SerambiIndonesia/

Salam

Moral Sipir Sangat Mengkhawatirkan

Kepala Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas II A Banda Aceh, Endang Lintang Hardiman MH, mengakui adanya keterlibatan oknum LP

Moral Sipir Sangat  Mengkhawatirkan
NET
Ilustrasi 

Kepala Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas II A Banda Aceh, Endang Lintang Hardiman MH, mengakui adanya keterlibatan oknum LP yang memberi akses bagi sejumlah narapidana (napi) LP tersebut untuk berada di luar.

Beberapa hari sebelumnya, polisi menangkap seorang napi narkoba berinisial Gun yang sengaja dikeluarkan oknum LP sejak hari Sabtu, 28 Oktober 2017 dari LP Banda Aceh yang berada di Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar.

Oknum-oknum sipir selama ini memberi akses kepada napi untuk bebas ke luar-masuk LP tanpa izin resmi. Endang Lintang berjanji akan mengakhiri praktik tak terpuji itu. Sebagai kepala baru di LP tersebut, Endang ingin berbenah.

Lalu, pada 1 November 2017 dua napi yang terlibat korupsi, yakni Kafrawi D dan Tio Achriyat juga ditangkap personil Polda Aceh ketika berada di luar LP. Endang mengaku kini keduanya sudah berada di LP. Keluarnya kedua napi korupsi itu dari LP disinyalir setelah seorang oknum LP menerima imbalan sejumlah uang.

Ya, dalam beberapa tahun terakhir, moral sipir di hampir semua LP dan rutan memanmg sangat mendapat sorotan dari berbagai kalangan. Ada oknum sipir yang memeras keluarga napi saat berkunjung ke LP atau rutan. Ada juga yang menerima suap dari napi kemudian memberi kelonggaran bagi si napi untuk keluar di waktu-waktu tertentu. Ada oknum sipir menjadi jaringan bisnis narkoba yang dikendalikan oleh oknum napi.

Jadi, keberadaan oknum sipir itu, selain tidak mendukung program pemberantasan korupsi, juga tidak mendukung pembumihangusan peredaran narkoba di daerah ini.

Makanya, Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Komjen Budi Waseso menyarankan agar oknum sipir yang terlibat jaringan narkoba perlu dihukum cincang. Menurut Buwas, hukuman pemecatan tidak membuat oknum lapas kapok menjadi jaringan narkoba di dalam lapas. Budi menyebut oknum lapas yang terlibat jaringan narkoba sebagai pengkhianat bangsa.

“Mereka ini pengkhianat profesi, institusi, bangsa, dan negara. Sebenarnya hukumannya lebih berat dari pelaku. Di Malaysia pengguna dihukum gantung. Kalau pengkhianat, bukan gantung, tapi cincang,” kata Budi Waseso.

Kepala BNN itu pantas geram, para oknum sipir itu selain memberi akses bagi para napi bandar narkoba untuk keluar masuk dari LP, oknum-oknum sipir juga ikut dalam bisnis narkoba. Itu diketahui BNN dari banyak kasus narkoba yang teruingkap. Hampir semuanya dikendalikan dari dalam LP.

Justru itulah, kalangan DPR beberapa waktu menolak rencana pemerintah yang ingin melengkapi petugas penjaga tahanan atau sipir lapas dengan senjata api. Kebijakan tersebut dinilai tidak akan efektif dalam meningkatkan keamanan di lingkungan lapas, sebaliknya justru akan menimbulkan permasalahan baru.

Bila dipersenjatai, dikhawatirkan para sipir itu akan merasa memiliki kekuasaan yang akhirnya bertindak semena-mena terhadap narapidana. Yang harus dilakukan ialah meningkatkan moral dan profesional petugas penjaga di LP-LP dan rutan. Nah?!

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help