SerambiIndonesia/

Selintas Kisah Sabang di Mata Tokoh Perintis Pers Adinegoro

MENGISI perayaan 100 tahun (1917-2017) Balai Pustaka, pemerintah menerbitkan ulang kisah perjalanan sastrawan

Selintas Kisah Sabang di Mata Tokoh Perintis Pers Adinegoro
SERAMBINEWS.COM/NURUL HAYATI
Gua Sarang Sabang 

MENGISI perayaan 100 tahun (1917-2017) Balai Pustaka, pemerintah menerbitkan ulang kisah perjalanan sastrawan dan wartawan pribumi ke Eropa dalam Buku “Adinegoro, Melawat ke Barat.” Dalam buku itu diceritakan ia berlayar menumpang Tambora, kapal mesin berbahan bakar batubara pada1926.

Kisah perjalanan, sejak keberangkatan, sampai kepulangannya kembali ke Tanah Air itulah yang dilaporkan Adinegoro, dan dimuat berkala dalam majalah Panji Postaka, milik Balai Pustaka. Secara utuh, Adinegoro, yang juga adik seayah tokoh nasional Muhammad Yamin, menerbitkan dua kisahnya “Melawat ke Barat.”

Tapi yang dibagikan oleh Balai Pustaka pada HUT ke 100 belum lama ini hanya edisi 1. Jalur pelayaran dari negeri Hindia (sebutan Indonesia masa itu) ke Eropa ditempuh mulai dari Tanjung Priok, Selat Bangka, Singapura, Selat Malaka terus sampai Pelabuhan Belawan Deli, Medan. Dari sini pelayaran dilanjutkan ke Sabang, Aceh. “Asap kapal bergumpal-gumpal ke udara dan membentang jauh sampai ke darat Pulau Weh. Pelabuhan Sabang, tinggallah!” tulis Adinegoro dalam buku setebal 162 halaman itu. Di mata Adinegoro menghabiskan lima halaman untuk menceritakan Sabang.

Di Pulau Sabang, Tambora mengisi bahan bakar batubara. Terdapat tiga foto Sabang yang ditampilkan. Foto Pelabuhan Sabang, perbaikan kapal dan foto sebuah danau Sabang yang diceritakan begitu apik. Di Sabang, Adinegoro menyempatkan diri berkeliling kota menggunakan mobil dengan sopir seorang Jawa. Di darat, Adinegoro menceritakan bertemu dengan hulubalang, mengenakan kopiah seperti “daster pesirah” di Palembang. Ia juga melukiskan bahwa Sabang masa itu tempat mengisi bahan bakar batubara bagi kapal yang melintasi, dan salah satu pelabuhan batubara penting dan besar di Asia Timur.

Kulinya menurut laporan Adinegoro, adalah orang Jawa, Tionghoa, Keling dan orang yang diduganya dari Arab atau Armenia. Pelabuhan Sabang dibangun pada 1887 kemudian berubah pada 1896 dan 1911. Ada sebuah dok kapal dibangun berkapasitas 2.600 ton dan pada 1924 dibangun satu dok lagi dengan kapasitas 5.000 ton untuk memperbaiki kapal rusak. Ia juga menceritakan ada dua rumah sakit di Sabang.

Satu milik maskapai dan satu lagi milik gubernemen. Rumah sakit itu adalah rumah sakit gila. Adinegoro sempat bercakap-cakap dengan dokter di rumah sakit itu. “Peluit tiga berbunyi,” pertanda pelayaran akan dilanjutkan. Para penumpang yang turun ke darat selama kapal memuat batubara, lebih kurang empat jam, harus segera kembali ke kapal. Begitu juga Adinegoro.

Kapal itu siap melanjutkan pelayaran mengarungi Samudera Hindia, menuju Asia Tengah, Afrika, dan Eropa. Di tiap pelabuhan yang disinggahi, Adinegoro melaporkan begitu detil dan rinci. Pengetahuannya begitu luas tentang kota-kota itu. Seperti diketahui Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) menyematkan nama Adinegoro sebagai nama penghargaan atau “award” bagi wartawan Indonesia berprestasi. Adinegoro, bernama asli Djamaluddin bergelar Datuk Maradjo Sutan, lahir 1904 dan meninggal dunia pada 1967.(fikar w.eda)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help