SerambiIndonesia/

Mahasiswa Aceh di Malang Tampilkan Tari Kreasi Pada Penutupan Liga Mahasiwa

"Sanggar Cakradonya mengajarkan beberapa tarian di antaranya tari saman, ratoeh jaroe, likoek pulo, rapai geleng, ranup lampuan l, dan laweut,"

Mahasiswa Aceh di Malang Tampilkan Tari Kreasi Pada Penutupan Liga Mahasiwa
ist
Sanggar tari Cakradonya di bawah binaan Ikatan Pelajar Pemuda dan Mahasiswa Aceh (IPPMA) Malang, tampil memukau pada penutupan Liga Mahasiswa 2017 di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, Malang, Sabtu (28/10/2017). 

Laporan Subur Dani | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Sanggar tari Cakradonya di bawah binaan Ikatan Pelajar Pemuda dan Mahasiswa Aceh (IPPMA) Malang, tampil memukau pada penutupan Liga Mahasiswa 2017 di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, Malang, Sabtu (28/10/2017).

Para penari yang berjumlah sembilan orang membawakan tarian Aceh yang telah dikreasikan. Mereka memadukan syair dan gerak tari saman Gayo, liqok pulo, dan juga ratoeh jaroe.

Ketua IPPMA, Fakhrurrazi mengatakan, Sanggar Cakradonya di Malang adalah sanggar tari Aceh yang dibentuk tahun 1995. Nama ini sendiri berasal dari bahasa Aceh yaitu cakra yang berarti lonceng sedangkan donya adalah dunia.

(Baca: Komunitas Saleum Gelar Seminar Tari Kreasi Baru)

"Artinya adalah lonceng dunia. Kita ketahui juga, Cakradonya merupakan sebuah lonceng raksasa hadiah dari kaisar China yang bernama Admiral Cheng Ho pada tahun 1414 M," katanya.

Melalui Sanggar Cakradonya ini diharapkan, mahasiswa Aceh yang tergabung dalam IPPMA Malang bisa selalu menjaga adat budaya dan kesenian Aceh di Kota Malang.

Selain mahasiswa Aceh, Sanggar Cakradonya sendiri sudah memiliki tim didikan di beberapa kampus di Kota Malang, dengan rincian enam tim di Universitas Brawijaya, empat di Universitas UIN Malang, saru tim di Universitas Negeri Malang, dan saru tim di Universitas Muhammadiyah Malang.

"Sanggar Cakradonya mengajarkan beberapa tarian di antaranya tari saman, ratoeh jaroe, likoek pulo, rapai geleng, ranup lampuan l, dan laweut," katanya.

"Dengan keterbatasan alat musik dan peralatan tari yang dimiliki sanggar, Sanggar Cakradonya masih dapat berjalan dengan baik sebagaimana mestinya," pungkas Fakrurrazi. (*)

Penulis: Subur Dani
Editor: Yusmadi
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help