SerambiIndonesia/

TKP Rusak, Inafis Kesulitan

Tim Indonesia Automatic Fingerprints Identification System (Inafis) Polres Aceh Utara kesulitan

TKP Rusak, Inafis Kesulitan
AHMAD UNTUNG SURIANATA, Kapolres Aceh Utara

* Identifikasi Sidik Jari
* Kasus Penyekapan Ibu Muda

LHOKSUKON - Tim Indonesia Automatic Fingerprints Identification System (Inafis) Polres Aceh Utara kesulitan mengidentifikasi sidik jari penyekap dan perampok harta benda Cut Halimatusakdiah (24), Ibu Rumah Tangga (IRT) asal Desa Meunasah Manyang, Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara. Karena Tempat Kejadian Perkara (TKP) di rumah tersebut sudah rusak, seperti barang-barang yang dipegang pelaku sudah dipindahkan, termasuk lakban di tangan, kaki, dan mulut korban, juga sudah disentuh banyak orang.

Diberitakan sebelumnya, Cut Halimatusakdiah disekap seorang pria yang meminta sumbangan kepadanya setelah ia dihipnotis pada Rabu (11/10) sekitar pukul 09.30 WIB. Setelah menyeret dan mengikat korban di dapur dengan menggunakan lakban, pelaku mengobrak-abrik seisi kamar korban, sehingga gelang, kalung, dan cincin seberat 7,5 mayam, plus uang tunai Rp 2,5 juta, berhasil dibawa kabur pelaku.

“Jadi, TKP sudah rusak sehingga kita kesulitan identifikasi sidik jari pelaku. Lakban yang digunakan pelaku untuk mengingkat dua tangan dan dua kaki korban serta di bagian mulut juga sudah banyak jari orang lain. Selain itu, barang-barang yang diobrak-abrik pelaku, juga dipegang orang lain,” kata Kapolres Aceh Utara, AKBP Ahmad Untung Surianata melalui Kapolsek Lhoksukon, AKP Teguh Yano Budi kepada Serambi, Kamis (12/10).

Karena itu, Kapolsek mengimbau kepada warga, bila ada kejadian kriminal seperti itu, agar tidak menyentuh barang-barang yang berada di lokasi kejadian sebelum polisi datang. “Kalau korban butuh pertolongan, korban saja yang ditolong saat itu. Sedangkan barang yanga berada di lokasi kejadian, jangan disentuh dulu,” imbaunya.

Ditambahkan dia, meski TKP sudah rusak, tapi polisi terus berupaya menyelidiki kasus tersebut untuk mengungkap siapa pelakunya. “Berdasarkan keterangan korban, pelaku tidak memberi salam ketika masuk ke rumahnya, sehingga saat itu korban yang berada dalam kamar tersentak melihat ada pria asing di depan pintu kamarnya,” ungkap Kapolsek Lhoksukon.

AKP Teguh menceritakan, pria asing tersebut hanya menyebutkan sepatah kata, “buk sumbangan”, lalu ketika korban membaca surat yang dipegang pelaku, korban mengaku sudah tak sadarkan diri lagi. “Biasanya di rumah korban ada penjaga anaknya, tapi sebelum kejadian tersebut dia minta izin sebentar untuk mengikuti kegiatan di meunasah. Sedangkan suami korban sudah ke pasar berbelanja kebutuhan jualan,” bebernya.

Kapolsek Lhoksukon, AKP Teguh Yano Budi membeberkan, korban pertama kali ditemukan oleh ayahnya, T Abdullah dalam kondisi dua tangan dan dua kaki serta mulut dilakban. “Ayah korban curiga karena mendengar suara ricuh dalam rumah tersebut. Karena korban langsung berontak dalam kondisi tangan dan kaki terikat, sehingga benda yang berada di atas meja dapur berjatuhan,” katanya.

Korban mengaku tidak ingat lagi baju yang dikenakan pelaku, apalagi saat kejadian itu dia tak sadarkan diri. “Di rumah korban tak ada lakban, kemungkinan lakban itu sudah dibawa oleh pelaku sendiri. Pun demikian masih perlu penyelidikan lanjutan untuk mengungkap kasus tersebut,” pungkasnya.(jaf)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help