SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

Pahlawan Jaman Now?

Sudah seharusnya perjuangan hanya dilandaskan pada niat suci melawan kebatilan (Jenderal Soedirman, 1946)

Pahlawan Jaman Now?
Prajurit Raider Kodam Iskandar Muda menampilkan tari likok pulo usai mengikuti upacara Hari Pahlawan, sekaligus melakukan Kirab Nusantara, di Lapangan Blangpadang, Banda Aceh. SERAMBI/BUDI FATRIA 

Oleh Dian Rubianty

BUNG Tomo (1920-1981) tentu tidak tampil ke depan karena ingin disebut “pahlawan”. Demikian juga para pahlawan bangsa kita yang lain. Mereka tidak berjuang agar digelar pahlawan. Sudah seharusnya perjuangan hanya dilandaskan pada niat suci melawan kebatilan (Jenderal Soedirman, 1946). Inilah yang mengobarkan semangat, menggerakkan para pejuang untuk mencapai cita-cita mulia. Udep sare, mate syahid, begitu para pejuang Aceh meyakini. Sebuah keyakinan yang tentunya jauh melampaui hasrat kemenangan pribadi atau sekadar karena nafsu akan kekuasaan.

Selain kisah Bung Tomo, kisah Jenderal Soedirman juga merupakan teladan kepahlawanan yang mengharukan. Beliau tetap bergerilya, walaupun sakit dan ditandu. Dengan hanya satu paru-paru yang masih berfungsi, beliau terus berjuang. “Yang sakit adalah Soedirman. Bukan Panglima Besar Tentara Indonesia”. Inilah jawaban sang jenderal, ketika Presiden Soekarno memintanya untuk beristirahat (Soedirman Seorang Panglima Seorang Martir, Tempo, 2012).

Kisah kepahlawanan Jenderal Soedirman tak sekadar layak dikagumi. Kisah ini bisa menjadi satu sumber pembelajaran bagi anak-anak bangsa. Walaupun banyak jasanya dan berkedudukan tinggi, beliau tak pernah minta diistimewakan. Jenderal besar ini tetap hidup bersahaja sampai akhir hayatnya. Beliau tidak punya “rekening gendut” yang bisa diwariskan pada anak keturunannya. Bahkan, istri beliau sempat menangis sesunggukan, karena sepeninggal beliau, tak punya uang sama sekali untuk membayar tagihan listrik.

Demikian, kesahajaan menjadi pilihan atas kemewahan. Kesenangan pribadi dikorbankan demi perjuangan. Seperti yang dilakukan oleh Cut Meutia, perempuan pejuang yang meninggalkan kehidupan mewah sebagai bangsawan, untuk berjuang demi kedaulatan Keureuto. Sampai beliau syahid, perempuan ini tidak pernah tunduk pada penjajah kaphe Belanda. Karena beliau tidak mau hidup tanpa martabat dan kehormatan.

Bersalin rupa sesuai jaman
Kisah kepahlawanan, Insya Allah, akan terus memenuhi catatan perjalanan bangsa kita. Bentuknya bisa saja bersalin rupa sesuai jaman. Pahlawan jaman now tentu tak ada lagi berjuang dengan bambu runcing. Sekarang, misalnya, ia berganti dengan raket. Seperti para pemain badminton, banyak yang sudah mengharumkan nama bangsa dengan menjadi juara dunia. Karena perjuangan mereka, lagu kebangsaan Indonesia Raya dinyanyikan di berbagai belahan bumi.

Selain mereka, ada yang bergabung dalam tim sepakbola Nasional. Berjuang untuk bangsa, di tengah berbagai guncangan polemik di pentas sepakbola Tanah Air. Ada juga yang memilih berjuang dengan ilmu yang dimilikinya, mengajar di daerah-daerah terluar dan tertinggal. Pahlawan jaman now berjuang dengan cara yang berbeda. Namun tujuannya satu juga, untuk bangsa Indonesia yang lebih bermartabat dan sejahtera.

Saat ini, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengubah kehidupan manusia jauh di luar bayangan kita. Ada shifting yang luar biasa di berbagai bidang kehidupan. Teknologi yang dikembangkan untuk memudahkan kehidupan manusia, ternyata juga bisa menyebabkan hilangnya sumber penghidupan. Ini yang dialami banyak pelaku ekonomi tradisional. Mereka digilas oleh pebisnis online (Khasali, 2017).

Gambaran di atas hanya satu contoh dari berbagai tantangan baru yang harus kita hadapi. Masih ada pengaruh gelombang globalisasi dan “tsunami” arus informasi. Bila tidak siap, anak-anak kita bisa tergulungkarenanya. Begitulah penjajahan tak lagi dalam bentuk invasi kekuasaan karena ingin menguasai daerah penghasil rempah. Ia berganti menjadi imperialisme modern yang bentuknya begitu beragam. Penjajahan jaman sekarang bentuknya adalah penjajahan intelektual, kebodohan, kemiskinan dan banyak lagi. Karenanya Indonesia tetap butuh pahlawan yang berjuang sesuai jaman.

Alhamdulillah, kita masih menemukan banyak anak bangsa yang ikhlas mengabdi. Mereka berkorban meninggalkan hidup serba mudah, berjuang untuk kemajuan pendidikan anak bangsa di daerah-daerah terpencil. Merekalah pahlawan Indonesia hari ini. Ada pula olahragawan yang kehidupannya cukup sederhana. Namun kesulitan finansial yang mereka hadapi tak menyurutkan semangat. Mereka berusaha tampil maksimal ketika bertanding atas nama bangsa. Para olahragawan ini adalah pejuang bangsa.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help