SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

Musim Hujan, Waspadai DBD

PENYAKIT Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) merupakan satu dari beberapa penyakit menular

Musim Hujan, Waspadai DBD
SERAMBI/M ANSHAR
Pasien memenuhi ruang IGD RS Meuraxa \Banda Aceh, Jumat (3/2/2017). Sebagian besar pasien yang dirawat menderita Demam Berdarah Dengue (DBD). SERAMBI/M ANSHAR 

Oleh Zulfikar dan Khairul Fajri

PENYAKIT Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) merupakan satu dari beberapa penyakit menular yang menjadi masalah kesehatan terutama di negara berkembang. Sejak muncul pertama kali pada 1968 di Surabaya dan Jakarta, penyakit ini terus meningkat dan menyebar luas hampir di seluruh wilayah terutama di daerah urban. Penyakit ini disebabkan oleh virus, mempunyai empat serotype yang ditularkan oleh serangga diketahui menjadi vektor utama adalah (Diptera: Culicidae) adalah nyamuk Aedes sp (Hadi dan Koesharto, 2006).

Menurut laporan WHO, lebih 2,4 miliar orang dari 7,2 miliar (sekitar 40% dari penduduk dunia) saat ini berisiko terinfeksi virus dengue dan Indonesia masih menduduki urutan tertinggi kasus DBD di Asia Tenggara (WHO 2014). Tahun 2013 dilaporkan Insiden Rate (IR) = 45.85 per 100.000 penduduk dengan Case Fatality Rate (CFR) = 0.77% terjadi peningkatan kasus jika dibandingkan 2012 dengan IR = 37,72 per 100.000 penduduk (Kemenkes RI 2012, 2014).

Kejadian DBD dipengaruhi juga oleh faktor cuaca, cuaca dapat berpengaruh terhadap pola penyakit infeksi karena agen penyakit (virus, bakteri atau parasit lainnya) dan vektor (serangga dan rodensia) bersifat sensitif terhadap suhu, kelembaban dan kondisi lingkungan ambien lainya. Cuaca berpengaruh terhadap penyakit yang berbeda dengan cara yang berbeda. Penyakit yang ditularkan melalui nyamuk seperti DBD, malaria dan demam kuning berhubungan dengan kondisi cuaca yang hangat (Jetten dan Focks, 1997).

Terkait pola cuaca
Beberapa penelitian menunjukkan KLB DBD yang terjadi setiap tahun hampir di seluruh Indonesia, terkait erat dengan pola cuaca. Penyebaran virus diperkirakan mengalami peningkatan pada peralihan musim yang ditandai oleh curah hujan dan suhu udara yang tinggi (Hale et al. 2002). Selain itu lifestyle ikut berperan menambah population at risk, di mana penggunaan barang non-biodegradable seperti plastik yang sangat tinggi. Sehingga berpotensi menjadi penampung air hujan, tempat perkembangbiakan vektor (Bohra dan Andrianasolo, 2001).

Suhu, siklus gonotropik atau perkembangan telur, umur dan proses pencernaan nyamuk dipengaruhi oleh suhu. Kondisi lingkungan dengan suhu 27-300 derajat Celcius dalam kurun waktu yang lama akan mengurangi populasi vektor (Sukowati, 2004). Nyamuk binatang berdarah dingin, maka proses-proses metabolisme dan siklus kehidupannya tergantung pada suhu lingkungan. Jika suhu optimum untuk perkembangannya, secara komulatif semakin banyak, sehingga dapat meningkatkan frekuensi gigitan dan penularan penyakit DBD.

Perkembangan dari telur menjadi dewasa terjadi pada suhu ruangan antara 10-280C. Waktu perkembangan paling cepat 5.5 hari dan paling lambar 121 hari. Perkembangan tercepat terjadi pada suhu 28.70C dan terlama pada suhu ruangan 100C. Waktu perkembangan telur menjadi dewasa menjadi singkat dengan peningkatan suhu udara (Hidayati et al. 2012). Telur Ae. aegypti bewarna hitam menetas secara bersamaan menjadi larva pada suhu optimum 25-300C.

Kelembaban, kelembaban yang tinggi atau kisaran 85% akan memperpanjang umur nyamuk (longevity) dan meningkatkan penyebarannya. Sistem pernapasan nyamuk menggunakan trakea dengan lubang-lubang pada dinding abdomen yang disebut spirakel yang berhubungan langsung dengan udara luar. Jika kelembaban rendah maka spirakel akan terbuka lebar tanpa ada mekanisme yang mengaturnya, sehingga menyebabkan penguapan dalam tubuh nyamuk semakin cepat.

Pada kelembaban kurang dari 60%, umur nyamuk menjadi singkat, sehingga tidak cukup untuk siklus perkembangan patogen dalam tubuh nyamuk itu sendiri (Mc Micheal, 1996). Kelembaban udara memiliki hubungan dengan keberadaan larva nyamuk di wilayah kasus tertinggi. Syarat berkembangbiak Ae. aegypti yaitu pada kelembaban yang kondusif antara 60-80% (Arifin et al. 2013; Yudhastuti dan Vidiyani, 2005).

Menurut Mardihusodo (1988) dalam Yudhastuti dan Vidiyani (2005), bahwa kelembaban udara antara 81.5-89.5% merupakan kelembaban yang optimal untuk proses embriosasi dan ketahanan hidup embrio nyamuk. Kelembaban udara mempengaruhi fluktuasi kasus DBD di Kota Bogor dari 2013 sampai 2014, semakin tinggi kelembaban akan menyebabkan tingginya kasus DBD dengan nilai koefesian sebesar 0.782, yang berarti setiap kenaikan 1 satuan kelambaban akan menaikkan kasus DBD sebesar 0.782 satuan.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help