SerambiIndonesia/

Dinas Perpustakaan-PII Gelar Training Terpadu Nasional

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh bekerja sama dengan Pelajar Islam Indonesia (PII) Aceh, Minggu (5/11)

Dinas Perpustakaan-PII Gelar Training Terpadu Nasional
Zulkifli SPd MPd

BANDA ACEH - Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh bekerja sama dengan Pelajar Islam Indonesia (PII) Aceh, Minggu (5/11), menggelar training terpadu nasional, di aula dinas tersebut, kawasan Lampineung, Banda Aceh. Acara itu dibuka Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, yang diwakili Kadis Perpustakaan dan Kearsipan Aceh, Zulkifli SPd MPd.

Training bertema “Membangun Semangat Literasi Menuju Aceh Carong” tersebut turut dihadiri Rektor UIN Ar Raniry, Prof Dr Farid Wajdi MA, Redaktur Pelaksana Harian Serambi Indonesia, Yarmen Dinamika, Ketua Umum PW PII Aceh, dan Ketua Umum keluarga besar PII wilayah Aceh Tgk Muhammad Yus.

Zulkifli saat membacakan sambutan tertulis Gubernur antara lain mengatakan, kegemaran membaca di kalangan masyarakat Aceh saat ini terus tergerus oleh berbagai fenomena modernisasi. Hal tersebut, menurutnya, berefek pada tingkat kecerdasan dan pendidikan masyarakat. Karena itu, menurut Zulkifli, budaya gemar membaca dan gerakan literasi harus terus digaungkan dan diwujudkan dengan berbagai program, menuju Aceh carong.

“PII hendaknya bisa menjadi mitra Pemerintah Aceh dalam mewujudkan Aceh Carong dan Meuadab. PII juga harus jadi garda terdepan dalam menyelesaiakan masalah yang mendera pelajar di Aceh saat ini seperti pergaulan bebas, narkoba, dan tawuran,” ungkap Zulkifli.

Sebagai dinas yang bertanggung jawab terhadap peningkatan minat baca di Aceh, lanjut Zulkifli, pihaknya terus melakukan berbagai upaya seperti mengkampanyekan minat baca hingga ke pelosok desa dan menambah koleksi buku bacaan, “Acara ini kami dukung juga sebagai salah satu upaya meningkatkan minat baca masyarakat khususnya keluarga besar PII Aceh,” pungkasnya.

Rektor UIN Ar-Raniry, Prof Dr Farid Wajdi MA, yang menjadi pemateri menyampaikan, saat ini masyarakat Aceh sudah tertinggal seribu tahun dari cendikiawan Islam pada masa lalu. Cendikiawan pada masa lalu, menurutnya, menghabiskan waktu untuk membaca dan menulis. Namun, generasi saat ini mengabiskan waktu di warung-warung kopi.

“Bila hal ini terus berlanjut, akan menjadi bom waktu bagi masyarakat dan pemerintah. Karena itu saya berharap para mahasiswa tak lagi menghabiskan waktu di warung kopi. Lakukan hal-hal bermanfaat untuk mengejar ketertinggalan kita seperti membaca dan menulis,” ujarnya.(rel/jal)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help