SerambiIndonesia/

Cagee: Jangan Asal Ngomong

Anggota DPRA dari Fraksi Partai Aceh (PA), Azhari Cagee, meminta pengamat di Aceh tidak asal ngomong

Cagee: Jangan Asal Ngomong
SERAMBI/SUBUR DANI
Azhari Cagee saat akan menyerahkan bendera bintang bulan kepada Wakil Gubernur Aceh dalam sidang paripurna di gedung DPRA, Selasa (31/10/2017). 

* Tanggapi Pengamat Terkait Bintang Bulan

BANDA ACEH - Anggota DPRA dari Fraksi Partai Aceh (PA), Azhari Cagee, meminta pengamat di Aceh tidak asal ngomong terkait bendera Bintang Bulan yang saat ini masih kontroversi. Ia juga meminta semua pihak di Aceh agar tidak memperumit persoalan dengan komentar-komentar yang tidak mendasar.

Hal itu disampaikan Azhari Cagee kepada Serambi menanggapi komentar pengamat politik dan keamanan Aceh, Aryos Nivada, yang menyebutkan isu bendera Bintang Bulan sengaja dimunculkan jelang pemilihan di Aceh untuk kepentingan partai lokal dalam meraup simpati publik.

“Pengamat jangan asal ngomong soal bendera Bintang Bulan. Saya tak mengerti dengan pola pikir Aryos. Jika demikian komentarnya soal bendera Aceh, dia itu bukan pengamat tapi penggunjing. Komentarnya tak mendasar dan tidak tahu persoalan,” pungkas Azhari Cagee.

Ia tegas membantah jika isu bendera hanya muncul jelang Pilkada atau Pemilu di Aceh. Sebab hampir setiap tahun (setelah Qanun Nomor 3 Tahun 2013 tentang Bendera, Lambang, dan Himne disahkan) anggota DPRA selalu saja menyoal persoalan bendera yang tak kunjung diakui oleh Pemerintah Pusat.

“Sudah empat tahun juga tidak jelas, makanya kita selalu mempertanyakan isu ini. Setiap tahun bendera ini dibahas, kita selalu mempertanyakannya, tapi tak ada tanda apapun dari Pusat. Kita di DPRA yang bertanggung jawab terhadap legislasi akan selalu mempertanyakan ini jika tak kunjung selesai,” tukas Cagee.

Karena itu ia tak terima ketika DPRA menjalankan fungsinya mengawasi legislasi yang dilahirkan di Aceh, justru dianggap untuk kepentingan politik kelompok semata. Menurut polikus Partai Aceh ini, pengamat yang mengatakan ada kepentingan politik di balik bendera, berarti pengamat itu sedang menghalangi selesainya polemik bendera dan menghalangi berkibarnya bendera Aceh.

“Bagi kami, Aryos ngomong seperti itu sudah biasa, karena ada pesanan di belakangnya. Komentarnya mengada-ngada, selalu tendensius dan ini disengaja karena (dia) tak ingin Aceh maju serta bermartabat sesuai dengan UUPA dan amanah MoU,” tuding Cagee.

Persoalan bendera, lanjutnya lagi, juga tak bisa dikaitkan dengan kesejahteraan rakyat, karena dua hal ini tidak berkaitan. Menurut Cagee, bendera dan kesejahteraan adalah dua hal yang berbeda dan bisa berjalan bersamaan.

Sementara itu, pengamat politik dan keamanan Aceh, Aryos Nivada, yang kembali dimintai tanggapannya mengaku tak mau ambil pusing. Ia justru menyebutkan bahwa apa yang telah dia utarakan soal bendera Bintang Bulan adalah sesuai dengan fakta dan apa adanya.

“Saya bicara apa adanya, bahwa bendera itu sudah direspons oleh Mendagri berdasarkan surat keputusan Mendagri. Itu fakta, bahwa desain bendera Aceh harus berpedoman kepada PP 77 /2007 dan mengacu pada keputusan Mendagri,” kata Aryos.

Kemudian soal komentarnya yang menyebutkan isu bendera muncul jelang Pilkada, itu ia utarakan berdasarkan tracking media, di mana memang jelas bahwa trend isu itu tersebut selalu muncul setiap menjelang kontestasi politik di Aceh. “Tapi soal bendera Bintang Bulan itu amanah UUPA itu juga fakta,” sebutnya.

Terakhir ia menyebtukan, apabila sekaliber Azhari Cagee sebagai Anggota DPRA tidak bisa membedakan fakta dan pengunjingan, berarti ia sendiri dan bersama rakyat lainnya dapat menilai kualitas dari Azhari Cagee.

“Tentu hari ini rakyat Aceh dapat menilai sendiri bagaimana kualifikasi anggota dewan yang demikian cerdas menafikan fakta-fakta,” pungkasnya.(dan)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help