Memburu Penambang Liar di Belantara Pidie

TIM terpadu dari Reskrim Polda Aceh, Propam, Denpom, Brimob, Satreskrim Polres Pidie, Dinas ESDM Aceh, Dinas Lingkungan

Memburu Penambang Liar di Belantara Pidie
SERAMBI/TEUKU DEDI ISKANDAR
Kapolres Nagan Raya AKBP Mirwazi (kiri) didampingi Kabag Ops Kompol Burhanuddin (tengah) dan Kasatreskrim AKP Iswar (kanan) melihat dua unit alat berat yang berhasil diamankan dari lokasi galian emas tanpa izin yang diangkut dari kawasan Krueng Cut, Kecamatan Beutong di halaman mapolres setempat di Kompleks Perkantoran Suka Makmue, Kamis (26/1) sore.SERAMBI/TEUKU DEDI ISKANDAR 

TIM terpadu dari Reskrim Polda Aceh, Propam, Denpom, Brimob, Satreskrim Polres Pidie, Dinas ESDM Aceh, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan, KPH Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wil I mengepung lokasi tambang emas ilegal di belantara Pidie, yaitu di kawasan Mane, Tangse, dan Geumpang.

Menurut informasi yang diterima Serambi, operasi penertiban tambang ilegal di kawasan sungai dan hutan lindung Mane, Tangse dan Gempang telah dimulai Satuan Intel Polda Aceh dan Satreskrim Polres Pidie, Selasa (31/10) malam. Dalam operasi itu, ditemukan satu unit beko di Kecamatan Mane yang digunakan untuk penambangan emas secara ilegal. Sedangkan satu unit lagi ditemukan tim terpadu di lokasi penambangan Km 22, Gempang, Pidie dalam kondisi rusak.

Ketua Tim Terpadu Penertiban Penambangan Ilegal, Ridwan mengatakan, tim dibagi empat kelompok. Kelompok satu menyisir lokasi penambangan di pinggiran sungai Geumpang (Km 18), kelompok dua menyisir aliran sungai (Km 19(, kelompok tiga menyisir Km 20, dan kelompok empat menyisir Km 21.

Untuk kelompok dua dan tiga, operasinya dimulai Kamis (2/11) pukul 07.00 sampai 18.00 WIB. Sedangkan kelompok I, sudah berjalan Rabu sore kemarin.

Pada operasi pertama, tim menemukan lokasi tambang baru yang di dalamnya terdapat satu unit beko dan pompa air yang akan digunakan untuk mencari emas secara ilegal. Tim juga menemukan pondok pekerja tambang. Dari dalam pondok diamankan antara lain minyak solar, parang, kampak, ember, makanan ringan, dan beberapa peralatan kerja lainnya.

Kadis ESDM Aceh, Akmal Husen mengatakan, operasi penertiban tambang terpadu dan hutan lindung yang dilakukan kali ini adalah untuk penindakan. Pelakunya akan diproses sampai P21. Namun menurut Akmal Husen, sampai selesai operasi hari pertama, tim belum menemukan pelaku yang melaksanakan penambangan ilegal dengan alat berat. “Alat beratnya ditemukan, tapi operatornya tidak ada di lokasi,” demikian Akmal Husen.(her)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help