepedulian dan komitmen besar terhadap pariwisata. Kecuali, bagi kepala daerah Bali dan Lombok, di mana pariwisata sebagai pemasukan utama.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) 2015, ada 2,7 juta kunjungan ke Aceh. Setiap orang membelanjakan Rp 3 juta selama 2-4 hari di Aceh. Kalau kita kalikan; 2.700.000 orang dikali Rp 3.000.000 setara dengan Rp 8,2 triliun. Jumlah itu lebih besar dari Dana Otsus Aceh yang berjumlah Rp 8 triliun per tahun, bahkan terus menurun dan akan habis suatu saat nanti. Bedanya, kalau dana otsus setiap tahun habis tidak bermakna. Buktinya tingkat kemiskinan Aceh masih di atas rata-rata Nasional dan level pendidikan juara dari bawah.

Sebaliknya, uang parawisata mengalir hingga jauh. Dinikmati oleh pemilik hotel dan pegawainya, travel dan guidenya, penjual sate matang di Rex Peunayong dan Warkop Solong Ulee Kareng, toko-toko souvenir dan perajin tas Aceh di Ulee Madon (Bireuen), hingga bis wisata dan tukang becak saudara saya. Bahkan para penjual ranup (sirih) dan pencari sedekah di depan Masjid Raya Baiturrahman pun ikut menikmatinya. Bukan seperti dana otsus yang menguap entah kemana?

Tiga masalah besar
Namun, membangun pariwisata di Aceh tidak segampang seperti di Bali, banyak onak dan duri. Minimal ada tiga masalah besar yang harus disadari Bang Wandi: Pertama, mindsetting yang masih keliru. Kebanyakan orang Aceh masih berpikir bahwa wisata itu mestilah seperti Bali. Yaitu tempat berkumpul semua kesenangan dunia; pornografi, dunia gemerlap dan prostitusi. Pikiran kotor tentang pariwisata ini tidak hanya dari mereka berpendidikan rendah. tetapi juga dimiliki oleh pemimpin Aceh terkini, dari aparat gampong hingga para anggota parlemen (DPRK/DPRA). Jangan heran kalau dana pengembangan wisata masih kecil. Mungkin pariwisata masih dilihat sebagai program sak ulee lam rok.

Padahal, saat ini telah terjadi transformasi dan diversifikasi wisata yang sangat jauh dari dekade lalu. Dulu, wisata dipandang sebagai jalan-jalan ke tempat keramaian, sedangkan saat ini wisata dilihat sebagai life style (gaya hidup), bahkan sort of healing (cara pengobatan). Jangan heran, sekarang wisata kota cederung dihindari. Traveller justru datang ke tempat-tempat unik dan berbeda: Seperti menikmati pemandangan sungai Yangtse di Shanghai; menonton sandiwara kolosal atas danau di West Lake - Hangzhou; naik perahu di perkampungan Huajiajiao, atau; sekadar menikmati kopi di kebun “Seladang” Takengon; menonton paus di Pulau Banyak, dan; menikmati malam-malam hening di Teupin Layeun - Sabang. Diperlukan sosialisasi terus menerus agar mindset masyarakat tentang pariwisata berubah baik.

Kedua, budaya cilet-cilet. Mengapa pariwisata Thailand sangat maju hingga mencapai 29 juta kunjungan per tahun? Jawabannya adalah orang Thailand tidak suka jalan-jalan, sehingga mereka membangun fasilitas wisata untuk tamunya, berstandar International, tidak cilet-cilet. Sebaliknya, orang kita suka jalan-jalan, sehingga fasilitas pun dibangun untuk sekadar dinikmati oleh wisatawan lokal. Jadi, bayangkan saja, destinasi cantik macam Gunung Gurutee, tempat pipisnya masih menembak “bukit” atau “laut”.

Di sini dibutuhkan kehadiran pemerintah, untuk menata tempat itu menjadi lebih layak dan humanis. Atau ambil fasilitas lain, Mesjid Raya Baiturrahman, ikon Aceh. Di sana masih kita dapati, waktu Isya sering kehabisan air untuk wudhuk, para Satpam sering menegur orang secara tidak sopan (pakai pengeras suara lagi) dan pengunjung yang membuang sampah sembarangan. Untuk itu, diperlukan standarisasi fasilitas pariwisata dari cilet-cilet menjadi halal dan berstandar internasional.

Ketiga, diperlukan promosi massal yang baik-baik tentang Aceh. Bali sudah lama melakukan promosi, hampir semua Menteri Pariwisata berasal dari sana. Tidak heran, kalau daerah ini menjadi sangat terkenal. Aceh juga harus sudah melakukannya, tetapi baru pada level pemerintah dan pegiat wisata. Padahal tiap tahun ratusan orang Aceh ke luar negeri, dengan berbagai alasan: berobat, belanja, belajar, dan keperluan lainnya. Pemerintah harus mendorong mereka untuk bercerita yang baik-baik dan fenomenal tentang Aceh, seperti cerita keberanian/kepahlawanan para wanita Aceh, kekuatan masyarakat menghadapi tsunami, keberanian melawan terhadap yang tidak benar dan lainnya.

Story telling adalah metode bagus untuk promosi wisata. Apalagi kalau cerita ini bisa menjadi viral di medsos melalui video atau cerita dari mulut ke mulut. Tapi harus hindari tentang cerita jelek, seperti kasus pembunuhan, perkosaan, dan lain-lain. Kalau ada pun, harus segera dibantah secara baik-baik. Media pun harus diajak kerja sama agar berita-berita seperti itu jangan tampil di headline atau cukup di koran “lampu merah” saja.

Harapan ke depan
Sebagai pelaku wisata, sebenarnya banyak harapan kami kepada Bang Wandi, Bos “Aceh Hebat”. Namun, di sini cukuplah kami titip tiga hal: Pertama, rezeki itu datangnya dari Allah. Semakin dekat kita dengan pemberi rezeki, maka semakin Allah tambah-tambah rezeki itu. Pemerintah harus mendorong rakyat untuk mendekati Penguasa Rezeki, dengan jalan menyuburkan shalat berjamaah atau memperbanyak silaturrahmi (jalan-jalan).

Kedua, bangunlah fasilitas-fasilitas wisata dengan standar bagus, berstandar international kalau bisa. Jangan ulangi kesalahan Sabang dengan fasilitas backpackernya, sehingga hanya menjadi surga backpacker, dengan penghasilan apa adanya. Harusnya Sabang bisa naik kelas menjadi destinasi wisata keluarga, dibangun seperti Trans Studio Bandung, atau Genting Highland di Malaysia yang menyasar kelas menengah ke atas.

Contoh lainnya: Takengon dan Pulau Banyak, sebagai fokus pengembangan wisata “Aceh Hebat”. Jangan hanya perhatikan dua daerah ini, tetapi kembangkan juga daerah pendukung. Untuk Takengon, mulailah dari pintu masuknya, yaitu Bireun dan Lhokseumawe. Dua daerah ini harus dibangun sebagai “pintu gerbang” menuju ke sana.

Ketiga, pengembangan pariwisata harus dikawinkan dengan program ADG dan dana desa. Berikan desa kewenangan dan keterampilan mengembangkan potensi wisata di desanya. Ada kecendrungan masyarakat desa tidak tahu lagi mau dibawa kemana dana tersebut. Padahal sawah, sungai, kebun dan laut adalah ciri desa-desa di Aceh. Seperti halnya paket “wisata makan di sawah” di Bali. Desa-desa Aceh juga banyak budaya seperti itu. Ada budaya intat bu, jiep kupi, kenduri blang, seumeukoh, ceumeulho, peukrui pade, seumeuphui, keumit tulo, drop daruet, meuen bola, hingga peulheuh geulayang. Jadi desa bukan hanya sebagai tempat mengeruk tanah, batu atau pasir saja. Nah!

* Muslim Amiren, Dosen FMIPA Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Ketua Divisi Ekonomi Kreatif Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI). Email: muslim.amiren@unsyiah.ac.id,

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help