SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

HMI Meneruskan ‘Mandat Langit’

DI tengah agresi militer Belanda, kemelut politik antara umat Islam, nasionalis dan komunis, serta arah perjalanan bangsa Indonesia

HMI Meneruskan ‘Mandat Langit’
Mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Kutacane, demo Kantor DPRK Agara menuntut tuntaskan kasus operasi tangkap tangan (OTT) pungli perpanjangan kontrak bidan pegawai tidak tetap yang dilakukan oleh dua oknum PNS Dinas Kesehatan Aceh Tenggara, Rabu (10/5). Terlihat Wakil Ketua DPRK Agara, Jamudin Selian dan Waka Polres Agara, Kompol Imam Asfali. SERAMBI /ASNAWI LUWI 

Oleh Ampuh Devayan

DI tengah agresi militer Belanda, kemelut politik antara umat Islam, nasionalis dan komunis, serta arah perjalanan bangsa Indonesia yang galau, Lafran Pane (1922-1991) dengan beberapa mahasiswa Islam di Yogyakarta bangkit mendeklarasikan organisasi perlawanan yang diberi nama Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) pada 5 Februari 1947. Para mahasiswa yang memegang teguh ajaran Islam terpanggil untuk menyikapi problematika kebangsaan dan keumatan. Mereka merapatkan barisan dalam organisasi perlawanan yaitu HMI untuk terlibat secara fisik mengahadapi agresi militer Belanda serta melawan gerakan komunis yang semakin brutal. Massa HMI menjadi salah satu tulang punggung aksi perlawanan itu.

Selanjutnya HMI yang berbasis kaum pelajar juga memberi perlawan secara intelektual dengan aktif menekan ideologi komunis yang berbasis filsafat Karl Marx (1818-1883). Di sinilah HMI mampu menegaskan komitmennya untuk sanantiasa menjaga martabat bangsa dan pembelaan terhadap umat Islam. Komitmen keislaman dan keindonesiaan, bermakna generasi Islam harus memegang teguh ajaran Islam dan mengamalkannya sebagai suatu sistim hidup dalam berbangsa dan bernegara.

Sebagai organisasi besar bergerak secara dinamis, sangat wajar pula kalau HMI telah menghasilkan kader-kader dan alumninya yang mengambil peran strategis di hampir setiap --untuk tidak mengatakan seluruh-- lini kehidupan. Terlebih mengingat perjalanannya dalam sejarah Aceh modern, HMI ikut ambil bagian menurut porsinya.

Independensi HMI
Pada dasarnya kondisi pada masa lalu dan latar belakang didirikannya HMI, merupakan sebuah kondisi yang futuristik, hanya saja kini hadir pada masa dan waktu dengan setting kondisi yang berbeda. Permasalahan tersebut pada gilirannya akan menggiring mata kita pada kondisi bangsa hari ini, yang secara keseluruhan masih dijajah dengan penjajahan gaya baru atau neo-imperialisme. Di sinilah watak independensi HMI baik secara etis maupun organisatoris merupakan karakter dari kepribadian kader dan organisasi harus terwujud di dalam bentuk pola pikir, dan pola laku setiap kader yang cenderung pada kebenaran (hanief).

Dalam skup Aceh, siapa menyangkal bahwa perjalanan kebangkitan pergerakan perlawanan damai mahasiswa dan pemuda Aceh sejak 1998 dimulai dari “markas-markas” HMI. Tak dapat dipungkiri kemunculan berbagai organisasi massa, semisal koalisi aksi tidak terlepas dari “tangan-tangan” anak-anak HMI Aceh.

HMI di Aceh telah mampu membumikan dirinya menjadi bagian integral dalam setiap perjalanan sejarah Aceh. HMI Aceh pulalah yang diyakini banyak pihak ikut andil menjadikan Islam Aceh lebih moderat sehingga isu-isu fundamentalis yang cenderung tidak memberi ruang diskusi dan pemikiran nyaris tidak memiliki tempat di Aceh. Islam Acehlah yang mampu menjadi rahmatan lil ‘alamin dan menjadi teladan berislam bagi dunia luar.

Pasca perjanjian damai Helsinki dengan lahirnya UU No.11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA) yang dinilai masih jauh dari semangat dan kesepakatan damai telah menjadi bagian HMI untuk mengawal dan mengusulkan perubahan. Kecuali itu, sebagai organisasi intelktual HMI memberi peran menjembatani persoalan penyelesaian perdamaian abadi dan percepatan pembangunan HMI juga telah memberi peran memberikan pendidikan politik yang sehat dalam perjalanan demokrasi lokal yang khusus di Aceh.

Sebagai kader yang mendapat “mandate langit” dari sejarah perjuangannya, kiprah dan kontribusi terus dinyalakan dan bergerak seiring zaman. Berbagai tantangan di tengah kehidupan umat dan bangsa, harus mampu disikapi. Seperti system politik yang cenderung bebas nilai dan tumbuhnya sikap-sikap kedaerahaan. Karena hal itu telah memicu keretakan rasa persatuan dan kesatuan kita sebagai bangsa dan umat Islam dan tumbuhnya beragam deviasi sosial.

KAHMI sebagai wadah berhimpunnya alumni HMI harus memberi kontribusi gagasan dan aksi nyata dalam menciptakan babak baru bangsa ini. Sebagai organisasi cendikia yang bernafaskan Islam, KAHMI harus mempersiapkan generasi Islam yang memiliki kemampuan akademik dan kecerdasan politik untuk menjalankan tugasnya di tengah masyarakat dan pentas politik. Terutama memberikan jangkar nilai yang dapat dijadikan sandaran generasi muda Islam dalam penciptaan kreasi kebudayaan dan peradaban sehingga Aceh mampu menapaki jalan pencerahan di masa depan.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help