SerambiIndonesia/

Hari Pahlawan

Saat Sultanah Hendak Pulang ke Aceh, Ia tak Tahu Harus Bermalam Dimana Lagi

Sultanah Putroe adalah ahli waris dari Laksamana Keumalahayati sekaligus sebagai pewaris utama Kesultanan Aceh.

Saat Sultanah Hendak Pulang ke Aceh, Ia tak Tahu Harus Bermalam Dimana Lagi
SERAMBINEWS.COM/FIKAR W EDA
Sultanah Putroe Safiatuddin Cahaya Nur'alam berdoa usai menerima plakat dan piagam gelar Pahlawan Nasional atas nama Almarhumah Laksamana Keumalahayati dari Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, dalam satu upacara penganugerahan gelar pahlawan di Istana Negara, Jakarta, Kamis (9/11/2017). 

Presiden dan Wapres juga menyalami tiga ahli waris penerapan gelar pahlawan lainnya.

Perbincangan dengan Sultanah Putroe berlangsung di salah satu ruangan di Kompleks Istana Negara.

Dalam ruangan itu ada Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, Anggota DPR RI asal Aceh, Teuku Riefky Harsya, penulis buku sejarah Aceh Pocut Haslinda Syahrul, dan beberapa orang lagi, termasuk putri bungsu Sultanah Putroe, bernama Pocut Merah Neneng.

Dialah yang mendampingi dan mendorong kursi roda Bunda Putroe.

"Kami memang tidak punya apa-apa lagi di Aceh," kata Sultanah Putroe.

Ia tidak bersedia bercerita lebih banyak soal aset Kesultanan Aceh itu.

Kesultanan Aceh Darussalam adalah kesultanan yang besar. Pada era yang lain, Kesultanan Aceh pernah menjadi salah satu dari lima kerajaan Islam terbesar di dunia.

Salah seorang sultan termahsyur dan melegenda adalah Sultan Iskandar Muda.

Dalam buku 'Silsilah Raja Islam di Aceh dan Hubungannya dengan dengan raja-raja Islam Nusantara' karangan Pocut Haslinda Syahrul disebutkan, Kesultanan Aceh Darussalam didirikan oleh turunan Linge/Isaq, Gayo, Johansyah atau Merah Johan.

Dialah sultan pertama Kerajaan Aceh Darussalam dengan gelar Sultan Alaidin Johansyah, pada 601-633 H/1203-1235 M.

Halaman
1234
Penulis: Fikar W Eda
Editor: Yusmadi
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help