SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Makam Cut Meutia Terbengkalai

SEINGAT saya, 17 tahun lalu pernah diselenggarakan satu acara di Rumah Adat Cut Nyak Meutia, seorang pahlawan Aceh

Makam Cut Meutia Terbengkalai
IST
Anggota TNI/Polri bersama masyarakat memperbaiki jembatan menuju Makam Cut Meutia di Kecamatan Pirak Timu, Aceh Utara, Rabu 

Oleh Teuku Zulkhairi

SEINGAT saya, 17 tahun lalu pernah diselenggarakan satu acara di Rumah Adat Cut Nyak Meutia, seorang pahlawan Aceh. Saat itu, selain menghadirkan Muhammad Nazar selaku Ketua Sentral Informasi Referendum Aceh (SIRA), juga dihadiri oleh beberapa tokoh Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang hari ini memegang tampuk kekuasaan di Aceh. Setelah itu, tidak pernah terdengar lagi ada acara besar yang diselenggarakan di rumah itu untuk mengenang perjuangan Cut Nyak Meutia (1870-1910), seorang Pahlawan Nasional asal Aceh (berdasarkan SK Presiden RI No.107/1964).

Atas ide dari Tgk Muslem Attahiry yang disambut antusias dan dukungan penuh cucu-cucu dan cicit Cut Meutia serta para tokoh masyarakat, pada 22 Oktober 2017 lalu diselenggarakanlah haul untuk memperingati seabad lebih syahidnya Pahlawan Nasional asal Aceh itu. Cut Meutia syahid di tangan Belanda pada 24 Oktober 1910 di Alue Kurieng, pelosok Pirak Timu Aceh Utara.

Haul itu berlangsung sangat khidmat dengan menghadirkan Ketua Badan Koodinasi Mubaligh (Bakomubin) Aceh Utara, Tgk Nasruddin sebagai penceramah yang mampu menjelaskan nilai kemuliaan perjuangan Cut Meutia dan pentingnya kita meneruskan perjuangan beliau dalam membela agama dan bangsa. Sebelumnya, pada peringatan HUT TNI 5 Oktober 2017, Kodam Iskandar Muda juga menggelar teatrikal kepahlawanan Cut Meutia, di lapangan Blang Padang, Banda Aceh.

Sangat menyedihkan
Meskipun kegiatan haul berlangsung khidmat, namun kenyataan bahwa makam Cut Meutia belum bisa dilalui untuk diziarahi adalah fakta yang sangat menyedihkan. Ya, hingga hari ini jalan menuju makam Cut Meutia di pelosok Aceh Utara tidak ada yang peduli. Butuh waktu satu hari menuju makam sang syahidah Cut Meutia. Tidak ada jalan yang bisa ditembus dengan kenderaan, kecuali jalan setapak yang juga sangat sulit dilalui. Jadi, jangan heran jika banyak generasi muda Aceh yang tidak mengetahui di mana makam Cut Meutia, pahlawan Nasional yang gugur dalam membela kemuliaan Aceh.

Padahal sudah 72 tahun Indonesia merdeka. Dan sudah tiga periode Gubernur Aceh dan Bupati Aceh Utara dipimpin eks kombatan yang seharusnya lebih paham tentang sejarah Aceh dan para pahlawannya. Sungguh memilukan. Bagaimana kita akan memperkenalkan perjuangan masa lalu, jika sosok pejuang yang syahid di tangan Belanda telah kita lupakan? Padahal, ada begitu banyak pelajaran dan keteladanan dari perjuangan Cut Meutia yang bisa kita petik.

Cut Meutia adalah anak seorang uleebalang, tapi kecintaannya kepada agama dan bangsa membuatnya bersama sang suami bangkit melawan penjajahan Belanda. Bersama sang suami, Teuku Chik Di Tunong, Cut Meutia bergerilya, keluar masuk hutan melawan ekspansi militer Belanda di wilayah Aceh Utara. Sebelum Cut Meutia syahid, telah lebih dulu suaminya juga dihukum mati ditembak oleh Belanda. Bisakah kita memahami untuk apa Cut Meutia melakukan pengorbanan besar ini?

Cut Meutia adalah anak dari Teuku Ben Daud yang di samping uleebalang, beliau juga sosok yang mencintai agama dan negerinya. Teuku Ben Daod mendidik Cut Meutia untuk tidak boleh tunduk dan menyerah pada penjajah kafir Belanda. Cut Meutia dari kecil juga telah dididik pemahaman agama yang lurus serta ilmu berpedang karena cita-cita keluarga ini untuk membela agama dan negerinya.

Dari Cut Meutia, kita bisa mengambil pelajaran tentang keistiqamahan, konsistensi dan tekad yang kuat untuk membela agama dan bangsa dari penjajahan asing. Ia akhirnya bercerai dengan suami pertamanya yang cenderung “pasif” dengan kompeni Belanda. Lalu dengan suami kedua, beliau langsung seiya dan sekata berjuang melawan Belanda. Setelah suami keduanya tersebut syahid, dan kemudian mewasiatkan kepada sahabatnya bernama Pang Nanggroe untuk menikahi Cut Meutia.

Dan, bersama suaminya yang ketiga ini, Cut Meutia masih terus melanjutkan perjuangan melawan Belanda. Suaminya yang ketiga ini juga syahid di jalan Allah dalam membela kemuliaan Aceh dari tangan kafir Belanda. Namun, Cut Meutia tidak pernah berhenti. Darah pejuang mengalir dalam nadinya. Didikan agama dari orang tuanya telah membuat Cut Meutia menjadi seorang pribadi yang salihah dan taat, di mana pikiran beliau selalu terfokus untuk bagaimana mengusir penjajah Belanda.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help