SerambiIndonesia/

ARC Unsyiah Benahi Kualitas Nilam Aceh

Atsiri (Essential Oil) Research Center (ARC) Unsyiah melalui program kerja sama dengan Korea dan dukungan Kemenristek

ARC Unsyiah Benahi Kualitas Nilam Aceh
SYAIFULLAH MUHAMMAD, Direktur Eksekutif ARC Unsyiah

BANDA ACEH - Atsiri (Essential Oil) Research Center (ARC) Unsyiah melalui program kerja sama dengan Korea dan dukungan Kemenristek Dikti berupaya membangkitkan kembali industri minyak nilam Aceh agar tetap mendapat kepercayaan pasar dunia, terutama industri parfum Eropa.

Direktur Eksekutif ARC Unsyiah, Dr Syaifullah Muhammad ST MEng kepada Serambi, Minggu (5/11) mengatakan pihaknya melakukan inovasi ketel penyulingan nilam yang menghasilkan produk minyak nilam sesuai permintaan industri parfum.

“Teknologi ketel yang kami rancang menghasilkan warna minyak nilam sebagaimana diharapkan industri parfum, yaitu bening keemasan, tidak pekat kehitaman,” kata Syaifullah sambil memperlihatkan foto-foto minyak nilam yang dihasilkan dengan ketel yang dirancang ARC Unsyiah.

Selama ini, kata Syaiful minyak nilam Aceh diolah lebih lanjut oleh pengusaha (eksportir) di Medan sehingga nilai tambah yang relatif besar didapatkan oleh pihak lain. “Dengan dukungan teknologi penyulingan yang baik, kita bisa langsung menjual produksi nilam Aceh ke pasar dunia, tidak harus singgah dulu di Medan,” ujar Syaiful.

Sebagai catatan, katanya, sebelumnya 70 persen kebutuhan nilam dunia berasal dari Aceh, namun sekarang tinggal 10-15 persen karena tataniaga yang tdk terjaga dengan baik. Kebutuhan nilam dunia sekarang beralih ke Sulawesi padahal kualitasnya jauh di bawah nilam Aceh.

Menurutnya, pasar lokal Indonesia juga sangat memerlukan nilam Aceh untuk dicampur dengan minyak nilam dari daerah lain. Itu artinya, kualitas nilam Aceh mampu mendongkrak kualitas minyak nilam lain untuk kepentingan ekspor. Kebutuhan nilam dunia saat ini mencapai 1.500 ton/tahun dan dari jumlah itu 90 persen dipasok Indonesia. “Penghasil nilam terbesar saat ini Sulawesi Tenggara padahal pada era 90-an pasokan terbesar untuk kebutuhan dunia berasal dari Aceh. Insya Allah kita akan kembalikan kejayaan itu,” demikian Syaifullah.

Direktur Eksekutif ARC Unsyiah, Syaifullah Muhammad menyebutkan ada 10 kabupaten di Aceh yang berpotensi untuk budidaya nilam, tapi yang terbesar ada di empat kabupaten yaitu Aceh Jaya, Aceh Barat, Aceh Selatan, dan Gayo Lues.

Mengenai ketel penyulingan nilam rancangan ARC Unsyiah, menurut Syaifullah, untuk tahap awal ini akan ditempatkan di sentra-sentra produksi nilam terbesar yang akan dikelola oleh Koperasi Nilam Aceh (KINA).

Program peningkatan kualitas nilam Aceh didukung oleh Kemenristek Dikti dengan memberikan tiga grant (bantuan) untuk Unsyiah yaitu invosi pengembangan inovasi ketel, cluster inovasi di Aceh Jaya, dan pengembangan produk turunan minyak nilam. Ini sudah berjalan sejak 2017.

Khusus di Aceh Jaya, lanjut Syaiful, pada 2018 akan dikembangkan 200 hektare lahan nilam yang didistribusikan untuk 200 kepala keluarga (KK) di mana masing-masing KK akan mengelola satu hektare.

Sebagai gambaran, lanjutnya, target program yang akan dilaksanakan nantinya setiap satu hektare menghasilkan 150-200 kg minyak nilam kuliatas dunia dengan harga jual jika Rp 400.000 saja per kilogram bisa menghasilkan Rp 80 juta/hektare. “Dikurangi biaya operasional per hektare sekitar Rp 30 juta maka perkiraan keuntungan dalam delapan bulan panen pertama mencapai Rp 50 juta,” kata Syaifullah didampingi Sekda Aceh Jaya, H Mustafa SPd MAP di Banda Aceh, Minggu (5/11).(nas)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help