SerambiIndonesia/

Massa GMPS “Kepung” DPRK

Massa yang menamakan dirinya Gerakan Masyarakat Pecinta Syariat (GMPS) dari beberapa kabupaten kota

Massa GMPS “Kepung” DPRK
MASSA dari Gerakan Masyarakat Pecinta Syariat melancarkan demo ke DPRK Aceh Barat, Jumat (13/10) siang. Massa mendesak kepolisian membebaskan dua anggota Fron Pembela Islam (FPI) yang ditahan polisi. 

* Minta Ketua FPI yang Ditahan Polisi Dibebaskan

MEULABOH - Massa yang menamakan dirinya Gerakan Masyarakat Pecinta Syariat (GMPS) dari beberapa kabupaten kota di Aceh mengepung Kantor DPRK Aceh Barat dalam aksi unjuk rasa, Jumat (13/10). Dalam aksinya massa meminta dua anggota Front Pembela Islam (FPI) yang ditahan Polres Aceh Barat dibebaskan.

Massa bergerak pukul 14.30 WIB seusai shalat Jumat dengan membawa pengeras suara serta sejumlah poster berisikan beberapa tuntutan. Selain meminta aparat membebaskan dua anggota FPI, massa juga menyorot dan meneriakan yel-yel kekecewaan mereka atas kinerja DPRK, aparat Wilayatuh Hisbah dan kepolisian yang selama ini terkesan membiarkan maksiat merajalela di Aceh Barat.

Massa berorasi secara bergantian juga menyuarakan sejumlah tuntutan dan menilai kinerja Pemkab Aceh Barat lemah dalam meneggakkan syariat Islam sehingga memicu reaksi masyarakat. “Padalah apa yang dilakukan kedua warga yang kini ditahan polisi adalah membela Islam dengan memberantas maksiat di Aceh Barat,” teriak orator.

Menurut massa aparat WH dan kepolisian seharusnya bertanggung jawab dalam memberantas kemaksiatan. Namun disayangkan pelanggaran syariat Islam di Aceh Barat masih berlanjut ditandai dengan bebasnya kafe-kafe karaoke buka malam hari.

“Kami akan bertahan di gedung DPRK sebelum kedua warga sebagai pahlawan syariat Islam dibebaskan dari jeratan hukum. Mereka menegakkan hukum Allah di Bumi Serambi Mekah ini, tapi kenapa malah dijerat dan dipenjara,” kata Tgk Khairul didampingi orator lainnya Tgk Wahid.

Menurutnya aksi massa adalah sebagai bentuk membela Islam dari prilaku pelanggaran syariat Islam di Aceh Barat. Hingga pukul 17.30 WIB sore kemarin, massa yang datang dari sejumlah kabupaten di Aceh masih bertahan di gedung dewan. Mereka juga merencanakan melanjutkan aksi ke Polres Aceh Barat.

Sementara itu pihak Polres Aceh Barat menyiagakan mobil water canon mengantisipasi kemungkinan massa akan melanjutkan aksi ke Polres. Kapolres Aceh Barat AKBP Teguh Priyambodo Nugroho yang dikonfirmasi Serambi kemarin belum menanggapi aksi massa karena sedang dinas di luar Aceh.

Sedangkan Kasat Reskrim AKP Fitriadi ditanyai terpisah menegaskan aparat menjalankan tugasnya sesuai aturan yang berlaku setelah adanya laporan korban. Kasus ini masih dalam pengusutan dan berkas perkara juga sudah P-21 (lengkap). “Polisi hanya mengusut saja. Pengadilan yang memutuskan,” katanya.

Seperti diketahui Polres Aceh Barat, Senin 25 September 2017 menahan Ketua Front Pembela Islam (FPI) Nagan Raya Neldi Isnayanto (30) terkait keterlibatannya dalam kasus penertiban Kafe Ratu di Desa Pasar Aceh Meulaboh pada Sabtu malam pekan lalu bersama anggota FPI Aceh Barat yang berakhir anarkis.

Polres Aceh Barat sebelumnya juga telah menetapkan M Riski (20) simpatisan FPI Aceh Barat sebagai tersangka dan menahannya dalam kasus yang sama. Kasus itu berawal sekitar 10 anggota FPI Aceh Barat mendatangi kafe Ratu dengan dalih kafe itu buka sudah larut malam dan terjadilah keributan dan anarkis. Pemilik kafe kemudian melaporkan kasus ini ke polisi.

Sementara itu Wakil Ketua DPRK Aceh Barat Samsi Barmi dan Ketua Komisi D Banta Lidan serta anggota dewan Nurhayati menerima peserta demo. Pihak DPRK menyatakan akan melakukan rapat khusus menyikapi tuntutan massa termasuk akan memanggil pihak kepolisian serta dinas terkait. Banta Lidan menyatakan pihaknya sudah mendengar apa yang menjadi tuntutan massa. “Sudah kami sikapi dan segera kita panggil pihak terkait,” katanya.(riz)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help