Citizen Reporter

Gesitnya Pelajar Aceh di Negeri Cheng Ho

SELAMAT datang di kehidupan baru, semoga betah,” sapa Al-Zuhri, Ketua Perhimpunan Pelajar Aceh (Cakradonya Community)

Gesitnya Pelajar Aceh di Negeri Cheng Ho
MIFTAHURRAHMAH

OLEH MIFTAHURRAHMAH, pelajar asal Peulumat, Aceh Selatan, alumnus Jurusan Pendidikan Fisika UIN Ar-Raniry, melaporkan dari Cina Tengah

“SELAMAT datang di kehidupan baru, semoga betah,” sapa Al-Zuhri, Ketua Perhimpunan Pelajar Aceh (Cakradonya Community) di Kota Wuhan, Cina, menyambut kami saat dimasukkan di grup Wechat untuk pertama kalinya. Medium ini (grup Wwechat) adalah alternatif di mana anak-anak Aceh yang sedang belajar di Kota Wuhan bisa saling berinteraksi satu sama lain, tak sebatas sapa.

Minggu pertama saja kami sudah dikagetkan oleh keaktifan komunitas ini dengan program usungan mereka, Cakradonya Islamic Message yang disingkat CIM. Ini bukan hanya sekadar program biasa karena setiap hari orang-orang akan diberikan tugas bergilir untuk memberikan tausiah kepada penghuni grup berbagi ilmu agama. Terkadang juga penyampaian tausiah ini diselingi diskusi dan tanya jawab.

Sekalipun di Cina, ternyata anak-anak Aceh--sepintas dari apa yang saya analisis melalui grup ini--tidak pernah menaruh perihal agama berjarak dari badan mereka. Agama bak baju perisai yang selalu mereka kenakan ke mana pun kaki mengakar dan napas mendesah. Bahkan semester lalu mereka mengadakan lomba Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ). Juga saat libur kemarin, mereka mengadakan seminar beasiswa di Aceh guna membangkitkan spirit generasi muda Aceh dan mengajarkan tip jitu mendapatkan beasiswa-beasiswa negara asing, bahkan sampai daratan Eropa.

Dalam acara ini turut diundang penerima beasiswa luar negeri lainnya, baik dari Amerika Serikat, Australia, Jerman, Mesir, Prancis dan Turki sebagai pemateri dengan mengangkat tema, “Sekarang Giliran Anda Belajar di Luar Negeri.”

Mungkin masih banyak orang yang belum tahu pergerakan mereka ini dalam usaha membakar semangat generasi Aceh. Setahun yang lalu saja, kata Al-Zuhri dalam pertemuan bulanan, mereka sudah mencetak buku berjudul “Paspor Cina” yang mendapat dukungan dari Soegeng Rahardjo (Duta Besar Indonesia untuk Cina dan Mongolia), M Nasir Jamil (Anggota DPR RI), Farid Wajdi Ibrahim (Rektor UIN Ar-Raniry), dan Dr A Rani Usman (Direktur BKPBM/Badan Koordinasi Pusat Belajar Mandarin Aceh) dengan memberi pengantar isi buku. Tapi dikarenakan alasan biaya dan lainnya sampai kini upaya mereka untuk mempublikasi buku tersebut dalam jumlah banyak masih terkendala.

Kadang niat baik memang agak berliku untuk menemukan haluan. Jika saja ada pihak yang peduli, saya rasa, ini sangat baik untuk mengapresiasi karya mereka demi mengharumkan nama Aceh dengan karya-karya mereka.

Walaupun tidak sehebat penulis kawakan, setidaknya tulisan-tulisan mereka mampu memotivasi dan memberikan informasi--dengan terus aktif komunikasi melalui tulisan--kepada generasi Aceh lainnya.

Sementara saya tergolong baru berada di Cina, yakni baru satu bulan. Tapi berkat mereka penyesuaian diri kami di sini terasa lebih mudah dan cepat tanpa perlu melalui masa-masa culture shock (keterkejutan budaya). Mereka tidak bosan mengingatkan kami agar jangan berjalan seperti siput jika tidak ingin ditinggal oleh bus atau kehilangan waktu berharga.

Awalnya saya menyangka itu hanya candaan atau menakut-nakuti saja, tapi ternyata benar adanya. Di Negeri Cheng Ho ini bus memiliki jam operasi yang sudah ditentukan. Begitu pula dengan supermarket di dalam kampus yang selalu ditutup pukul 10 malam. Kendati di luar masih sangat banyak orang yang ingin belanja, tapi mereka tak peduli jika sudah masuk pukul 10 malam. Saya tak habis pikir ada di dunia ini orang yang menolak rezeki. Tapi itulah realitas adanya, mereka akan berhenti saat waktunya tiba dan akan mulai bekerja kembali saat waktunya tiba.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved