SerambiIndonesia/

Salam

Modus Kejahatan Semakin Beragam

Cut Halimatussakdiah, ibu muda berusia 24 tahun, dihipnotis kemudian disekap seorang pria yang datang

Modus Kejahatan Semakin Beragam
Net
Ilustrasi 

Cut Halimatussakdiah, ibu muda berusia 24 tahun, dihipnotis kemudian disekap seorang pria yang datang ke rumahnya di Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara, dua hari lalu. Penjahat yang menyaru sebagai peminta sumbangan itu tanpa halangan mengambil 7,5 mayam emas dan uang tunai Rp 2,5 juta setelah membungkam nyonya rumah di dapur.

Kepada polisi korban mengungkapkan, pagi itu ia sedang sendirian di rumah. Suaminya sudah ke pasar dan dua anaknya ke sekolah. Entah bagaimana, ketika hendak membersihkan kamar, tiba-tiba ia melihat seorang pria yang tak dikenalnya sudah ada di kamar.

Kepada si ibu yang kaget dan bercampur takut, pria itu mengaku hendak meminta sumbangan untuk dayah. Pria itu menyodorkan surat untuk dibaca Cut Halimatussakdiah tentang keterangan diri si tamu tak diundang itu serta dayah yang membutuhkan sumbangan.

Saat membaca itulah korban mengaku tak sadarkan diri lagi. Selanjutnya, pria itu langsung menyeret korban ke dapur dan mengikat kedua tangan korban di meja menggunakan lakban warna hitam. Pelaku juga melakban mulut korban. Lalu ia secara leluasa menggerayangi seisi rumah itu untuk mengambil barang-barang berharga milik korban.

Jika benar kejadian seperti yang diceritakan korban kepada polisi, maka ini termasuk kejahatan dengan modus baru di Aceh. Yakni dengan cara menghipnotis. Jika sebelumnya menggunakan cara-cara hipnotis melalui pandangan mata atau menepuk bagian tubuh tertentu, tapi yang ini menggunakan media baca. Persis seperti kita lihat show para hipnoterapis.

Artinya, masyarakat --tak mesti di rumah-- di manapun harus berhati-hati dengan kejahatan model ini. Sebab, di pasar, di mall, di terminal, di bandara, di pelabuhan, di lingkungan sekolah, perkantoran, di warung-warung kopi atau restoran kita paling sering didatangi oleh orang yang tak kita kenal. Ada yang menawarkan produk, menawarkan program, bahkan yang paling banyak adalah minta sumbangan.

Bagi kita, sumbangan untuk dayah, fakir miskin, dan anak yatim tentu kita sangat tidak keberatan. Apalagi itu amal yang kita bawa mati. Namun, jika kegiatan minta sumbangan itu sudah menjadi kedok yang dipakai penjahat, tentu ini harus sangat hati-hati. Apalagi, media baca dimanfaatkan untuk menghipnotis. Sekali lagi, kita harus hati-hati.

Kemudian, bukan hanya soal hipnotis, tapi ini juga harus menjadi pelajaran bagi siapapun yang tinggal sendirian di rumah. Jangan lupa menutup pintu pagar dan mengunci pintu rumah. Sebab, biasanya para penjahat itu tidak datang sekonyong-konyong ke rumah calon korbannya. Ia sudah lebih dulu mengamati peluang. Makanya, ia datang tepat pada saat rumah sedang sepi. Banyak kejahatan terjadi pada pagi hari, yakni kala si nyonya atau si penjaga rumah yang sedang sibuk beres-beres sendirian, saat itulah penjahat datang.

Berpengalaman pada kejadian yang menimpa ibu muda di Lhoksukon itu, maka para peminta sumbangan untuk apapun jangan berkecil hati jika banyak warga tak akan membuka pintu rumah atau enggan melayani. Bukan mereka tak mau menyumbang, tapi mereka menghindari kejahatan.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help