SerambiIndonesia/

Budayakan (Lagi) Tradisi Mendongeng

Dahulu, kegiatan mendongeng kerap dilakukan para orang tua sebagai pengantar anak tidur

Budayakan (Lagi) Tradisi Mendongeng

Oleh  Dindin Samsudin, Penulis, Peneliti di Balai Bahasa Jawa Barat

Dahulu, kegiatan mendongeng kerap dilakukan para orang tua sebagai pengantar anak tidur. Sebenarnya, mendongeng tidak semata-mata untuk membuat anak cepat tidur, tetapi di balik aktivitas mendongeng banyak sekali manfaat yang dapat dipetik.

Mendongeng dapat menjadi sarana yang sangat baik untuk mendekatkan diri seorang anak dengan orang tuanya secara psikologis. Kak Seto Mulyadi, psikolog anak, mengatakan bahwa mendongeng merupakan jembatan komunikasi yang paling baik antara orang tua dan anak sejak dini. Interaksi langsung antara anak dan orang tuanya ketika mendongeng sangat memengaruhi pembentukan karakter anak menjelang dewasa. Kalangan ahli psikologi lain menyarankan agar orang tua membiasakan mendongeng kepada anak-anaknya untuk mengurangi pengaruh buruk dari media dan alat permainan modern.

Beberapa tokoh ternama sempat merasakan“ritual” mendongeng ini. Ir. Soekarno, Ploklamator RI, dalam salah satu biografinya menuturkan bahwa beliau sangat terinspirasi oleh dongeng ibunyatentang tokoh-tokoh pewayangan, sampai-sampai Soekarno kecil sangat bercita-cita suatu hari nanti dapat menjadi orang besar seperti Arjuna.

Begitu juga Saddam Husein, mantan presidendan pemimpin besar Irak, juga terdidik dalam dongeng. Dalam buku Man and The City yang ditulisnya, Saddam bercerita betapa dirinya sangat terpengaruh oleh cerita-cerita ibunya. Saddam menuturkan bahwa dia kerap dipeluk dan dibelai rambutnya oleh sang ibu sambil diceritakan cerita tentang para leluhur. Berikutnya, Hans Christian Andersen, penulis cerita anak terkemuka abad XIX, melalui autobiografinya The True Story of My Life mengatakan,

“Setiap minggu ayahku membuat gambar-gambar dan menceritakan dongeng-dongeng”. Memang, mendongeng merupakan suatu proses kreatif yang dilakukan orang tua kepadaanaknya dan menjadi tradisi pada masa lalu.

Namun, entah karena kesibukan, kini para orang tua sudah tidak lagi melakukan tradisi ini. Padahal, kegiatan mendongeng merupakan salah satu aktivitas yang menyenangkan bagi anak-anak danorang tua.

Di zaman yang serba praktis dan canggih seperti sekarang, tradisi mendengarkan ongeng sudah tergusur oleh teknologi informasi dan komunikasi yang berkembang begitu pesat. Imbasnya, sepanjang hari anak-anak sudah terbiasamenonton beragam sajian acara TV, mulai dari film, kuis, sinetron, hingga infotainment yang sebenarnya bukan tontonan tepat bagi mereka.

Kalaupun bosan dengan acara TV, mereka justruberganti tontonan dengan memutar beragam CD film yang mereka sukai. Bahkan, permainan play station atau game online juga kini menjadialternatif hiburan yang menarik perhatian anak karena begitu mudahnya media ini didapatkan. Dongeng merupakan salah satu media yangefektif untuk menanamkan berbagai nilai karakter bangsa kepada anak, seperti nilai religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, semangat kebangsaan, cinta tanah air, bersahabat/ komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, atau rasa tanggung jawab.

Dongeng juga dapat menciptakan sisi kepekaan sang anak. Tokoh dan karakter yang diceritakan dalam dongeng akan selalu diingat oleh anak, apakah itu tokoh baik maupun tokoh jahat.Pemilihan dongeng yang isi ceritanya bagus akan menanamkan nilai-nilai moral yang baik bagi perilaku anak. Oleh karena itu, sisipkanlah pesan moraldalam cerita dongeng agar dapat dijadikan contoh atau teladan bagi anak. Satu hal penting, setelah mendongeng sebaiknya pendongeng menjelaskanhal baik yang patut ditiru dan hal buruk yang tidak perlu dicontoh dari cerita yang didongengkan.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help