SerambiIndonesia/

Mihrab

Masjid Taqwa Singkil, Tadinya Gudang Pinjaman

MEMASUKI shalat Dzuhur siang itu, ratusan pelajar SMK Muhammadiyah, langsung memadati masjid untuk shalat

Masjid Taqwa Singkil, Tadinya Gudang Pinjaman
MASJID Taqwa Muhammadiyah di Desa Pasar, Singkil, Aceh Singkil, Rabu (31/10). 

MEMASUKI shalat Dzuhur siang itu, ratusan pelajar SMK Muhammadiyah, langsung memadati masjid untuk shalat berjamah. Selesai itu menyusul siswa SMP Muhammadiyah yang melaksanakan shalat. Walau dipenuhi remaja, namun tak terdengar berisik.

Anak-anak usia pibertas itu tertib mengambil air wudhuk di ruang wudhuk yang langsung terhubung dengan masjid. Yang jelas, Dzuhur di masjid Taqwa Muhammadiyah Kabupaten Aceh Singkil hari itu, sungguh relegi, sejuk dan tenag.

Gudang pinjaman
Masjid Taqwa Muhammadiyah Pasar Singkil, begitulah biasa warga menyebutnya, berdiri megah diantara hiruk pikuk kehidupan warga ibu kota tanah kelahiran Syech Abdurrauf As-Singkili. Mungkin banyak yang tidak menyangka jika hampir seabad lalu pendirian masjid dimulai dari sebuah gudang pinjaman.

Sekitar tahun 1940-an lima tahun sebelum Indonesia merdeka, aktivis Muhmmmadiyah, meminjam gudang Sekolah Guru Niasa untuk dijadikan musala. Gudang tersebut terletak di Desa Pasar, yang kini dikenal sebagai SD 3 Singkil. “SD 3 sekarang, dulu namanya sekolah guru biasa. Di sana ada gudang tidak dipakai lalu dipinjam untuk dijadikan musala,” kata Penasehat Masjid Taqwa Muhammadiyah Kabupaten Aceh Singkil, H Roswin Hakim, Rabu (31/10).

Setelah menempati gudang selama 25 tahun, pada medio 1960 atas inisiatif tokoh-tokoh Muhmmadiyah, didirikan musala secara swadaya di Jalan Syech Abdurrauf Nomor 1 Desa Pasar, Singkil. Lokasi masjid Taqwa Muhammadiyah Aceh Singkil, saat ini berada.

Ketika didirikan ukuranya hanya sekitar 9x12 meter. Terbuat dari kayu pilihan, sehingga tahan hingga puluhan tahun. Seiring perkembangan zaman musala kayu sekitar tahun 2001 diganti beton. Statusnya pun berubah menjadi Masjid Taqwa Muhammadiyah Singkil.

Gempa dan tsunami Aceh-Nias pada 2005 (gempa dan tsumani 2004, Aceh Singkil tidak rusak parah), menyebabkan masjid rusak. “Walau rusak tetap digunakan sebagai tempat ibadah umat serta mensyiarkan ajaran Islam,” kata Ketua Badan Ta’mirul Masjid Taqwa Muhammadiyah Aceh Singkil, Adi Yusman.

Lebih besar
Atas sumbangan jemaah serta bantuan donatur masjid dibangun kembali. Jauh lebih besar dan megah. Bahkan untuk menampung jemaah yang membeludak terutama ketika shalat Jumat, akhirnya bangunan ditambah menjadi dua lantai.

Masjid seluas 720 meter persegi itu didominasi cat berwarna hijau, serasi dengan kebersihannya yang sangat terawat baik. Memasuki bagian dalam karpet warna merah tergelar rapi. Di bagian dalam terasa sejuk walau masjid didisain tertutup rapi. Ini lantaran dilengkapi AC plus kipas angin yang tertempel di tiang-tiang masjid.

Kebersihan masjid yang menyatu dengan kompleks pendidikan Muhammadiyah terjaga baik. Karena setiap saat ada petugas menjaganya. Tidak mengherankan di saat terik matahari banyak warga yang menjadikan teras masjid sebagai tempat istirahat bahkan tertidur pulas.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help