Opini

Drama dan Dusta Anak-anak

BEBERAPA waktu lalu beredar media sosial WhatsApp sebuah video tentang seorang anak di sebuah sekolah dasar

Drama dan Dusta Anak-anak
Shutterstock

Oleh Teuku Kemal Fasya

BEBERAPA waktu lalu beredar media sosial WhatsApp sebuah video tentang seorang anak di sebuah sekolah dasar di Jakarta, yang membuat pengakuan tentang upaya penculikan yang gagal. Saya mendapatkan video itu dari seorang adik yang juga guru.

Awalnya, saya melihat video dengan perasaan bening. Namun kemudian saya merasa curiga dan terganggu beberapa hal. Makanya saya hati-hati sekali dan tidak latah men-share video itu ke grup lain. Batin saya, kok kayak cerita sinetron kisah ini.

Si gadis kecil tersebut mengaku menggigit tangan orang yang mau menculiknya, sehingga terlepas dari cengkraman. Ia juga melihat ada dua anak lain di mobil, dengan mulut dilakban dan meronta-ronta bergelenjotan tak berdaya.

Saya hampir saja membagi video itu ke istri saya. Namun tak sampai 24 jam, ada berita dari kepolisian bahwa pengakuan anak SD itu adalah kebohongan alias hoax (http://megapolitan.kompas.com).

Akhirnya, saya sadar bahwa anak-anak itu sedang mengecoh kita, orang dewasa, di media sosial. Mulai pikiran saya mengembara tentang gaya hidup anak-anak SD dari kelas menengah di Jakarta.

Mereka memang lihai berkisah dan “bermain drama”. Saya juga memiliki keponakan yang tinggal di Jakarta. Sikap imutnya kira-kira sama dengan anak SDN Tanjung Duren yang membuat cerita penculikan itu.

Anak-anak urban memang lincah dalam berkata-kata, meskipun sangat rapuh dalam bersosialisasi di dunia nyata. Mereka hampir tidak pernah bergaul dengan anak-anak di sekitarnya. Rekan mereka hanya sepupu-sepupu dan teman di sekolah. Semuanya telah terseleksi, dari kelas menengah ekonomi yang seragam.

Generasi Z
Mereka adalah generasi Z yang cukup progresif dalam kecerdasan linguistik dan gestur. Penyebabnya karena mereka telah terpapar televisi dan gawai sejak dini, sehingga seluruh acara televisi: telenovela, teledrama, kuis, musik, reality show, dan family talkshow sudah lumer dalam indera dan pengetahuan alam bawah sadar mereka. Di sisi lain, mereka hollocaust media sosial dan digital.

Namun di sini ironiknya. Karena seringnya melihat drama dan kepura-puraan, mereka pun terbiasa mempraktikkannya, seperti video yang tersebar itu. Mereka membuat akting seolah-olah telah terjadi penculikan dan itu dianggap lucu-lucuan. Bagi anak-anak kelas menengah yang hidup nyaris terus diproteksi, kisah penculikan hanyalah fiksi.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved