SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

Jasa Para Pahlawan

SETIAP 10 November, bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan, untuk mengenang jasa-jasa mereka

Jasa Para Pahlawan
wikipedia
Laksamana Keumalahayati 

Oleh Abdul Gani Isa

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai jasa para pahlawannya.” (Bung Karno)

SETIAP 10 November, bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan, untuk mengenang jasa-jasa mereka dalam mempertahankan bangsa, negara, dan agama dari segala bentuk kezaliman, penindasan dan penjajahan. Pangeran Diponegoro (1785-1855), Teuku Umar (1854-1899), Cut Nyak Dhien (1848-1908), Imam Bonjol (1722-1864), Sultan Hasanuddin (1631-1670), Pattimura (1783-1817), dan lainnya adalah di antara sederetan nama-nama yang telah dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Nasional.

Kata pahlawan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah orang yang berjuang dengan gagah berani dalam membela kebenaran. Dengan merujuk kata pahlawan yang tercatat dalam KBBI, menjadi pahlawan adalah hal yang memungkinkan bagi setiap orang, di negeri ini. Dilihat dari sudut pandang Islam, karakteristik pahlawan merujuk dan berusmber dari Alquran. Seseorang akan menjadi sosok “pahlawan” dalam kaca mata Islam apabila telah memenuhi kriteria sesuai dengan Alquran.

Dalam Alquran, istilah yang digunakan untuk para pembela kebenaran atau pahlawan adalah rajul. Secara bahasa rajul (jamak; rijaal) berarti seorang laki-laki. Para rijaal ini ada pada setiap zaman, baik di awal Islam maupun sesudahnya, sampai hari ini dengan karakteristik: Pertama, menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah (untuk berjihad di jalan Allah), sebagaimana firman-Nya, “Di antara orang-orang mukmin itu ada rijal, yaitu orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak berubah (janjinya).” (QS. Al-Ahzab: 23).

Kedua, mendukung kebenaran, dan berani mengingatkan penguasa tiran dan otoriter. Allah Swt mengisahkan rijaal pada masa Fir’un melalui firman-Nya, “Dan seorang rajul yang beriman di antara pengikut-pengikut Fir’aun yang menyembunyikan imannya berkata: Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena Dia menyatakan: Tuhanku ialah Allah, padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu. dan jika ia seorang pendusta maka dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu; dan jika ia seorang yang benar niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta.” (QS. Al-Mukmin: 28).

Ketiga, takut kepada Allah dan mengingatkan kaumnya untuk berjihad di jalan Allah. Allah Swt mengisahkan rijaal pada masa Bani Israil melalui firman-Nya, “Berkatalah rajulani (dua rajul) di antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Al-Maidah: 23).

Di samping karakteristik tersebut di atas, juga dijelaskan dalam ayat lain, misalnya para rijaal senantiasa mengingat Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka tidak dilalaikan oleh perniagaan dunia (QS. An-Nur: 37); Menyucikan diri dan memakmurkan masjid (QS. At-Taubah: 108); Memberikan saran yang baik kepada utusan Allah demi tegaknya agama Allah (QS. Al-Qashash: 20). dan; Mengingatkan kaumnya untuk mengikuti agama Allah (QS. Yasin: 20).

Iktibar dan renungan
Dengan merujuk karakteristik rijaal (pahlawan) dalam Alquran di atas. Menjadi pahlawan saat sekarang, tidak mesti ahli menggunakan bambu runcing, tombak dan bayonet seperti pahlawan tempo doeloe. Karena, musuh yang dihadapi saat ini bukan bala tentara kaum penjajah yang tidak berprikemanusiaan. Tapi, musuh kita saat ini adalah kemiskinan, kebodohan, KKN dan berbagai bentuk fahisyah dan kemungkaran lainnya yang membuat rakyat Indonesia “terjajah”.

Umat Islam dan bangsa Indonesia pada umumnya sedang merindukan sosok pahlawan yang tidak lagi berperang dengan bambu runcing. Bukan juga pahlawan yang siap “mati dengan bom bunuh diri” hanya demi sebuah ideologi perjuangan. Apalagi yang hanya pintar beretorika, namun nihil dalam tindakan. Akan tetapi, dinantikan pahlawan yang mempunyai semangat kerja keras (ruhul jihad) untuk mewujudkan Indonesia yang damai, dan bersatu, Indonesia yang adil, dan Indonesia yang sejahtera (hasanah) lahir dan batin (dunia dan akhirat).

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help