SerambiIndonesia/

Wakil PM Turki Tiba di Aceh Besok, Begini Hubungan Akrab Aceh dan Turki Utsmani Sejak Dulu

mengaku bahwa ia merasa sangat dekat dengan Aceh karena faktor sejarah

Wakil PM Turki Tiba di Aceh Besok, Begini Hubungan Akrab Aceh dan Turki Utsmani Sejak Dulu
KOMPAS.COM
Bendera Turki 

Setelah mangkatnya Suleiman pada tahun 1566, anandanya Selim II memerintahkan pengiriman armada ke Aceh.

Baca: Indonesia-Turki Sepakat Buat Kapal Selam, Tank, dan Drone

Sejumlah prajurit, pembuat senjata, dan insinyur diangkut oleh armada tersebut, bersama dengan pasokan senjata dan amunisi yang melimpah.

Armada pertama terdiri atas 15 dapur yang dilengkapi dengan artileri.

Namun dialihkan untuk memadamkan pemberontakan di Yaman.

Akhirnya, hanya 2 kapal yang tiba antara tahun 1566–1567.

Namun sejumlah armada dan kapal lain menyusul.

Ekspedisi itu dipimpin oleh Kurdoglu Hizir Reis.

Orang Aceh membayar kapal tersebut dengan mutiara, berlian, dan rubi.

Baca: Dua Perusahaan Turki Teken MoU dengan Pemerintah Aceh

Irwandi Teken Kerjasama dengan Perusahaan Turki
Irwandi Teken Kerjasama dengan Perusahaan Turki (DOK.HUMAS ACEH)

Pada tahun 1568, Aceh menyerang Malaka, meskipun Turki tak nampak ikut serta secara langsung.

Usmaniyah mengajari Aceh bagaimana membuat meriam, yang pada akhirnya banyak diproduksi.

Dari awal abad ke-17, Aceh dapat berbangga akan meriam perunggu ukuran sedang, dan sekitar 800 senjata lain seperti senapan putar bergagang dan arquebus.

Armada Turki Usmani di Samudera Hindia pada abad ke-16.

Ekspedisi tersebut menyebabkan berkembangnya pertukaran antara Kesultanan Aceh dan Turki Utsmani dalam bidang militer, perdagangan, budaya, dan keagamaan.

Penguasa Aceh berikutnya meneruskan pertukaran dengan Khilafah Turki Utsmani, dan kapal-kapal Aceh diizinkan mengibarkan bendera Utsmaniyah.

Baca: Yuk ke Taman Sari, Ada Khanduri Leumang Hingga Menu Khas Jepang dan Turki

Hubungan antara Kesultanan Aceh dan Turki Utsmani menjadi ancaman besar bagi Portugis dan mencegah mereka mendirikan kedudukan dagang monopolistik di Samudera Hindia.

Aceh merupakan saingan dagang utama Portugis, kemungkinan mengendalikan perdagangan rempah-rempah lebih banyak daripada Portugis.

Portugis mencoba menghancurkan sumbu perdagangan Aceh-Turki-Venesia untuk keuntungan sendiri.

Bahkan Portugis berencana menyerang Laut Merah dan Aceh.

Namun gagal karena kurangnya tenaga manusia di Lautan Hindia.

Baca: 136 Santri Penghafal Alquran Dapat Beasiswa ke Turki dari Pemerintah

Ketika diserang oleh Belanda pada tahun 1873, Aceh meminta perlindungan dengan persetujuannya yang sudah lebih dulu tercapai dengan Kesultanan Usmaniyah sebagai salah satu dependensinya.

Namun klaim itu ditolak oleh kuasa Barat yang takut bila kejadian masa lalu terulang.

Armada yang dipersiapkan untuk membantu Aceh sendiri pada akhirnya dialihkan untuk menumpas pemberontakan Zaidiyah di wilayah Yaman.(Serambi/wikipedia)

Penulis: Hadi Al Sumaterani
Editor: Hadi Al Sumaterani
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help