SerambiIndonesia/

Tafakur

Pembenaran

Sesudah ku nanti akan ada pemimpin-pemimpin yang berdusta dan berbuat zalim, siapa saja yang membenarkan

Pembenaran

Oleh: Jarjani Usman

“Sesudah ku nanti akan ada pemimpin-pemimpin yang berdusta dan berbuat zalim, siapa saja yang membenarkan kedustaannya dan membantu kezalimannya, maka ia tidak termasuk golongan dari umatku dan aku juga tidak termasuk darinya dan ia tidak akan datang ke telaga (yang ada di surga)” (HR. Nasa’i).

Uang begitu besar pengaruhnya dalam mendikte cara berperilaku umat manusia. Sehingga tidak mengherankan, karena uang banyak orang berebut, sikut-sikutan untuk mendekati dan bahkan menjilat penguasa harta negara. Yang lebih parah lagi, bukan mencari kebenaran, tetapi membenarkan apa saja kata dan tindakan penguasa, walaupun terhadap yang tidak benar dan zalim.

Sungguh, itu tindakan yang bersifat mencari pembenaran, bukan mencari kebenaran, sehingga dilarang oleh Rasulullah SAW. Dilarang karena ikut membantu kezaliman yang tentunya sangat merugikan orang banyak dan hanya menguntungkan segelintir orang saja. Kenyataannya, tindakan seperti itu ikut menyuburkan ketidak-adilan, yang telah diperangi dalam perjuangan Rasul dan para pewarisnya.

Meskipun dilarang, yang demikian akan muncul lagi akibat kecenderungan sebahagian orang untuk memperturutkan hawa nafsu. Padahal uang yang diperoleh akan habis pada saatnya, namun dosa-dosa akibat melakukan pembenaran terhadap terjadinya ketidak-adilan atau kesewenang-wenangan akan terus berkelanjutan hingga akhirat kelak.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help