SerambiIndonesia/

Citizen Reporter

Menjelajah Singapura, Negara Terkaya Ketiga di Dunia

BISA jalan-jalan ke negara maju adalah impian semua orang, termasuk saya, apalagi kita yang hidup di negara

Menjelajah Singapura, Negara Terkaya Ketiga di Dunia
ARIF SAPUTRA

OLEH ARIF SAPUTRA, putra Uteuen Gathom, Peusangan Selatan, Bireuen, melaporkan dari Singapura

BISA jalan-jalan ke negara maju adalah impian semua orang, termasuk saya. Apalagi kita yang hidup di negara “kacau balau” dan banyak utang seperti halnya Indonesia saat ini, membandingkan Singapura dengan Indonesia ibarat membandingkan raksasa Spanyol, Real Madrid dengan klub gurem, Sporting Gijon. Sungguh ibarat langit dan bumi bedanya.

Benar saja, saat ini Singapura berada di urutan ketiga negara dengan kekayaan tertinggi di dunia. Mereka hanya kalah dari Qatar di urutan pertama dan Luxemburg di urutan kedua. Sedangkan Indonesia berada di urutan ke-103.

Singapura yang baru memerdekakan diri dari Malaysia pada tahun 1965 itu, memiliki pendapatan per kapita 87,082 USD atau setara dengan Rp 1,1 milliar pada tahun 2016.

Salah satu negara terkecil di dunia ini memainkan peranan penting dan startegis dalam perdagangan dan keuangan internasional, bahkan Pelabuhan Singapura adalah salah satu pelabuhan tersibuk di dunia. Perekonomian negara ini bergantung pada sektor industri jasa pengilangan minyak bumi dan pemrosesan karet.

Bisa menginjakkan kaki di negara maju adalah suatu kebanggaan yang besar bagi saya. Berada di Singapura untuk beberapa hari adalah hal yang luar biasa. Kotanya begitu megah, masyarakatnya yang begitu ramah, membuat saya seakan lupa bahwa saya berasal dari Indonesia.

Tujuan utama saya jalan-jalan ke negara yang luasnya lebih kecil dari Pulau Bali ini adalah ingin melihat kemajuan negaranya yang begitu meningkat. Saya benar-benar penasaran dengan Singapura yang rakyatnya benar-benar makmur dan hidup sejahtera.

Perjalanan saya dimulai pada malam hari menggunakan bus dari Terminal Beterpadu Selatan, Kuala Lumpur, melewati Johor Bahru selama kurang lebih delapan jam dan masuk ke perbatasan Malaysia-Singapura pada pagi harinya. Namun, untuk bisa masuk ke Ssingapura tidaklah semudah yang saya bayangkan. Ketika pemeriksaan paspor di imigrasi, saya sempat tertahan empat jam karena pihak imigrasi begitu selektif memberikan izin masuk kepada warga asing yang sama sekali belum pernah masuk Singapura. Saya pun sempat dipanggil menghadap kepala imigrasi untuk ditanyai beberapa hal, yaitu tentang apa keperluan saya ke Singapura? Akan menginap di mana, membawa uang berapa, dan kapan saya akan kembali? Interview ini berlaku bagi semua warga asing yang pertama kali hendak masuk ke Singapura.

Dalam interview ini, saya melihat sangat banyak warga negara asing, yaitu dari Kamboja, Laos, dan Myanmar yang tidak diizinkan masuk Singapura karena ketika diwawancarai mereka tidak bisa menjawab dengan jelas apa keperluannya ke Singapura.

Berbekal pengalaman hidup di Thailand selama lima bulan dan di Malaysia beberapa bulan, membuat saya berhasil melewati pihak imigrasi Singapura. Yang jelas, kemahiran berbahasa Inggris juga menjadi pertimbangan pihak imigrasi untuk memberikan izin bagi setiap pendatang baru ke “Negeri Singa” ini.

Kota Singapura benar-benar menakjubkan. Sejauh mata memandang Singapura terlihat begitu menawan. Tatanan kotanya rapi, seakan membuat pemandang tidak ingin memalingkan pandangannya dari tiap pelosok kota ini. Sepanjang jalan tidak ada pengemis yang meminta-minta, tidak ada yang namanya anak jalanan, apalagi anak gembel yang tidur di bawah kolong jembatan.

Pemerintah Singapura benar-benar memberikan kenyamanan kepada setiap orang yang ingin menikmati indahnya Singapura. Itu dibuktikan dengan bagusnya layanan transportasi di negara salah satu superpower ini. Mereka menyediakan transportasi kereta cepat bawah tanah (subway) yang bisa menghubungkan ke seluruh penjuru Singapura.

Penyediaan transportasi ini selain untuk menghindari kemacetan jalan raya dan menghindari polusi udara, juga untuk memberikan kenyamana bagi setiap warga untuk bepergian. Saya memilih kereta bawah tanah untuk keliling Singapura selama tiga hari. Syaratnya sederhana, cukup membeli kartu (tiket) yang harganya 14 dolar Singapura atau setara dengan Rp 140.000. Tempat pertama yang saya kunjungi di Singapura adalah Merlion, ikon Singapura, yaitu tempat patung singa memancarkan air dari mulutnya. Selanjutnya saya ke Marina Bay, Garden Bay the Bay, Universal Studios, Little India, Chinatown, Bugis, dan beberapa kota kecil lainnya.

Namun, bagi Anda yang suka buang sampah sembarangan, suka meludah, dan suka merokok, maka kebiasaan itu harus Anda ubah jika ingin menginjakkan kaki di negara yang berpenduduk hanya 5 juta jiwa ini. Soalnya, pamflet dilarang merokok, dilarang buang sampah dan meludah sembarangan pasti kita temukan hampir di setiap tempat. Larangan ini juga disertai ancaman denda 1.000 dolar Singapura atau setara dengan Rp 10 juta bagi setiap pelanggarnya. Nah, bayangakan saja jika kita kedapatan merokok sekali atau membuang sampah bukan pada tempatnya di Singapura, maka kita harus membayar denda sebanyak itu. Sangat memberatkan, bukan?

Namun, sebagai negara maju wajar saja mereka membuat sanksi seberat itu dengan tujuan untuk mendisiplinkan warganya dan pengunjung, serta untuk mengantisipasi warga nakal yang ingin mengotori Singapura. Untuk sanksi yang berat ini, kita pantas belajar dari negara tetangga kita, Singapura, demi terwujudnya Indonesia atau khususnya Aceh yang bersih, asri, dan sedap dipandang. Semoga.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help