Cairan Kesemak Bisa Awetkan Ikan

Tim Peneliti Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dipimpin Prof Ir Muhammad Sujana Phd menguji

Cairan Kesemak Bisa Awetkan Ikan
Wakil Ketua DPRA, Sulaiman Abda didampingi Direktur Pemasaran PT Aceh Lampulo Jaya Bahari melihat para pekerja saat sortir ikan yang mau dikalengkan di ruang cold storage PT Aceh Lampulo Jaya Bahari di PPS Lampulo, Banda Aceh, Kamis (8/6).Serambi/Herianto 

* Mulai Diperkenalkan di Aceh

BANDA ACEH - Tim Peneliti Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dipimpin Prof Ir Muhammad Sujana Phd menguji cairan buah kesemak sebagai pengawet ikan dan udang di Laboratorium Perikanan Lampulo, Banda Aceh, Selasa (17/10).

“Pengujian cairan buah kesemak sebagai pengawet ikan itu kita lakukan untuk memperkenalkan produk baru pengawet ikan nonkimia yang berasal dari buah dan tanaman petani lokal,” kata Prof Muhammad Sujana usai melakukan pengujian ini di Laboratorium Perikanan Lampulo, Kamis (17/10).

Sujana menjelaskan cairan mikroba pengawet ikan itu diberi nama atmasya dan sangat aman untuk kesehatan manusia. Bahan bakunya selain cairan buah kesemak yang ada di Aceh Tengah, juga selada air (jombak) dan garam.

Menurut peneliti jebolan Universitas Seattle, Amerika Serikat ini, cairan ini sudah banyak digunakan nelayan dan pedagang di Jakarta serta Bandung untuk mengawetkan ikan hasil tangkapan yang mau dijual, bahkan nelayan di sana tak lagi banyak membawa es batang hingga satu ton lebih ke dalam boatnya, melainkan puluhan batang saja. Kemudian ditambah dengan membawa cairan buah kesemak/atmasya sekitar 10-20 liter.

“Cairan buah kesemak/atmasya, di Jakarta dan Bandung sudah dijual dalam kemasan jeriken kecil ukuran 1-2 liter. Harganya sekitar Rp 130 ribu per jeriken. Karena hasil kerjanya sangat efektif, efisien, dan ikan tetap segar, sehat atau tak ada efek samping, serta tak hilang lezatnya itu, maka nelayan tetap membeli dan menggunakannya,” jelas Suyana seraya mengatakan formalin dan borak pun tak digunakan lagi karena banyak efek sampingnya.

Suyana menambahkan karena ini temuan terbaru, maka Laboratorium Perikanan Lampulo bersama Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh bisa membuat program sosialisasi hal ini tahun depan.

“Jika perlu cari mitra pengusaha lokal yang ingin membangun pabrik cairan buah kesemak itu di tempat produksi bahan bakunya, yaitu di Takengon, Aceh Tengah. Buah kesemak itu cukup banyak di sana, sehingga untuk mendapatkannya tidak sulit dan biaya produksi jadi lebih efisien serta ekonomis,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh, Ir Diauddin didampingi Kepala Laboratorium Lampulo, Saifullah kepada Serambi kemarin, mengatakan pihaknya segera membuat program sosialisasi penggunaan cairan buah kesemak/atmasya sebagai bahan pengawet ikan nonkimia. Program dan kegiatan sosialisasi itu, akan mereka usulkan dalam RAPBA 2018.

“Program itu sangat penting dan DKP akan menyosialisasikan kepada penyuluh perikanan pada Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota bersama nelayan dan pedagang ikan. Tujuannya agar mereka tak lagi menggunakan bahan pengawet dari bahan kimia yang bisa membahayakan kesehatan manusia, seperti formalin, borak, serta lainnya. (her)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved