SerambiIndonesia/

Lebih 50 Beko Digoperasikan

Direktur Eksekutif Walhi Aceh, Muhammad Nur juga menyebutkan bahwa pada tahun 2014 jumlah beko yang digunakan

Lebih 50 Beko Digoperasikan
SERAMBI / IDRIS ISMAIL
Alat berat jenis Beko melakukan aktivitas pengerukan galian C di Krueng Beuracan, Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya, Rabu (25/1). Pengerukan galian C tersebut telah meresahkan masyarakat terhadap keselamatan aset umum berupa jembatan gantung, bendungan irigasi, dan pemukiman warga. SERAMBI / IDRIS ISMAIL 

Direktur Eksekutif Walhi Aceh, Muhammad Nur juga menyebutkan bahwa pada tahun 2014 jumlah beko yang digunakan di berbagai lokasi penambangan emas di Aceh hanya 10-12 beko. Tapi sekarang, sudah lebih dari 50 beko (ekskavator) dan alat-alat berat lainnya yang digunakan untuk menggali, mengeruk, menghancurkan gunung, perbukitan, hutan, dan lahan di sana.

“Itu sudah mulai terjadi. Jadi, kemajuan teknologi ini sebagai pemicu kerusakan dan lahan, tidak manusia saja, tapi teknologi juga sudah mulai digunakan,” ujarnya.

Menurutnya, dalam hal ini pemerintah perlu memetakan kembali berapa area yang sudah dikapling oleh penambang. Kemudian segera petakan sumber ekonomi alternatif bagi masyarakat, sehingga tidak bergantung pada tambang karena tambang lama-kelamaan akan habis.

Di samping itu juga, daerah yang dijadikan lokasi penambangan harus mendapatkan keuntungan dari kegiatan-kegiatan tersebut. “Apabila tidak dihentikan atau diresmikan sebagai usaha rakyat, maka sulit untuk mengukur pendapatan daerah. Bencananya ditanggung negara. Yang bikin ulah orang lain, yang rugi negara. Itu tidak boleh terus terjadi,” demikian Muhammad Nur. (una)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help