SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

Saatnya Perbankan Syariah Melirik ‘Akad Salam’

PERBANKAN syariah merupakan satu bentuk aplikasi ekonomi Islam. Ekonomi Islam memiliki prinsip

Saatnya Perbankan Syariah Melirik ‘Akad Salam’
Net
Ilustrasi lowongan pekerjaan perbankan syariah 

Oleh Nery Revisa

PERBANKAN syariah merupakan satu bentuk aplikasi ekonomi Islam. Ekonomi Islam memiliki prinsip dan ciri-ciri: Pertama, kepemilikan multi jenis, mengakui berbagai macam bentuk kepemilikan, baik swasta, negara, ataupun campuran; Kedua, kebebasan bertindak, prinsip ini akan menciptakan mekanisme pasar dalam perekonomian, dan; Ketiga, keadilan sosial, tujuan dari ekonomi Islam adalah untuk menciptakan keadilan sosial sehingga dapat tercapai kesejahteraan masyarakat (Karim, Ekonomi Makro Islami edisi ketiga, 2011).

Pemerintah bertanggung jawab untuk menjamin pemenuhan kebutuhan dasar rakyatnya dan menciptakan keseimbangan sosial antara yang kaya dan yang miskin. Sebenarnya, semua sistem ekonomi mempunyai tujuan yang sama yaitu menciptakan sistem perekonomian yang adil. Sistem yang mewujudkan keadilan adalah sistem yang menjalankan prinsip-prinsip keadilan dan tidak berpihak pada satu atau lebih golongan.

Sistem kapitalis bercita-cita bahwa keadilan dapat ditegakkan berdasarkan mekanisme pasar. Padahal, sistem ini justru mendorong terbentuknya penguasaan pasar oleh golongan-golangan tertentu saja, yaitu pemilik modal, sehingga yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Kemudian, sistem ekonomi sosialis muncul dengan menawarkan keadilan dengan cara masyarakat dapat menikmati barang/jasa dengan sama rasa dan sama rata. Demi terwujudnya keadilan tersebut, maka ada pihak yang berwenang sebagai regulator sistem, yaitu negara.

Suka sama suka
Definisi adil dalam Islam adalah tidak menzalimi dan tidak pula dizalimi (Karim, 2011). Dalam ekonomi Islam, muamalah dilakukan secara suka sama suka tanpa ada paksaan. Sistem ekonomi berdasarkan pada mekanisme pasar, namun tidak semuanya diserahkan pada harga, karena segala penyimpangan yang muncul dalam perekonomian tidak sepenuhnya dapat diselesaikan, maka dibolehkan adanya intervensi pasar ataupun harga. Konsep adil melarang adanya gharar dan maisir. Gharar adalah suatu transaksi yang mengandung ketidakpastian bagi kedua pihak yang melakukan transaksi.

Menurut Ibnu Hazm dalam kitab Al-Muhalla, gharar adalah suatu jual beli di mana si penjual tidak tahu apa yang dijual dan pembeli tidak tahu apa yang dibeli. Ketidakpastian hasil usaha bukanlah gharar karena merupakan konsekuensi rasional dari suatu usaha dan dalam pertukaran harus ada kepastian hak dan kewajiban, sehingga dapat meminimalisir segala jenis penyimpangan. Ketidakpastian tersebut bisa dalam hal kuantitas, kualitas, harga atau waktu penyerahan. Maisir adalah suatu permainan peluang, di mana salah satu pihak harus menanggung beban pihak lain sebagai suatu konsekuensi keuangan akibat hasil dari permainan.

Sistem yang baik tidak dapat berjalan dengan baik apabila individu sebagai pelaku yang menjalankan sistem tersebut tidak berprilaku etis atau berakhlak baik. Akhlak berperan penting dalam mewujudkan suatu sistem yang baik termasuk sistem ekonomi. Sistem ekonomi yang didasarkan pada prinsip-prinsip Islam, sudah seharusnya dijalankan secara etis, karena akhlak merupakan pilar ketiga dalam agama Islam setelah akidah dan syariah. Sabda Nasi saw, “Sesungguhnya aku diutus untuk memperbaiki akhlak manusia.”

Lembaga keuangan internasional yang berdasarkan pada prinsip-prinsip syariah adalah IDB (International Development Bank), yang didirikan berdasarkan deklarasi hasil Konferensi Menteri Keuangan Negara-negara Muslim, di Jeddah, pada Desember 1973. IDB didirikan dengan tujuan mendorong kemajuan pembangunan ekonomi dan sosial negara-negara anggota dan komunitas Muslim secara bersama-sama berdasarkan prinsip-prinsip syariah Islam (Yaya, dkk. Akuntansi Perbankan Syariah Teori dan Praktik Kontemporer, 2009).

Kehadiran IDB menjadi pendorong berdirinya perbankan syariah di setiap negara, termasuk di Indoensia. Menurut UU Perbankan Syariah Indonesia No.21 Tahun 2008, bank syariah adalah bank yang menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan prinsip syariah yang terdiri atas Bank Umum Syariah dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah.

Ada lima aspek yang membedakan bank syariah dengan bank konvensional: (1) filosofi dan nilai-nilai yang mendasari; (2) penyediaan produk dan jasa yang bebas bunga; (3) pembatasan penawaran yang diterima secara Islam; (4) fokus pada tujuan pembangunan dan sosial, dan; (5) tunduk kepada ulasan tambahan oleh Dewan Pengawas Syariah (Haniffa dan Hudaib, 2007).

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help