Hutan Babahrot-Terangun Dirambah tak Terkendali

Areal Hutan Produksi Terbatas (HPT) pada lintasan Babahrot, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) menuju

Hutan Babahrot-Terangun Dirambah tak Terkendali
AFP
Taman Nasional Gunung Leuser, dikagumi keindahannya oleh wisatawan lokal maupun mancanegara. 

BLANGPIDIE - Areal Hutan Produksi Terbatas (HPT) pada lintasan Babahrot, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) menuju Terangun, Kabupaten Gayo Lues (Galus), dirambah besar-besaran untuk dijadikan lahan perkebunan. Kegiatan perambahan yang luput dari pengawasan instansi berwenang itu sangat mengancam hutan lindung kawasan rangkaian gunung Bukit Barisan tersebut.

Keterangan diperoleh Serambi, Selasa (31/10), perambahan hutan secara tidak terkendali terutama terjadi pada kawasan setelah jembatan Pucok Krueng Sapi atau Km 17 dari Desa Ie Mirah, Kecamatan Babahrot sampai ke Gunung Tikus atau kaki Ggunung Burnipis, yaitu kawasan perbatasan Kabupaten Abdya dengan Kabupaten Galus. Areal HPT pada kanan kiri jalur sudah ditebang atau dibersihkan untuk dijadikan lahan perkebunan.

Perambahan hutan kawasan tersebut dilakukan masyarakat, dan beberapa pondok kecil sebagai tempat menginap dibangun di lokasi. Selain warga Abdya, juga ada sejumlah warga luar yang membuka lahan dengan cara menebang hutan kawasan tersebut. Sumber-sumber menyebutkan sejumlah pihak tertentu yang berkantong tebal memberi modal kepada masyarakat untuk membuka lahan.

Dilaporkan, di beberapa titik pada kanan kiri jalan setelah jembatan Pucok Krueng Sapi sudah dibuka jalan baru untuk memudahkan kegiatan pembukaan lahan jauh masuk ke dalam dari jalur yang sudah ada. “Bila tidak segera ditertibkan sangat mengancam hutan lindung karena jalan yang baru dibuka mengarah ke kawasan hutan yang dilindungi itu,” kata sebuah sumber.

Tindakan merambah hutan juga mengakibatkan sering terjadi peristiwa tanah longsor yang menutup jalur yang menghubungkan Kabupaten Abdya dengan Kabupaten Gayo Lues. Dalam setiap peristiwa tanah longsor pada musim hujan mengakibatkan arus transportasi antarkabupaten bertetangga itu terputus berhari-hari karena menunggu datang alat berat membersihkan tanah longsor menutup badan jalan.

Kepala UPTD Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah V di Gayo Lues T Kamaruzzaman Syah kepada Serambi, Selasa (31/10) mengakui sudah mendapat informasi tentang kegiatan perambahan HPT pada jalur Babahrot-Terangun, terutama kawasan hutan setelah jembatan Pucok Krueng Sapi, yaitu kawasan masuk Kecamatan Babahrot, Kabupaten Abdya.

Areal HPT tersebut, menurut T Kamaruzzaman Syah tidak boleh ditembang atau dibuka sebagai lahan perkebunan, kecuali memiliki izin. Seperti lahan tersebut dimanfaatkan oleh Kementerian/Dinas Sosial. “Tapi, izin diberikan dengan ketentuan yang harus dilakukan,” katanya.

T Kamaruzzaman Syah memastikan, kegiatan pembukaan lahan perkebunan di kawasan HPT pada lintas Babahrot-Terangun itu dilakukan tanpa izin. T Kamaruzzaman Syah berjanji segera memerintahkan anggotanya turun melihat kondisi HPT kawasan Pucok Krueng Sapi sampai lokasi Gunung Tikus. Sedangkan untuk tindakan penertiban pihaknya segera berkoordinasi dengan Polres Abdya.

Sementara itu Kepala BKPH Blangpidie Syukramizar kepada Serambi kemarin mengatakan siap turun ke lokasi untuk melaksanakan tugas pengawasan. “Selama ini kegiatan pengawasan terkendala karena tidak tersedia sarana transportasi mobil patroli menuju jalur Babahrot-Terangun dengan medan yang berat,” ujarnya.

Dia sebutkan pihaknya hanya memiliki kendaraan roda dua tahun 2007 yang kondisinya ‘sudah sakit’. Sedangkan mobil patroli yang tersedia sebelumnya sudah ditarik ke provinsi. Kendala lain, tidak ada biaya operasional dalam pelaksanaan pengawasan lapangan. Sedangkan personel untuk melaksanakan pengawasan tersedia dalam jumlah yang cukup.(nun)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved