DPR RI: Aceh Minim Investasi

Anggota DPR RI dari Komisi VII yang membidangi kelistrikan dan lingkungan hidup menilai Aceh sangat minim

DPR RI: Aceh Minim Investasi
Tribunnews.com
ILUSTRASI sutet/tower PLN. 

* Penggunaan Listrik Terendah Setelah Bengkulu dan Jambi

BANDA ACEH - Anggota DPR RI dari Komisi VII yang membidangi kelistrikan dan lingkungan hidup menilai Aceh sangat minim investasi. Hal ini terlihat dari penggunaan listrik baru mencapai 385 mega watt (MW) atau terendah di Sumatera setelah Bengkulu 161 MW dan Jambi 332 MW.

Anggota Kunker DPR RI, Syaikul Islam Ali menyampaikan hal ini dalam pertemuan mereka dengan pihak Kementerian ESDM, PLN Sumut, PLN Aceh, Dinas ESDM Aceh, serta pihak lainnya di aula Kantor PLN Aceh, Banda Aceh, Selasa (31/10). “Dibandingkan provinsi tetangga, Sumut yang sudah mencapai 1.872 MW, Aceh jauh tertinggal,” kata Syaikul.

Begitu pun, kata Syaikul, pihak PLN hingga kini belum mampu memenuhi kebutuhan listrik Aceh, sehingga di daerah ini sering pemadaman bergilir. Pasalnya, pembangkit listrik di Aceh, baru menghasilkan 250 MW atau kekurangan setiap hari 135 MW.

“Kekurangan daya listrik di Aceh harus menjadi perhatian serius PLN pembangkit listrik di Sumatera, khususnya Aceh-Sumut. Bagaimana investor mau masuk, kalau sumber daya listrik di Aceh masih defisit atau kekurangan. Untuk kebutuhan masyarakat saja, kekurangannya masih sangat besar atau mencapai 135 MW lagi,” sebut Syaikul.

Sementara itu, pihak PLN juga diminta jangan lagi membangun mesin-mesin pembangkit tenaga listrik bersumber dari bahan bakar minyak atau sejenisnya, seperti solar karena tak efisien dan tidak efektif, bahkan di luar negeri sudah lama tak dipakai lagi. Sedangkan di Indonesia masih menggunakan sehingga subsidi pemerintah untuk hal ini masih sangat besar, di samping juga menimbulkan polusi udara dan kebisingan.

Setidaknya demikian inti peryataan disampaikan Anggota Komisi VII lainnya, Mukhtar Tompo dan Andi Jamaro Dulung. “Karena itu, di Aceh yang selama ini masih ada pembangkit listrik tenaga disel, ketika pembangkit listrik tenaga mesin gas yang akan dibangun di daerah ini pada 2018 dan 2019 beroperasi, mesin pembangkit listrik tenaga disel itu, jangan lagi dioperasikan dan dijadikan besi tua saja. Sumber pembangkit, seperti panas bumi, angin, matahari, air sungai, air laut dan sejenisnya masih cukup banyak di Aceh,” kata Mukhtar.

Mereka juga mempertanyakan kepada GM PLN Aceh, Jefri Rosiadi mengenai jumlah desa atau gampong di Aceh yang sudah dialiri listrik dan yang belum. Begitu juga konsumen yang menerima subsidi listrik dan pemasangan listrik gratis.

GM PLN Aceh, Jefri Rosiadi antara lain mengatakan dari 6.474 gampong di Aceh, hanya 12 gampong lagi yang belum berlistrik, namun ditargetkan tahun depan dan 2019, seluruh desa di Aceh sudah berlistrik. Alasan belum berlistrik hingga kini, kata Jefri salah satunya karena jalan menuju desa tersebut masih sulit, namun pihak Pangdam IM akan membantu membuka jalan darurat, setelah itu akan dilanjutkan pemasangan tiang dan kabel. Sedangkan pelanggan PLN yang menerima tarif listrik subsidi, sebut Jefri mencapai 61 persen dari total 1 juta lebih pelanggan.

Menanggapi pertanyaan pemasangan jaringan listrik gratis, Kepala Dinas ESDM Aceh, Akmal Husen mengatakan program ini tiap tahun dilakukan Pemerintah Aceh menggunakan APBA untuk rumah duafa yang telah dibangun Pemerintah Aceh.

Sementara itu, Direktur Bisnis PT PLN Regional Sumatera, Wiluyo Khusbi Harto mengatakan, di Aceh akan ada pembangunan pembangkit tenaga listrik 48 unit yang tersebar di berbagai daerah. “Setelah PLN membangun pembangkit listrik, kita harapkan Pemerintah Aceh mencari konsumennya, terutama investor. PLN sangat menginginkan penggunaan tenaga listrik baru yang dibangun di daerah ini, digunakan untuk Aceh, bukan dikirim ke luar,” kata Wiluyo. (her)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved