SerambiIndonesia/

Dua Pemuda Ditampar Orangutan

Kapolres AKBP Andy Nugraha Setiawan Siregar SIK, melalui Kapolsek Tangse, Iptu Nurman Ali SH, mengaku menerima

Dua Pemuda Ditampar Orangutan
SERAMBINEWS.COM/ZUBIR
Danki Brimob Sub Den 2 Den B Pelopor Polda Aceh di Aramiah, AKP Anton menyerahkan seekor Orang Utan kepada Staf KPH Wilayah III Aceh, Aang Kunaifi SHut, Senin (18/9/2017). 

* Di Hutan Lindung Tangse

SIGLI - Kapolres AKBP Andy Nugraha Setiawan Siregar SIK, melalui Kapolsek Tangse, Iptu Nurman Ali SH, mengaku menerima laporan warga terkait keberadaan Orangutan yang berprilaku agresif di kawasan hutan lindung Pulo Baru, Kecamatan Tangse. Salah satunya, adalah peristiwa warga ditampar oleh satwa serupa manusia itu.

Kapolsek Tangse itu mengatakan warga tersebut melapor ke polisi karena mengaku sempat diserang oleh seekor Orangutan saat mencari jernang (buah rotan) di hutan lindung tersebut yang memang mulai menjadi habitat Orangutan hasil pelepasliaran dari Cagar Alam Jantho.

Warga mengaku baru kali ini melihat satwa tersebut di hutan Tangse, padahal pelepasliaran Orangutan di sekitar kawasan hutan itu sudah beberapa kali dilakukan. Namun warga yagn barupertama kali menjumpainya di hutan habitatnya itu dijamin syok, dan kemudian menimbulkan cerita seram baru di perkampungan sekitar Hutan Lindung Tangse ini.

Laporan ini diteruskan pihak kepolisian kepada Serambi, karena khawatir satwa ini akan menjadio hama baru yang memakan hasil kebun, atau turun ke gampong di sekitar hutan tersebut, hingga berpotensi mengganggu warga. Apalgi dengan prilaku agresif dari Orangutan ini seperti dilaporkan warga ke polisi.

Iptu Nurman menceritakan, pada Rabu (4/10), delapan warga Gampong Pulo Baro mencari ikan di sungai kawasan hutan lindung --yang memang seharusnya menjadi habitat satwa liar dan bukan untuk dimasuki warga.

Delapan orang itu memasuki hutan --seharusnya mendapat izin Panglima Uteun (struktur kerja lembaga mukim) atau Polhut, untuk mencari ikan dan jernang. Namun, belum sampai di sungai, delapan pemuda itu dihadang seekor Orangutan yang tiba-tiba meloncat dari atas pohon. Orangutan tersebut mengamuk dan menyerang warga karena terkejut.Rombongan warga yang diserang Orangutan itu pun kabur terbirit-birit karena takut.

Peristiwa serupa juga terjadi Jumat (6/10), menimpa dua warga Gampong Blang Jeurat yang diserang Orangutan di hutan lindung itu.

Kedua warga itu yakni Anwar (38) dan Dedy (20) yang juga diperkirakan masuk hutan tanpa izin Panglima Uteun atau Polhut untuk mencari buah jernang yang tumbuh liar di kawasan hutan lindung Tangse itu. Kedua lelaki itu pulang melintasi jalur yang sama yang dilalui delapan warga Gampong Pulo Baro.

“Saat dalam perjalanan pulang, Anwar dan Dedy dihadang seekor Orangutan yang sama, dan kemudian menampar muka Anwar dan menjepitnya di bawah ketiak binatang berbulu itu. Dedy yang berdiri di belakang pun mengayunkan parang ke arah satwa dilindungi ini. Saat terkena parang, binatang itu pun melepaskan Anwar dan melarikan diri ke arah hutan. Kedua pemuda yang ketakutan itu pun langsung pulang ke rumah,” ungkap Iptu Nurman.

Peristiwa penyerangan oleh hewan setinggi 1,5 meter, berbulu hitan dan menyerupai manusia ini, sontak menjadi cerita populer yang tersebar luas (viral) di media sosial, pastinya dengan ditambah “bumbu” hoak yang meningkatkan dramatisasi atas kejadian itu.

“Berkembang isu ada warga yang tewas diserang Orangutan. Namun setelah dicek, tidak benar informasi tersebut (hoak), meski sempat beredar luas di media sosial (medsos),” kata Kapolsek Tangse, Iptu Nurman.

Warga dan sejumlah pemuda pun ramai-ramai mencari satwa dilindungi itu. Namun hingga berita ini diturunkan, mereka belum menemukan jejaknya. Saat ini, Orangutan itu masih berkeliaran di Hutan Lindung Gampong Pulo Baro yagn mungkin memang telah menjadi habitat baru bagi satwa kunci itu.

Iptu Nurman Ali, menambahkan pihaknya mulai membangun koordinasi dengan Muspika Tangse dan Imum Mukim Layan yang bertanggung jawab atas wilayah hutan tersebut, untuk menangani satwa dilindungi itu. Bahkan, kehadiran manusia di kawasan lindung juga harus dibatasi dengan mengeluarkan kebijakan (qanun) di tingkat mukim, dan pelaksanaannya dilakukan oleh Panglima Uteun bersama Polhut/KPH terkait.(naz)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help