Tindak, Penjahat Seks terhadap Pasien RSUZA

SEJAK 6 Oktober lalu, para pengguna media sosial di Aceh ramai membicarakan dugaan kasus pelecehan seksual

Tindak, Penjahat Seks terhadap Pasien RSUZA

SEJAK 6 Oktober lalu, para pengguna media sosial di Aceh ramai membicarakan dugaan kasus pelecehan seksual yang menimpa Mawar (17), bukan nama sebenarnya. Gadis itu adalah salah satu pasien Rumah Sakit Umum dr Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh yang baru saja menjalani operasi.

Dalam keadaan belum sadar total dari pengaruh obat bius, Mawar diduga menjadi objek pelecehan seks seorang pemuda berinisial SR (19). Warga salah satu gampong di Kecamatan Jaya Baru, Banda Aceh,ini berprofesi sebagai tenaga kebersihan (cleaning service) di rumah sakit tipe A milik Pemerintah Aceh itu.

Sebagaimana diberitakan Harian Serambi Indonesia, Minggu kemarin, pemuda SR memanfaatkan kondisi pasien Mawar yang belum sepenuhnya sadar dari pengaruh obat bius pascaoperasi untuk dicabuli. Yakni dengan cara menggerayangi bagian-bagian sensitif tubuh korban, bahkan mengisap bagian empuk di atas perutnya. Aksi SR baru terhenti setelah Mawar berupaya batuk dan tindakannya itu berhasil mengundang datang perawat ke kamarnya. Tapi secepat kilat pula SR menjauh dari kamar Mawar, korbannya. Kamar itu adalah recovery room, sebuah kamar transisi bagi pasien pascaoperasi sebelum dibawa ke kamar inapnya.

Mawar kemudian menceritakan apa yang dialaminya dalam keadaan setengah sadar itu kepada Ayu, makciknya. Pihak keluarga tidak terima, lalu mengadukan kasus ini kepada Direktur RSUZA, dr Fachrul Jamal SpAN. Mengutip keterangan pihak RSUZA dari Ayu, pihak keluarga ternyata diminta berdamai dengan pelaku, dalam artian memaafkan kesalahan pelaku. Pihak RSUZA pun sudah memecat petugas cleaning service yang bertindak tak senonoh itu.

Pertimbangan RRUZA minta kasus ini diselesaikan secara kekeluargaan adalah karena, “Kami sangat memperhatikan psikologis korban jika kasus ini terekspose,” kata dr Nurnikmah, Wakil Direktur Penunjang RSUZA.

Karena pihak keluarga korban tidak mendapatkan keadilan yang mereka perjuangkan di RSUZA, kasus ini kemudian bergulir ke Polda Aceh. Sejak Senin (9/10) lalu, Polda Aceh menangani kasus ini, setelah keluarga korban secara resmi melapor ke SPKT Polda Aceh.

Nah, kasus seperti ini memang jarang terjadi di RSUZA maupun di rumah sakit pelat merah lainnnya di Aceh. Oleh karenanya, agar kasus serupa tidak terulang maka sangatlah relevan kita angkat sebagai contoh kasus yang harus diproses secara hukum.

Damai yang ditawarkan pimpinan RSUZA itu bukan tidak baik. Tapi kita khawatirkan tidak akan menimbulkan efek jera bagi pelaku dan calon pelaku lainnya. Juga tidak menyelesaikan akar masalah, sebab jika kelak hal serupa terulang lagi, apakah manajemen RSUZA akan terus-menerus meminta pihak korban berdamai lagi dengan pelaku? Cara ini sangat tidak menjamin siklus kejahatan serupa tak akan terulang di rumah sakit pendidikan itu.

Oleh karenanya, tindak pelaku dengan cara segera menahannya. Bidik dengan pasal-pasal pencabulan (Pasal 289-296 KUHP). Di sisi lain, Mawar yang belum mencapai usia 18 tahun, otomatis ia dikategorikan sebagai anak. Nah, perbuatan cabul terhadap anak dapat dijerat dengan Pasal 82 UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang diancam dengan pidana penjara paling lama 15 tahun dan paling singkat 3 tahun.

Hukum harus ditegakkan, sistem pengamanan dan penjagaan di recovery room RSUZA itu pun harus diperketat, agar tak jatuh korban berikutnya. Semoga.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved