SerambiIndonesia/

Salam

Problem PT SIA, Rumit tapi tidak Boleh Gagal

Macetnya pembangunan pabrik semen PT Semen Indonesia Aceh (SIA) di Laweueng, Pidie, merupakan indikator

Problem PT SIA, Rumit tapi tidak Boleh Gagal
KETUA Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR-RI), Zulkifli Hasan bersama mantan Plt Gubernur Aceh, Azwar Abubakar (kanan) berbicara didampingi Pemimpin Umum Harian Serambi Indonesia, H Sjamsul Kahar (kiri) dalam kunjungan silaturahmi ke Kantor Pusat Harian Serambi Indonesia di Meunasah Manyang PA, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, Senin (30/10). 

Macetnya pembangunan pabrik semen PT Semen Indonesia Aceh (SIA) di Laweueng, Pidie, merupakan indikator negatif bagi iklim investasi Aceh. Makanya, banyak kalangan mendesak Pemerintah Aceh segera bersikap agar investasi bernilai tinggi itu bisa segera dilanjutkan.

Ketua MPR RI, Zulkifli Hasan, mengatakan sukses atau gagalnya pembangunan pabrik semen sangat tergantung dari sikap pemerintah dalam mengawasi atau memediasi setiap persoalan yang mencuat.

Pembangunan pabrik semen PT SIA, katanya, akan menjadi barometer bagi iklim investasi di Aceh. Jika gagal, bisa menjadi preseden buruk bagi Pemerintah Aceh. “PT Semen Indonesia itu kan BUMN. Kalau BUMN saja lari, lampu merah itu, bahaya itu Pak. Itu sinyal yang jelek kepada pemerintah,” katanya.

Terkait persoalan itu, mantan Menpan-RB yang juga mantan gubernur Aceh, Azwar Abubakar juga berharap Gubernur Aceh secepatnya memediasi persoalan yang dihadapi PT SIA. Pemerintah Aceh harus memastikan pabrik semen di Laweueng bisa beroperasi karena itu menjadi cerminan bagi investor lain.

Menanggapi saran-saran banyak kalangan, Irwandi Yysuf menyatakan akan segera mempelajari masalah itu. Ia mengaku belum cukup masukan tentang masalah tersebut. Namun, dari sejumlah laporan yang sudah ia terima, Irwandi mengatakan masalah PT SIA itu sangat rumit.

Dan, karenanya, ia juga belum bisa memberikan kepastian solusinya. “Persoalannya complicated, saya harus duduk dulu dengan berbagai pihak untuk menyelesaikan permsalahan ini. Entah bisa entah tidak, karena masalahnya ini rumit sekali, sangat rumit,” kata Irwandi.

Menurutnya, persoalan yang membelit pabrik semen bukan semata persoalan tanah, namun ada persoalan rumit lainnya yang terjadi. Ia mengaku saat ini sedang melakukan penelitian lebih lanjut agar bisa menyelesaikan berbagai permasalahan. “Ada berbagai hal di belakang ini, ada masalah tanah. Ada kepentingan pabrik semen lain yang akan bersaing, bahkan katanya pabrik semen yang bersaham luar negeri. “Ada tokoh juga yang terlibat,” sebutnya.

Sependapat dengan banyak kalangan, Irwandi juga menyatakan, jika pabrik semen itu gagal, akan mengganggu dan berdampak buruk investasi lain. Ini menjadi baromater bagi para investor lain yang berniat menanam modal di Aceh.

Tentu, kita sebagai warga yang berharap kemajuan Aceh, persoalan yang kini membelit PT SIA harus diselesaikan. Demikian pula dengan masyarakat yang dapat membuktikan tanahnya dirampas, tentu harus diberi ganti rugi. Tidak boleh ada pihak yang dirugikan. Tidak boleh juga ada pihak yang hanya “bermodal dengkul” ingin mendapat keuntungan dari proyek ini.

Dalam beberapa puluh tahun terakhir, kita tidak melihat ada investasi besar dari swasta yang masuk ke daerah ini. Yang sudah bikin MOU memang banyak. Ada MOU investasi bidang kelistrikan, perikanan, tambang, pariwisata, perkebunan, industri, dan lain-lain. Akan tetapi, sejauh belum ada yang berjalan. Investasi yang masuk Aceh hanya dari pemerintah.

Salah satu sebab swasta luar tidak mau masuk ke Aceh bisa jadi karena mereka menganggap daerah ini tidak ramah investasi. Syukurnya, gubernur kita sekarang sangat menyadari itu dan kita berharap Irwandi punya solusi dalam waktu dekat. Aceh harus jadi daerah yang ramah investasi, sebab kita ingin maju dan cepat sejahtera.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help