SerambiIndonesia/

Salam

Kebakaran Lagi, Kita Panik Lagi

Kebakaran lahan dan hutan (karhutla) kembali terulang di Aceh Barat bahkan cenderung meluas dalam

Kebakaran Lagi, Kita Panik Lagi
SERAMBINEWS.COM/DEDI ISKANDAR
Kebakaran Lahan di Nagan 

Kebakaran lahan dan hutan (karhutla) kembali terulang di Aceh Barat bahkan cenderung meluas dalam tiga hari terakhir. Sampai dua hari lalu, tercatat sebaran kebakaran terjadi dalam 12 kecamatan di daerah tersebut. Bahkan, dua titik api terpantau muncul di Babahrot, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya). Cuaca panas membuat kobaran api semakin leluasa.

Pejabat pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Barat, mengatakan kebakaran itu terjadi di lahan yang pernah terbakar sebelumnya dan beberapa lokasi baru. “Kita sudah memantau titik-titik kebakaran sambil mengerahkan armada pemadam ke lokasi-lokasi yang bisa terjangkau,” katanya.

Kebakaran yang diyakini bersumber dari pembakaran lahan untuk areal perkebunan semakin sulit diatasi apalagi kalau api sudah menjalar ke lahan gambut. Untuk pemadamannya harus dilakukan secara terpadu apalagi kebakaran terjadi pada lokasi yang menyebar.

Yang memprihatinkan, dampak kebakaran sudah mulai mengganggu aktivitas masyarakat termasuk gangguan kesehatan. Sejumlah ruas jalan mulai dikepung kabut asap seperti jalan nasional Meulaboh–Banda Aceh di kawasan Suak Nie dan Jalan Meulaboh-Tutut di kawasan Lapang. Kepulan asap tebal ini terjadi siang dan malam. Banyak warga yang mulai merasakan sesak napas.

Dalam kondisi seperti ini, yang terjadi adalah kepanikan masyarakat. Pertama anak-anak mereka bisa terserang gangguan kesehatan. Dan, kedua seperti biasa sekolah sering diliburkan karena kepulan asap.

Kemudian, kita juga mempertanyakan mengapa karhutla terjadi dalam rentang waktu yang berdekatan, atau setahun bisa dua atau tiga kali. Padahal, sudah jelas penyebabnya adalah ulah para pembakar lahan.

Sudah jelas pula bahwa aparat penegak hukum mendapat tugas dari negara untuk memburu para pembakar lahan dan menghukumnya dengan hukuman yang berat. Apakah karena tugas itu tidak berjalan lantas para pembakar hutan makin berani?

Dan dari beberapa kasus terdahulu, di mana-mana, para pembakar ini ternyata adalah orang-orang upahan. Dengan kenyataan seperti itu, kita tentu berharap ada tindakan tegas dari penegak hukum. Polisi dan penegak hukum lainnya supaya benar-benar dapat mengungkap jejak para pembakar lahan sehingga menemukan siapa sesungguhnya dalang di balik kebakaran lahan ini, dan mendudukkannya di pengadilan.

Selain penegakan hukum terhadap pembakar lahan yang belum berjalan sesuai harapan, pemerintah di daerah juga belum cukup siap menghadapi “bencana” kebakaran itu. Aceh kekurangan personil dan peralatan pemadam untuk menjangkau titik-titik api yang berada jauh di dalam hutan. Padahal, dengan cuaca panas seperti sekarang jalaran apai akan sangat cepat meluas, apalagi di lahan gambut.

Lalu, mengingat kasus ini tetap saja berulang, perlu juga dicari apa tindakan yang perlu diperani masyarakat dalam rangka mencegah aksi para pembakar lahan.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help