SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

Politik Artifisial DPRA

APA yang bisa diharapkan dari kinerja Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) periode 2014-2019

Politik Artifisial DPRA
Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf menyambut kunjungan Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon dan rombongan pemantau dana otonomi khusus Aceh, di Kantor Gebernur Aceh, Senin (23/10/2017). 

Oleh Islamuddin

APA yang bisa diharapkan dari kinerja Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) periode 2014-2019 ini? Tampaknya, tak banyak harapan. Mayoritas anggota DPRA kerap merespons hal-hal politik domestik mereka untuk tidak mengatakan urusan privat para anggota dewan dan alpa urusan-urusan yang lebih mempublik. Di masa lalu DPRA lebih sering menjadi lawan loyalis pemerintah Aceh, dibandingkn sinergis pada urusan-urusan kesejahteraan dan pengawasan pembangunan.

Satu yang mencolok sebagai pola politik artifisial adalah proses komunikasi dalam upaya mengadvokasi Pasal 57 dan Pasal 60 UU No.11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA). Semua anggota DPRA, terutama dari Partai Aceh (PA) berlomba-lomba “tarik urat leher” mengungkapkan uneg-uneg kepada Fadli Zon, anggota DPR RI fraksi Gerindra (aceh.tribunnews.com, 24/10/2017), dibandingkan jujur dengan apa yang sudah mereka lakukan dalam upaya mengembalikan ruh pasal-pasal yang sudah hilang dalam regulasi Nasional.

Peristiwa sontak mengingatkan kita beberapa tahun lalu terkait penyelesaian prinsip-prinsip di dalam MoU Helsinki secara terkait masalah bendera Aceh. Bahkan DPRA sudah menyiapkan tiang kedua untuk mengibarkan bendera Aceh. Diplomasi “Gaya Main Ancam” juga terjadi dan hasilnya kita bisa melihat sendiri, sampai saat ini kita belum melihat bendera Aceh secara resmi dikibarkan.

Sudah banyak literatur yang menyatakan dan menjelaskan sejelas-jelasnya bahwa Aceh hampir selalu unggul dalam peperangan fisik, tapi melempem di pertempuran diplomasi. Sampai-sampai Apa Karya, mantan senior Gerakan Aceh Merdeka (GAM) menyatakan kembali anekdot lama “rencong kiri kanan, dompet bisa hilang”, terkait Pasal 57 dan Pasal 60 UUPA. Seharusnya para pihak yang berkepentingan dengan MoU Helsinki dan UUPA, bisa kembali membuka sejarah dan membangun kerangka berpikir baru, terkait upaya penyelesaian UUPA yang belum tuntas.

Diplomasi
Diplomasi menurut Merriam Webster adalah: Pertama, keterampilan menangani masalah tanpa memunculkan rasa permusuhan (a skill in handling affairs without arousing hostility), dan; Kedua, tindakan menangani situasi yang pelik/ganjil dengan diplomasi (act handled the awkward situation with diplomacy). Seni melakukan praktik bernegosiasi negosiator. Seni itu dimiliki oleh para politikus, fasilitator, negarawan, dan manajer.

Problemnya, hal ini terlihat kering dimiliki oleh politikus di DPRA. Alih-alih bersikap merespons secara bijaksana problem atau kritik masyarakat, mereka kerap memunculkan logika kekuasaan secara defensif dan barbar (peuthen dawa). Lihat, misalnya, para politikus matang di tingkat Nasional seperti Akbar Tanjung, Jusuf Kalla, SBY, bahkan Jokowi; apakah kita pernah melihat kemarahan yang mengular di wajah dan kalimat, hingga tidak teratur dan muncul kalimat-kalimat yang konyol? Dalam mengeluarkan ekspresi kemarahan pun ketenangan diri terlihat.

Keterampilan ini tidak dimiliki oleh DPRA 2014-2019 ini. Bahkan dalam banyak hal, bahkan sering menambah keruh air opini publik. Harusnya permainan kata-kata yang dibuat semenarik mungkin untuk menyerang dan membela diri. Dalam sejarah politik yang pernah memerikan dan penuh kerumitan, kita beruntung memiliki sosok seperti Hussein Al Mujahid yang bisa menenangkan seorang tokoh revolusioner Aceh, Abu Daud Beureueh (1889-1987), ketika sosok lain seperti Hasan Saleh dan Hasan Ali sudah mundur.

Di tingkat nasional, kita beruntung juga memiliki tokoh seperti Mohammad Hatta (1902-1980) dan Mr Teuku Mohammad Hasan (1906-1997) yang bisa menenangkan kalangan umat Islam setelah tujuh kata dalam Pancasila dihapus atas desakan masyarakat Indonesia Timur atau mereka pisah dari Republik baru. Itu hanya bisa dimiliki oleh orang yang punya kelapangan hati dan kebesaran jiwa komunikasi dan tentu seorang jenius. Mereka yang menempatkan kepentingan lebih besar dibandingkan ikut arus peucikok ie (mengeruhkan air).

Lihat juga talenta seorang KH Agus Salim (1884-1954). Saat berunding di Belanda, dia soraki dengan jenggot kambing karena memang dia memelihara rambut di dagunya itu. Tetapi dengan enteng pula, KH Agus Salim balik membalas, “Ooo.. Ya. Pantas dari tadi banyak kambing yang mengembek di ruangan ini.” Kedua tokoh besar pada masa lalu itu menggunakan diplomasi gurauannya sebagai serangan tajam bak sengatan lebah kepada musuh bangsanya.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help