6 Buruh Tambang Emas Ditangkap

Kepolisian Resor (Polres) Pidie menangkap enam buruh penambang emas saat melakukan penertiban aktivitas

6 Buruh Tambang Emas Ditangkap
FOTO/IST
Satu unit beko melakukan pengerukan tanah bercampur batu untuk mengambil biji emas di tambang emas liar di kawasan hutan Tangse, Pidie.

* Satu Beko di Tangse Diamankan

SIGLI - Kepolisian Resor (Polres) Pidie menangkap enam buruh penambang emas saat melakukan penertiban aktivitas tambang liar menggunakan beko (ekskavator) di hutan kawasan Cot Kuala, Kecamatan Tangse, Pidie, Selasa (31/10) sekira pukul 21.00 WIB. Dalam penangkapan itu polisi yang dibantu dinas terkait juga mengamankan satu unit beko.

Kapolres Pidie, AKBP Andy Nugraha Setiawan Siregar SIK, didampingi Kabag Ops, Kompol Juli Effendi SE, kepada Serambi, Rabu (1/11) mengatakan, penertiban kawasan tambang emas liar menggunakan beko itu didasarkan atas hasil rapat yang digelar di Polda Aceh dengan melibatkan dinas terkait. Dalam rapat itu dibentuklah tim terpadu untuk menindaklanjuti penertiban tambang emas di kawasan hutan Tangse.

Ketika turun ke lapangan, tim terpadu akhirnya mengamankan enam buruh penambang emas yang menggunakan beko di kawasan hutan Cot Kuala, Kecamatan Tangse. Dari enam buruh tersebut, satu orang merupakan operator beko.

Menurut Kapolres, keenam buruh itu diamankan saat mengeruk tanah menggunakan beko. Mereka berasal dari Kabupaten Pidie dan telah diamankan di mapolres setempat.

“Kita belum bisa sebutkan identitas keenam buruh tambang emas yang telah kita amankan itu. Sebab, kasus ini masih dalam proses penyelidikan. Saat ini, tim dari Polda Aceh juga sedang meluncur ke Tangse,” ujarnya.

Polres Pidie, lanjutnya, sangat serius menindak mereka yang melakukan aktivitas tambang liar menggunakan alat berat. Bahkan, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Pidie telah lebih dulu mengimbau warga untuk menghentikan aktivitas tambang liar. Dengan adanya imbauan itu banyak beko yang ditarik dari dalam hutan.

Dikatakan, sebenarnya penegakan hukum dilakukan polisi terhadap penambang emas liar, salah satunya untuk mendorong pemkab dalam menerbitkan peraturan kegiatan perizinan dan lainnya.

Kapolres Pidie menambahkan, polres bisa membuat pos pengamanan di kawasan tambang emas liar demi penegakan hukum guna menertibkan oknum masyarakat yang menambang secara liar.

“Penggunaan merkuri di tambang liar telah dilarang, kita pun akan melakukan penertiban. Forkopimda juga akan mengeluarkan surat imbauan terhadap larangan penggunaan merkuri di tambang ilegal,” demikian Andy.

Anggota DPRK Pidie, Drs Isa Alima, kepada Serambi kemarin menjelaskan bahwa ia memberikan apresiasi tinggi kepada polisi yang telah melakukan penertiban di lokasi tambang emas liar di hutan Tangse. “Aktivitas tambang emas secara tidak beraturan itu merusak ekosistem dan habitat tempat hidup satwa liar dan tumbuhan,” ujarnya.

Menurut Isa Alima, rata-rata masyarakat yang menambang secara liar itu masih awam. “Mereka nekat melakukan penambangan liar karena mereka butuh uang untuk menghidupi keluarganya,” kata Isa Alima.

Ia sarankan, Pemkab Pidie harus menggunakan strategi khusus agar pengambilan batu atau tanah yang mengandung bijih emas itu tetap ramah lingkungan. (naz)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved