SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

Amanah  

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu)

Amanah   
Dr. H. Abdul Gani Isa, SH, M.Ag 

Oleh Abdul Gani Isa

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat.” (QS. al-Nisa’: 58)

KATA amanah memiliki kedekatan makna dengan kata amana. Bila amana berarti beriman, percaya, maka lawannya adalah kafir (menolak, membangkang). Sedangkan amanah bermakna wadi’ (titipan) dan lawannya adalah khianat. Dengan demikian amanah adalah melaksanakan semua ketentuan --baik itu perintah dan larangan-- sesuai ketentuan dan petunjuk Allah dan Rasul-Nya (lihat: Luis Ma’luf; al-Munjid, 1905/18).

Jadi orang beriman memiliki sifat amanah, dapat dipercaya, sehingga menjadi hidup terasa aman, dan tidak menimbulkan kecemasan bagi orang lain. Sebaliknya orang suka khianat tidak dapat dipercaya dalam janji, dan ucapannya, ia tidak bisa digolongkan sebagai orang beriman. Bahkan, sifat ini dinisbahkan kepada satu ciri orang munafik; Bila ia berbicara berbohong, bila berjanji tidak ditepati dan bila ia dipercayai berkhianat (HR. Bukhari).

Rasulullah saw juga bersabda, “Amanah itu dapat mendatangkan rezeki, sedangkan khianat itu mendatangkan kemiskinan.” (HR. Dailami). Agaknya perilaku seorang muslim sangat ditentukan oleh konsistensinya menunaikan amanah. Hidup dan kehidupan ini juga adalah amanah Allah. Amanah itu sungguh sangat berat.

Secara alegoris Allah Swt mengungkapkannya dalam Alquran, “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia, sesungguhnya manusia itu amat zalim dan bodoh.” (QS. al-Ahzab: 72).

Beratnya amanah
Ayat tersebut dapat dikatakan bersifat informatif sekaligus preskriptif (sarat dengan pesan dan peringatan). Begitu beratnya amanah, sehingga semua makhluk selain manusia --seperti langit, bumi dan gunung-- menolak tawaran itu, karena mereka merasa khawatir tidak mampu melaksanakannya. Namun ketika amanat itu ditawarkan kepada manusia (Nabi Adam as), ia menerimanya (wahamalah al-insan), padahal manusia itu sungguh zalim dan bodoh.

Ketika itu Adam tanya kepada Allah: Ya Allah apa gunanya amanah itu buat diriku (manusia)? Lalu Allah menjawab: Wahai Adam, bila kamu melaksanakannya dengan baik, taat, dan menjaga amanah tersebut, maka kamu mendapat kemuliaan, keutamaan (pahala), serta memperoleh balasan yaitu (surga) dan sebaliknya bila kamu melakukan kemaksiatan dan tidak menjaga hak-hak amanah tersebut, maka sesungguhnya Allah akan mengazabmu dan menempatkanmu dalam neraka (lihat; Ibn Katsir: 1993/501).

Sementara kata zalim itu sendiri menurut sebagian pendapat mengatakan, “kecenderungan manusia berbuat tirani itu lebih besar”. Adapun penyebab kezaliman minimal ada tiga hal: Pertama, karena kebodohan, seseorang melakukan perbuatan atau amalnya tanpa dilandasi oleh ilmu yang benar dan tidak sejalan dengan syariat-Nya; Kedua, mudah melakukan pelanggaran, artinya semua prilaku dan tindakan kesehariannya berlawanan dengan ketentuan hukum dan norma yang berlaku, dan;

Ketiga, semua sikap dan tindakannya tidak sesuai dengan keadilan, maksudnya setiap keputusan dan kebijakan yang diambil belum mencerminkan keadilan dalam masyarakat, dan jauh dari kemaslahatan umat. Tegasnya penafsiran apapun yang diberikan, “amanat” tetap merupakan kata kunci di dalam memahami fungsi dan misi manusia di muka bumi. Demikian pentingnya kualitas etik ini sebagai satu sifat Rasulullah saw, juga didekatkan dengan amanah, selain siddiq, tabligh, dan fathanah.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help