SerambiIndonesia/

Salam

Fatwa: Bakar Kembang Api dan Mercon Haram

Sebuah pabrik mercon dan kembang api Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang, meledajk dan terbakar menewaskan 47

Fatwa: Bakar Kembang Api dan Mercon Haram
Personel Brimob Polda Metro Jaya mengevakuasi jenazah korban kebakaran pabrik kembang api di Kosambi, Tangerang, Banten, Kamis (26/10/2017). Kebakaran yang diduga akibat ledakan pada salah satu tempat pembuatan kembang api yang baru beroperasi dua bulan ini sedikitnya menewaskan 23 orang karyawan dan puluhan karyawan luka bakar.(ANTARA FOTO/MUHAMMAD IQBAL) 

Sebuah pabrik mercon dan kembang api Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang, meledajk dan terbakar menewaskan 47 orang serta melukai puluhan pekerja lainnya, Kamis (26/10) sekitar pukul 10.00 Wib. Puluhan korban tewas ditemukan bertumpuk di belakang gudang.

Saat kejadian, kondisi gerbang terkunci. Untungnya, warga setempat sempat membobol tembok gudang untuk menyelamatkan para karyawan yang terjebak di dalam kompleks pabrik. Api baru berhasil dipadamkan dua jam kemudian.

Di balik kebakaran ini, serikat pekerja mencurigai pemerintah atau pihak berwenang tidak memperhatikan kondisi kerja di dalam pabrik. “Soal K3 (kesehatan dan keselamatan kerja) tidak diperhatikan,” kata Sobirin, Sekretaris Umum Federasi Serikat Buruh Nusantara Tangerang.

Di Aceh sejauh ini memang belum ketahuan adanya produsen mercon dan kembang api, baik rumahan maupun pabrik resmi. Karenanya, posisi kita adalah konsumen kembang api dan petasan. Di daerah yang menjalankan syariat Islam ini, mercon dan kembang api sering muncul pada akhir bulan Ramadhan atau menjelang tahun baru.

Pada bulan Ramadhan, kehadiran mercon dan kembang api ini sangat mengganggu kekusyukan beribadah, terutama tarawih dan tadarrus. Kembang api bukan hanya menebarkan percikan api yang bisa menimbulkan kebakaran, tapi juga menimbulkan suara ledakan yang sangat meresahkan.

Karena kembang api dan petasan demikian meresahkan, beberapa tahun lalu, Majelis Ulama DKI Jakarta menerbitkan fatwa bahwa haram memproduksi serta haram pula membakar mercon dan kembang api. Bunyio fatwanya antara lain adalah, “Membakar, menyalakan atau membunyikan petasan dan kembang api dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri, Tahun Baru, dan Walimah (Resepsi), seperti yang sering dilakukan umat Islam adalah suatu tradisi atau kebiasaan buruk yang sama sekali tidak terdapat dalam ajaran Islam, bahkan merupakan suatu perbuatan haram yang sangat bertentangan dan dilarang ajaran Islam.”

Kemudian, “Membakar, menyalakan atau membunyikan petasan dan kembang api sangat membahayakan jiwa, kesehatan, dan harta benda (rumah, pabrik, dan lain-lain). Padahal agama Islam melarang manusia melakukan tindakan yang dapat membahayakan diri sendiri maupun orang lain.”

Kita tidak tahu apakah Majelis Ulama di Aceh pernah mengeluarkan fatwa demikian atau belum. Yang pasti, setiap kali akan datang musim penjualan petasan dan kembang api, aparat kepolisian selalu mengeluarkan larangang. Akan tetapi, para pedagang petasan, kembang api, lilin, dan terompet tetap saja ramai di tepi jalan, khususnya di kawasan perkotaan. Pertanyaan kita, apakah para pedagang itu sengaja ingin menantang polisi atau mereka tahu larangan dari polisi itu formalitas aja?

Kita ingin menegaskan bahwa membakar kembang api, mercon, dan lilin adalah perbuatan yang bukan saja mubazir, tapi juga sangat mengundang bencana kebakaran dan kematian. Nah?!

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help