SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

Selingkuhan dalam Genggaman

BEBERAPA waktu lalu, terhadap warga pengguna media sosial (medsos) yang sudah liar, Presiden Joko Widodo (Jokowi)

Selingkuhan dalam Genggaman
TRIBUN SUMSEL
Ilustrasi 

(Bijak Menggunakan Medsos)

Oleh Muhammad Yakub Yahya

BEBERAPA waktu lalu, terhadap warga pengguna media sosial (medsos) yang sudah liar, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan agar “bijak gunakan medsos”. Peringatan ini bisa dimaklumi mengingat “perkara besar” tersebut sudah dalam tahap “darurat” Nasional. Korban berjatuhan, sudah cukup, cukup sudah. Semua, sejak pagi, kini bisa diawali dari alat berjaringan dalam genggaman ini, termasuk perselingkuhan, perusak masa depan anak selaku generasi penerus bangsa.

Ada sepenggal kisah lama, saat HP (handphone) belum ada. Seorang murid --yang sebenarnya dia tidak pernah serius mengaji di pondok-- bermasalah dengan pasangannya. Usai perkawinan, dia konsultasi pada gurunya. Dia berkisah, “Saat berkenalan dengan calon istri, seakan di dunia ini, hanya dia wanita tercantik di mataku. Allah hanya menciptakan satu perempuan elok, calon kekasihku.” Kesahnya pada tuan guru, “Saat meminang, seakan ada wanita lain yang sama cantik dengan calon isriku,” keluhnya, dan gurunya mulai geram. “Seusai pernikahan seakan, wanita lain lebih cantik dari pada istriku. Allah menciptakan banyak wanita melebihi cantiknya dari orang rumahku,” bandingnya dengan cengeng.

Dan, bebeberapa lebaran berlalu, pekiknya lagi masih di depan guru, “Seakan semua wanita di dunia cantik, di mataku. Allah menciptakan semua perempuan cantik, kecuali istriku.” Gurunya setengah menghardik mengajarkan, suami `kurang ajar’ ini. “Masalahnya bukan pada istrimu, tapi pada kerakusan nafsu birahimu. Jika kamu syukuri dengan kebersahajaan, kemolekan istrimu, niscaya kamu akan temu dan rasakan nikmatnya pernikahan,” kata sang guru. Iblis dan setan kini menjelma merajalela, menampakkan wujudnya lewat smartphone, melalui medsos.

Kasus perceraian
Awal Oktober 2017 lalu, di antara ‘kabar keluarga’ di media cetak, terbaca satu judul begini: “Mayoritas Suami Istri di Depok, Bercerai karena Media Sosial”. Di media online (juga dirilis grouptribunnews.com), ada judul dengan isu terkait. Misalnya ditulis begini, “Dalam 10 Hari, Ada Satu Duda atau Janda di Depok”.

Data Pengadilan Agama (PA) Kota Depok menyebutkan, angka perceraian periode Agustus 2017 di “Kota Petir” itu, mencapai 157 kasus. Tak ada kaitan erat memang, kasus pada bulan tertentu, dengan jadi duda atau jandanya seseorang. Tak ada sinergitas memang, kawin-cerai dengan bintang, zodiak, shio apa kita ini diramal orang. Semua tergantung suasana hati dan `cuaca dapur’ dari pasangan pengantin baru dan keluarga besar `pengantin lama’. Termasuk efek lingkungan, besan, mertua, dan ipar.

Jumlah itu sampel, tapi bisa saja, sama saja, di mana-mana. Juga di tanoh aulia ini. Di Aceh, nanggroe syariat tercinta, jika kita mau mengeja data di Mahkamah Syar’iyah (MS) pun, angka peceraian kian tinggi. Terlebih usai tsunami, yang sebagian kita bukan malah melarutkan relasi yang diajarkan nenek-kakek, tapi malah meretakkan famili yang telah datuk dan buyut kita wariskan.

Tidak ada hubungan linear memang orang kawin dan cerai, dengan siapa gubernur, bupati, dan wali kota. Di Depok, Jabar itu, tersingkap dari data persidangan, mayoritas pasangan yang bercerai diakibatkan timbulnya kecemburuan yang bermula di media sosial (medsos). Panitera PA, Entoh Abdul Fatah ulaskan, sebab gampangnya ‘bilang talak’, gara-gara medsos di tangan ini. Penyakit latah ini, fenomena baru. Sebab, dulunya kasus perceraian lebih banyak dilatarbelakangi perkara ekonomi (Serambi, 1/10/2017).

Di Aceh, beberapa tahun terakhir, data cerai juga menunjukkan kemiripan. Faktor ketidakharmonisan dalam rumah tangga menduduki peringkat satu (42,82%) asbabuth thalaq (penyebab cerai) itu. Selanjutnya, tidak ada tanggung jawab, urutan kedua (38,26%), faktor ekonomi, posisi ketiga (6,1%), dan gangguan pihak ketiga (4,5%). Uniknya, hampir 60% justru istri yang menggugat cerai (fasakh) suami. Hanya 40% suami yang menceraikan. Bahkan secara Nasional, data Ditjen Bimas Kemenag RI, angka ini lebih tinggi, hampir 70% perceraian itu gugat cerai, dan 30% cerai gugat.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help